Ajaran Kekesatriaan Gus Dur dalam Menyikapi Perbedaan Agama

Pada satu waktu, ketika sedang asik ngobrol bersama teman-teman, tiba-tiba terdengar lantunan kidung jemaat dari salah satu rumah umat Kristiani. Spontan, kami yang sedang asik bicara pun memelankan suara. Jika ada yang masih bersuara keras, maka biasanya salah seorang bakal mengingatkan untuk memelankan suaranya, sebab ada umat Kristiani yang sedang ibadah.

Sikap demikian “seakan” sudah mentradisi dalam masyarakat di Desa Pinolosian, Kab. Bolaang Mongondow Selatan. Umat Muslim umumnya memelankan suara saat mengetahui ada umat Kristiani yang sedang ibadah, dan juga sebaliknya. Laku kehidupan ini berangkat dari rasa saling menghormati antarumat beragama. Hal demikian dilakukan bukan karena umat Muslim lemah dan takut, atau sebaliknya, melainkan karena sikap kekesatriaan berupa wujud saling menghormati antarsesama umat beragama.

Sebagaimana Gus Dur, dikutip dari Ahmad Nurcholish dalam Celoteh Gus Dur, menjelaskan, “...menerima perbedaan pendapat (termasuk menghormati umat agama lain)... bukanlah tanda kelemahan, melainkan menunjukkan kekuatan (kekesatriaan).” Saling menghormati meski dalam perbedaan agama merupakan satu bentuk sikap kesatria dalam beragama. Sebaliknya, saling memusuhi dan berpecah-belah menunjukkan sikap yang tidak kesatria.

Satu dari sembilan ajaran utama Gus Dur adalah kekesatriaan. Gus Dur dalam setiap perjuangannya, termasuk dalam beragama, mendasari perbuatan dengan semangat dan sikap kesatria. Sebagaimana Nur Kholik Ridwan dalam Ajaran-ajaran Gus Dur menjelaskan, “Keyakinan Gus Dur dalam memperjuangkan dan menegakkan keadilan, kesetaraan, martabat kemanusiaan dan pembebasan memerlukan keberanian yang tidak hanya sekadar asal wani (berani), tetapi keberanian yang dijiwai oleh semangat seorang kesatria.”

Seorang Muslim hendaknya beragama dengan jiwa kesatria berupaya menegakkan, atau sekurangnya menampilkan, nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan dalam kehidupan. Jadi, bukan beragama dengan marah-marah, memandang pemeluk agama lain rendah, dan tidak menghormati kemanusiaan umat lain. Sebagaimana Nur Kholik Ridwan dalam Ajaran-ajaran Gus Dur menjelaskan, “Gus Dur hadir... mengajarkan bahwa seorang (Muslim dan juga non-Muslim)... harus bersikap kesatria agar tercapai kemaslahatan dan tercipta kebaikan.”

Beragama dengan sikap kesatria, yang saling menghormati, membawa pada alamat kemaslahatan antarumat. Sedangkan, beragama dengan sikap arogan, yang suka emosian, akan membawa pada konflik perpecahan yang jauh dari kebaikan hidup.

Dalam ajaran Gus Dur, ada beberapa hal yang dapat dijadikan patokan kekesatriaan. Di antaranya, sebagaimana dijelaskan Nur Kholik Ridwan dalam Ajaran-ajaran Gus Dur, adalah tidak memandang diri lebih tinggi dari yang lain (kesetaraan sesama manusia), tidak mencari permusuhan, tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan status ketaatan dan agama. Selain itu, Gus Dur juga mengingatkan, sebagaimana dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita, agar seorang Muslim memiliki kesadaran akan perlunya kesabaran, sebab tanpa kesabaran, manusia mudah dipenuhi oleh kekerasan dan permusuhan. Akibatnya yang terjadi hanya konflik yang tak berkesudahan yang merugikan manusia sendiri.

Sikap-sikap yang menandakan kekesatriaan demikian penting dimiliki oleh seorang Muslim, pun juga non-Muslim, dalam beragama. Sehingga, dapat tercipta kehidupan yang saling hormat-menghormati antarsesama umat beragama. Dalam Islam sendiri, sebagaimana Gus Dur dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita, menjelaskan, “...perbedaan diakui namun perpecahan/keterpecah-belahan ditolak oleh agama Islam.”

Gus Dur menggambarkan sikap berdamai dengan perbedaan dalam sebuah humor mengenai dialog antara kiai, pendeta, dan biksu. Adapun ceritanya sebagaimana didasarkan dari Abdur Rahman dalam Gitu Aja Kok Repot: Humor-humor Gus Dur:

Pendeta berkata, “Kami dekat sekali dengan Tuhan. Jadi kami memanggilnya Tuhan Anak, Tuhan Bapak.”

Si Biksu pun menimpali, “Kami juga dekat. Tetapi kami tidak memanggil Bapak, tapi Om.”

“Lha bagaimana dengan Anda, Pak Kiai?’ tanya Pendeta dan Biksu itu.

Pak Kiai menjawab, “Boro-boro dekat, manggilnya aja mesti pake menara (pengeras suara).”

Humor Gus Dur itu menggambarkan dialog tiga pemuka agama yang telah berdamai dengan perbedaan agama mereka. Sikap Pak Kiai yang tidak ngotot sebagai “paling dekat” dengat Tuhan, mengajarkan umat Muslim untuk santai menanggapi perbedaan, sehingga tidak terjebak pada konflik truth claim (klaim kebenaran).

Gus Dur berkata, sebagaimana dikutip dari Abdur Rahman dalam Gitu Aja Kok Repot: Humor-humor Gus Dur, “Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu masalah. Jika sudah bisa menerima perbedaan, maka akan lebih terbuka dalam berdialog.”

Ajaran kekesatriaan Gus Dur tidak sekadar tentang sikap berani dalam bertindak, namun juga mengajarkan untuk saling hormat-menghormati antarsesama umat beragama. Dengan sikap demikian dapat terwujud dan terjaga kerukunan antarumat beragama.

Author

Bagikan tulisan ini: