GUSDURian Pasuruan Diskusikan Tulisan Gus Dur tentang Kekurangan Informasi

Komunitas Gitu Saja Kok Repot (KGSKR) GUSDURian Pasuruan baru saja mengadakan Kajian Gus Dur (KGD) edisi bulan Juni. Kali ini GUSDURian Pasuruan mengkaji tulisan Gus Dur yang berjudul "Kekurangan Informasi". Diskusi dilaksanakan pada hari Rabu (29/6/22) Pukul 19.00 WIB secara daring melalui Zoom Meeting.

Penggerak KGSKR GUSDURian Pasuruan Zahrotun Nisa menyampaikan bahwa tulisan Gus Dur tersebut mengajak kita untuk selalu tabayyun di era keterbukaan informasi.

"Gus Dur menulis, beberapa orang di Jepang memiliki persepsi yang ‘salah’ tentang Islam dan kaum muslimin. Mereka menganggap kaum muslim sebagai kaum penjarah dan teroris. Hal itu terjadi akibat pemberitaan media massa di Jepang tentang peledakan bom di Bali," terangnya saat menjadi moderator kajian.

Senior penggerak GUSDURian Pasuruan Syhabuddin, selaku pemantik kajian, menuturkan bahwa Islam ala Indonesia memiliki nilai-nilai teologis yang dekat dengan nilai-nilai tradisi, kearifan lokal, budaya dan adat istiadat. Ia menyebut Islam ala Indonesia adalah sinergitas antara ajaran Islam dengan adat istiadat lokal di Indonesia.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa era teknologi yang pesat tidak bisa dihindari dan sudah menjadi bagian dari peradaban. Hal-hal yang dapat menghadapi arus teknologi yang sangat pesat saat ini ialah kultur-budaya, akhlak, etika atau adab.

"Tentu menjadi penggerak GUSDURian hari ini seharusnya menjadi da'i-da'i yang menyebarkan nilai-nilai keislaman yang berakhlak," ujar pria yang akrab disapa Gus Syhab ini.

Selain itu, Muallifah selaku Penggerak GUSDURian Yogyakarta menuturkan bahwa kita dituntut mengerti pola keberagaman konteks keterbukaan informasi hari ini.

"Makna kekurangan informasi bagi Gus Dur dalam tulisan ini adalah kita perlu tabayyun dalam berislam di media sosial. Tidak hanya sekedar fatwa, tapi kita perlu mencitrakan perilaku kita dalam bermedia sosial yang mengedepankan akhlak," ungkap Ifa, sapaan akrabnya.

"Dakwah hari ini menunjukkan jalan bahwa Islam itu rahmatan lilalamin, tidak hanya di dunia tapi juga di media sosial," pungkasnya.

Author

Bagikan tulisan ini: