Hikayat Negeri Garuda

Garuda menyebar di seluruh penjuru. Mudah sekali untuk menemukan keberadaan Garuda. Bisa saja Garuda dipigura di dinding, atau monumen, atau juga museum. Sebenarnya, setiap Garuda di dunia manusia saling terhubung. Garuda-Garuda itu adalah pintu menuju sebuah Negeri Garuda. Di Negeri Garuda, terdapat Garuda-Garuda kecil yang dipimpin oleh Garuda Emas. Garuda-Garuda kecil itu bertugas untuk memperbaiki jika ada yang salah dengan perisai.

“Apalagi yang harus kita perbaiki hari ini?” tanya Garuda kecil yang bernama Bhi. Dia memanggul tas kerjanya.

Garuda kecil yang bernama Neka memeriksa buku agendanya, lalu berkata, “Hari ini kita harus memperbaiki rantai yang putus.”

“Lagi? Bukankah baru saja kemarin kita memperbaikinya?” tanya Garuda kecil yang bernama Ika.

Neka membenarkan kacamatanya yang melorot di hidung dan berujar, “Mau bagaimana lagi, semalam dunia manusia gempar lagi. Manusia-manusia itu saling berdebat bintang mana yang paling terang, padahal Tuan Garuda Emas sudah membagikan terangnya sama rata.”

“Dasar manusia. Mereka yang berulah, kita yang bekerja keras,” gerutu Ika.

“Sudahlah, ayo kita bekerja. Rantai itu harus kita sambungkan lagi agar dunia manusia damai kembali,” ujar Bhi.

Ika menutup mulutnya yang sepertinya ingin menggerutu lagi. Dia memanggul tas kerjanya lalu masuk ke ruang kerja. Bhi juga ikut menyusul, sedangkan Neka harus ke Istana Garuda Emas untuk membuat laporan. Negeri Garuda tidak pernah libur.

***

Neka melempar buku agendanya di meja. Ika akan menggerutu lagi sepertinya, benaknya. Benar saja, begitu Ika datang, dia langsung menggerutu.

“Rantai putus lagi? Baru saja kemarin kami memperbaikinya. Lama-lama tanganku yang akan putus,” gerutu Ika.

“Kali ini karena apa lagi, Neka?” tanya Bhi sambil menyesap cangkir kopinya.

“Ada wabah di dunia manusia. Beberapa manusia tidak menggunakan regulasi yang semestinya untuk mendapatkan obat. Sebenarnya, rantainya tidak putus. Hanya ada beberapa retakan saja,” ujar Neka sambil memijat kepalanya.

“Entah itu retakan atau putus, aku harap manusia berhenti berulah. Kapan kita bisa libur kalau mereka berulah terus?” Ika tidak berhenti menggerutu.

“Hei, bagaimana kalau kita mengembara untuk mencari Lem Super? Aku pernah membaca di sebuah buku kalau Lem Super itu bisa kita peroleh dari Pertapa Garuda. Barangkali dengan Lem Super, kita bisa mencegah rantai itu putus,” ujar Bhi.

“Tapi letak masalahnya ada di manusia, bukan rantai,” ujar Ika.

“Mari kita coba. Siapa tahu manusia tidak akan berulah lagi kalau rantainya kita perbaiki dengan Lem Super,” ujar Neka.

Neka membuka buku agendanya lalu mengeluarkan secarik kertas. “Aku dengar Pertapa Garuda tinggal di Monumen Garuda. Kalian harus mengembara ke dunia manusia untuk menemukan Pertapa Garuda. Ini peta untuk kalian,” lanjut Neka.

Ika menerima peta itu. Dia sudah tidak berselera lagi untuk bicara. Bhi dan Neka sudah sepakat, maka dia hanya bisa menurutinya. Mereka lalu pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan bekal. Besok, mereka akan mengembara.

***

Bhi menyandang ranselnya dengan semangat. Dia sudah lama sekali ingin pergi mengembara. Dia bosan berada di ruang kerja terus. Begitu juga dengan Ika. Dia juga terlihat bersemangat. “Akhirnya, kita liburan,” ujarnya berbisik. Dia takut Neka akan mendengarnya dan membatalkan liburannya.

Setelah selesai mengurus keberangkatan Bhi dan Ika, Neka menghampiri mereka. “Kalian bisa keluar dari pintu ini. Pintu ini akan mengarahkan kalian ke Monumen Garuda. Hati-hati, jangan sampai terlihat oleh manusia,” ujar Neka.

Bhi dan Ika mengangguk. Mereka lalu membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Ada lorong hitam di dalamnya. Bhi dan Ika berjalan lurus. Mereka belum pernah ke dunia manusia. Neka bilang mereka bisa keluar jika sudah melihat cahaya putih yang menyilaukan. Benar saja, tak lama kemudian, mereka menemukannya. Bhi dan Ika bergegas.

Begitu keluar, Bhi dan Ika sudah ada di depan Monumen Garuda. Monumen itu besar sekali. Mereka lalu menyusuri Monumen Garuda untuk mencari Pertapa Garuda, tapi mereka tidak menemukan apa pun di sana.

Dengan putus asa, Ika menendang salah satu kaki Garuda. Terdengar suara mengaduh kesakitan. Ika terkejut. Dia bergegas bersujud untuk memohon ampunan.

“Mau apa kalian?” ujar suara yang tidak berwujud itu.

“Apakah Anda Pertapa Garuda? Kami datang untuk memohon bantuan. Kami menginginkan Lem Super. Maukah Pertapa Garuda memberikannya?” ujar Bhi.

“Lem dan rantai itu tidak berarti apa-apa, manusia yang berarti,” ujar suara itu.

“Beliau hebat sekali, bahkan kita belum mengungkapkan untuk apa lem itu,” bisik Ika.

Bhi memohon lagi. “Wahai, Pertapa Garuda, sudilah kiranya Anda memberikan Lem Super. Kami sangat membutuhkannya. Negeri Garuda akan hancur jika dunia manusia tak kunjung damai.”

“Baiklah,” ujarnya setelah lama berdiam diri.

Sebuah botol kaca jatuh di atas tangan Bhi. Dia girang sekali lalu menyimpan botol kaca itu dalam ranselnya. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka kembali ke Negeri Garuda.

***

“Putus lagi?!” Ika berseru tidak percaya. Dia sedang bersantai di teras sambil menikmati senja ketika Bhi dan Neka datang menyampaikan kabar itu. Dia meletakkan cangkir tehnya di meja. Tak berminat lagi dia menyesapnya.

Bhi dan Neka mengatur napas setelah berlari. Neka mengeluarkan buku agendanya. Bhi terlihat memijat kepalanya. Ika masih terdiam.

“Aku tidak tahu ternyata Lem Super tidak mempan. Aku pikir Lem Super akan mencegah rantai itu putus sekalipun manusia berseteru,” ujar Neka.

“Kali ini karena apa lagi, Neka? Sungguh, manusia tidak mengenal lelah. Kita yang lelah,” ujar Ika.

“Manusia tidak saling memanusiakan. Rantai itu tidak akan bertahan lama,” ujar Neka.

Ika memberang. “Sudah aku katakan rantai itu tidak butuh Lem Super. Katakan pada manusia untuk memperbaikinya sendiri!”

Author

Bagikan tulisan ini: