“Berjumpa” Gus Dur di Makassar: Dari Pelajaran Keberagaman hingga Pentingnya Mendengar

Ketika Suaib Prawono, Kordinator Jaringan Gusdurian wilayah Sulawesi menelpon beberapa waktu yang lalu, dia mengajak saya untuk ikut workshop tentang penguatan kapasitas tokoh agama dalam perspektif keragaman yang diselenggarakan oleh Seknas GUSDURian, saya berpikir sejenak dan kemudian langsung mengiyakan.

Ini suatu kesempatan yang sangat berharga dan sangat menarik, karena topik yang menjadi perbincangan dalam kegiatan tersebut adalah menyikapi keberagaman dalam perspektif keindonesiaan. Tentu saja karena kegiatan ini dilaksanakan oleh Seknas GUSDURian itu akan terkait dengan pemikiran Gus Dur yang sangat menonjolkan simpati kepada keberagaman pemikiran.

Setelah membaca materi acara, para pembicara atau fasilitator yang akan meng-handle kegiatan ini dan peserta yang diundang, saya semakin bersemangat untuk mengikuti kegiatan tersebut. Ini kesempatan yang sangat luar biasa untuk mendalami materi-materi workshop yang disajikan oleh panitia.

Kegiatan ini betul-betul diramu secara runtut dengan pendekatan holistik. Penyampaian materi workshop sangat menekankan aspek proses dalam memecahkan suatu masalah. Di samping materi kegiatan yang menjadi daya tarik kegiatan ini, juga yang tak kalah menarik adalah para peserta yang datang dari berbagai kalangan.

Hal ini juga yang memperkaya kegiatan ini: para peserta datang dari berbagai agama, suku, daerah, dan budaya. Berbinneka tetapi tetap satu. Materi-materi yang disajikan sangat menekankan aspek sisi kemanusiaan terhadap berbagai problem yang terjadi di Indonesia. Dalam kegiatan workshop ini seluruh materi yang sudah diramu oleh panitia sangat terkait dengan pemikiran-pemikiran Gus Dur. Pendekatannya lebih berorientasi pada pemecahan problem sosial dengan visi kemanusiaan. Di sini berbagai persoalan kebangsaan yang dapat menjadi ancaman terhadap eksistensi persatuan, dicoba untuk dikupas secara detail dan memberikan jalan pemikiran terhadap pemecahan persoalan tersebut.

Ada hal yang menarik dari kegiatan ini, terutama materi-materinya yang sangat menyentuh dengan kondisi sosial kekinian, terutama aspek kemanusiaan yang menjadi garda terdepan dari satu materi ke materi yang lain. Visi kemanusiaan adalah visi yang diajarkan oleh seluruh agama. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.

Nabi sebagai pembawa risalah ketuhanan adalah manusia-manusia pilihan Tuhan yang sudah dibekali dengan berbagai mukjizat dengan visi kemanusiaan yang universal. Kalau kita mempelajari secara mendalam sejarah agama-agama, baik agama-agama langit (atau agama Ibrahimik meminjam istilah pakar sosiologi agama asal Iran Ali Syariati), yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam maupun agama-agama yang lahir di bumi seperti Konghucu, dan agama-agama lainnya; semuanya punya orientasi kemanusiaan.

Komunitas GUSDURian merupakan komunitas yang mencoba menerjemahkan pemikiran-pemikiran Gus Dur dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemikiran-pemikiran Gus Dur dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia, sangat punya pengaruh terhadap perkembangan pemikiran Islam di Indonesia.

Dalam konteks keindonesiaan, pemikiran Gus Dur punya pengaruh yang sangat luar biasa, baik dalam perspektif tradisional maupun dalam perspektif modern. Hal ini dikarenakan latar belakang pendidikannya yang berasal dari pendidikan tradisional pesantren. Gus Dur mengembara dari satu pesantren ke pesantren yang lain di wilayah Jawa timur dan Jawa tengah.

Pemahamannya terhadap kitab-kitab klasik yang menjadi rujukan pesantren-pesantren tradisional sangatlah mendalam, seperti fiqh, tafsir, teologi, hadis, ushul fiqh, dan tentu saja ilmu tata bahasa Arab yakni ilmu nahwu sharaf. Di samping itu ia juga sangat akrab dengan ilmu-ilmu modern atau ilmu kemasyarakatan, seperti sosiologi, karena keaktifannya di berbagai organisasi, khususnya di Nahdhatul Ulama.

Salah satu materi yang cukup menarik bagi penulis selama berlangsungnya workshop adalah latihan untuk mendengarkan atau menyimak pembicaraan lawan bicara. Di sini dibutuhkan suatu kesabaran yang sangat tinggi. Ketika mendengarkan lawan bicara, kita disuruh untuk menyimak terus tanpa memotong kata-kata lawan bicara. Di sini kita betul-betul dilatih untuk diam dan mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh lawan bicara.

Awalnya kita selalu ingin memotong pembicaraan lawan bicara karena ada ketidaksesuaian pemahaman lawan bicara dengan pemahaman kita. Di situlah kita akan terpancing untuk memotong pembicaraannya, karena kita punya kebiasaan untuk selalu menyela pembicaraan atau cerita yang disampaikan oleh lawan bicara.

Dalam ilmu psikologi agama inilah yang dimaksud dengan kecerdasan emosional, atau dalam kajian keagamaan adalah kesabaran atau sabar. Dan bentuk kecerdasan yang paling berat adalah kecerdasan emosional. Begitupun dengan mendengarkan atau menyimak pembicaraan orang, dibutuhkan suatu kecerdasan untuk mendengarkan dengan seksama pembicaraan lawan bicara dengan penuh kecerdasan dengan tidak memotong pembicaraan sebelum dia selesai berbicara.

Kalau kita menyimak dialog-dialog di tv dan media sosial, terutama dialog-dialog yang berbau politik, praktis hampir semua tidak ada yang sabar dan selalu ingin menyela atau memotong pembicaraan lawan bicaranya. Mereka tidak menghiraukan moderator yang memandu acara tersebut, sehingga jalannya diskusi berjalan secara amburadul. Di sinilah bagusnya materi yang disajikan.

Di kegiatan workshop yang dilaksanakan oleh Seknas GUSDURian tersebut, seluruh peserta workshop diajak unutk belajar menyimak pembicaraan atau mendengarkan dengan seksama lawan bicara sampai selesai dia berbicara.

Terima kasih kepada Seknas GUSDURian yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Kegiatan yang angat bermanfaat dan telah membuka wawasan keindonesiaan yang bersifat majemuk. Maju terus GUSDURian dalam merawat Indonesia ke depan.

Author

Bagikan tulisan ini: