Invictus Indonesia

Tahun 1995 Afrika Selatan dijadwalkan menjadi tuan rumah Kejuaraan Rugbi Dunia. Nelson Mandela baru setahun menjabat presiden setelah berakhirnya era apartheid. Madiba, panggilan kehormatan Nelson Mandela, saat itu menghadapi banyak persoalan: kemiskinan, kriminalitas, stabilitas politik yang masih rentan, dan yang terpenting: polarisasi dan jurang sosial yang tersisa antara kelompok masyarakat kulit putih dan kulit hitam.

Dalam sebuah pertandingan rugbi, Madiba menyaksikan rakyat Afrika Selatan sangat antusias terhadap olahraga tersebut, tetapi masyarakat kulit hitam lebih memilih memberi dukungan kepada kelompok lawan daripada untuk tim nasional mereka sendiri. Ini karena timnas masih didominasi secara eksklusif oleh warga negara kulit putih dan baru beberapa waktu sebelumnya mulai menerima atlet kulit hitam dalam suasana penuh ketegangan mayoritas-minoritas.

Madiba akhirnya memutuskan untuk mendekati timnas agar mereka termotivasi untuk memenangi kejuaraan tersebut walaupun kondisi tim saat itu sangat tidak menjanjikan. Bahkan, demi memotivasi sang kapten dari timnas rugbi Afrika Selatan, The Springboks, yang tentu skeptik dengan target tersebut, Madiba memperkenalkan puisi kesukaannya ”Invictus” karya William Ernest Henley.

Puisi yang menemani Madiba selama 27 tahun di penjara di Robben Island ini berkisah tentang keteguhan jiwa yang merdeka dan tak tertundukkan.

It matters not how strait the gate

How charged with punishments the scroll

I am the master of my fate:

I am the captain of my soul.

Madiba mengajarkan kepada Pienaar, kapten timnas The Springboks, bahwa ketika jiwa sudah berketetapan, fakta apa pun tak akan mampu menggentarkannya. Seperti Gus Dur yang menggariskan: kalau menginginkan perubahan, janganlah tunduk kepada kenyataan, asalkan yakin di jalan yang benar, maka lanjutkan.

Madiba ingin agar timnasnya melepaskan diri dari jebakan rasa underdog dan meraih posisi juara dunia rugbi 1995. Untuk itu, Madiba juga mendekati komite olahraga nasional Afsel yang didominasi kelompok masyarakat kulit hitam untuk memberi dukungan kepada timnas Afsel sehingga publik pun dapat dipengaruhi untuk berubah. Mengapa sedemikian menggebunya target Madiba? Karena ia melihat, olahraga ini berpotensi menyatukan segala perbedaan rasional dan mendekatkan kedua kelompok yang sangat antipati satu sama lain.

Walaupun tidak dijagokan, timnas rugbi Afsel akhirnya memenangi kejuaraan dunia tersebut. Dan, Madiba benar, perjuangan dan kebanggaan ini menjadi salah satu tonggak penyatuan dua kelompok masyarakat yang terpisahkan oleh ideologi apartheid dalam jangka waktu sangat panjang. Masyarakat tak lagi mempersoalkan siapa yang ada di dalam timnas. Kemenangan timnas menjadi kemenangan bangsa.

Gegap gempita kemenangan semacam itulah yang kita rasakan melalui Asian Games 2018. Rasa bangga muncul berlapis-lapis, membuat insan Indonesia larut dalam semangat kebangsaan warga bangsa. Bangga karena opening dan closing ceremony yang membahana dan menuai pujian dari berbagai penjuru dunia. Bangga karena para relawan Asian Games menunjukkan sikap pelayanan terbaik yang luar biasa kepada para tamu mancanegara.

Bangga atas prestasi kontingen Indonesia yang menyodok peringkat dari segmen kelas dua menjadi posisi keempat. Bangga kepada para atlet yang memberikan yang terbaik bagi bangsa, kepada para pengumpul medali emas dan yang belum beruntung. Puncaknya, bangga dan haru
ketika Hanifan berhasil membuat dua kandidat Presiden 2019 bersatu tanpa batas dalam pelukan kemenangannya. Dalam bahasa para komedian: pecah di sini.

Publik di Tanah Air, setidaknya sebagian besarnya, tak peduli apakah sang juara atau sang atlet berasal dari kelompok suku yang berbeda, beragama yang berbeda, atau dari kelompok sosial ekonomi yang berbeda. Mata publik hanya tertuju pada apakah atletnya bisa memenangi pertandingan atau setidaknya menunjukkan pertandingan yang berkualitas.

Mengapa olahraga bisa memunculkan emosi demikian? Sebab, olahraga tidak mengenal agama atau suku atau latar belakang ekonomi. Seorang Bambang Hartono tetap harus menjalani langkah yang sama dengan setiap peserta bridge. Peraturan dan perhitungan yang sama berlaku bagi setiap atlet yang berlaga.

Bahkan, negara superpower pun tak akan bisa menggunakan kekuatan ekonomi sosial politiknya untuk memengaruhi hasil. Maka, kebanggaan itu menjadi kebanggaan yang lepas dari batasan-batasan tersebut.

Selain itu, menurut saintis Universitas Indonesia, Roby Mohamad, bangsa Indonesia adalah bangsa yang menempatkan pride atau martabat sebagai salah satu nilai tertinggi dalam kehidupannya. Karena itu, hal-hal yang menyentuh rasa bangga akan menjadi stimulan yang sangat potensial untuk membakar nasionalisme. Bangsa Indonesia mudah merasa bangga, bahkan butuh merasa bangga.

Secara sederhana, nasionalisme adalah perasaan senasib sepenanggungan dengan sesama warga yang membentuk semangat kebangsaan. Nasionalisme hakiki terjadi ketika perbedaan melebur, ketika kesetaraan menjadi napas untuk persatuan. Yang diperlukan adalah membangun kebanggaan sebagai sebuah bangsa, seperti yang terjadi saat batik diklaim negara tetangga.

Semoga semangat persatuan yang muncul karena Asian Games 2018 dapat kita kapitalisasi menjadi semangat yang menetap dalam hidup rakyat. Kejuaraan rugbi 1995 menjadi sebuah gamechanger.

Akankah Asian Games 2018 menjadi gamechanger bagi Indonesia menghadapi tahun politik setahun ke depan? Mari kita lihat.

(Artikel ini dimuat pertama kali di rubrik "Udar Rasa" Kompas, 9 September 2018)

Sumber: kompas.id

Bagikan tulisan ini: