Kunjungan ke Komunitas Syiah di Nairobi, Kenya

Jambo, jambo bwana. Habari gani? Mzuri sana. Wageni Mwakaribishwa, Kenya yetu, Hakuna Matata..”

Sepenggal lagu yang berarti ucapan selamat datang di Kenya mengantarkan Freedom of Religion and Belief (FoRB) Youth Exchange datang ke Kenya. Dengan diinisiasi oleh Mensen met enn Missie (MM), sebuah organisasi katolik untuk kerjasama internasional, teman teman Jaringan Gusdurian (Indonesia), Mosingtuwu Institute (Poso, Indonesia), Interfidei (Indonesia), dan Fahmina Institute (Indonesia) dapat saling mengenal kelompok lintas iman di Kenya dan Netherland.

Hal menarik dari FoRB Youth Exchange ini adalah ketika partisipan diajak berkunjung ke sebuah komunitas Syiah di Nairobi, Kenya. Islam Syiah di Kenya diwakili terutama oleh anggota sekte Ismailiyah, sebagian besar keturunan berasal dari pedagang Muslim Timur Tengah dan India yang datang ke pesisir Afrika Timur untuk tujuan perdagangan.

Kelompok Syiah di Kenya dibawa oleh kelompok Dawoodi Bohra dari India yang bermahzah Mustaali Ismaili. Dawoodi Bohra tiba di Afrika Timur pada abad ke-19 di Zanzibar dan Lamu. Tujuan awal mereka adalah berdagang perangkat keras, kaca kemudian berkembang menjadi real estate dan konstruksi. Junlah pengikut Dawoodi Bohra sekitar 6500-8000 di Kenya secara keseluruhan, sekitar 2500 pengikut di Nairobi dan di bawah 3000 pengikut di Mombasa.

Tempat komunitas Syiah di Nairobi sangat bersih dan masuk dalam standart kelayakan. Di sekitarnya ada beberapa sekolah dari tingkat SD, SMP dan SMA. Nampak pula berlalu lalang pelajar pelajar internasional yang bersekolah di sana. Mereka rupanya sangat terbuka. Pemimpin Komunitas Syiah pun tidak sungkan sungkan untuk membuka sesi tanya jawab kepada partisipan.

Salah satu penanya dari Indonesia menanyakan perihal kondisi komunitas Syiah di Nairobi terkait kondisi Iran dan Amerika yang sedang memanas. Menurutnya, kondisi tersebut sangat politis, mereka sangat berempati dengan kejadi tersebut tetapi itu sama sekali tidak mempengaruhi kondisi komunitas syiah di Nairobi dengan pemeluk agama yang lain. Sebagai contoh, mereka masih menjamu FoRB youth Exchange dengan  sangat ramah dan terbuka.

Hal ini justru jauh berbeda dengan kondisi Syiah di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, Syiah di Indonesia sering mengalami diskriminasi. Pada Agustus, 2012 lalu Indonesia dikejutkan dengan peristiwa berdarah yang terjadi di daerah Sampang Madura, Jawa Timur. Satu kampung diancam, diburu dan satu orang tewas akibat pengeroyokan sejumlah oknum yang tidak menerima ajaran Syiah berada di kampung tersebut. Peristiwa tersebut masih menjadi luka bagi penganut syiah yang tersebar di Indonesia. Pasalnya, Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai nilai keberagaman justru tercoreng dengan kasus ini.

Peristiwa tersebut terjadi pasca keluarnya Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan bahwa Syiah adalah ajaran sesat. Tajul Muluk yang merupakan pemimpinnya ditahan atas tuduhan pencemaran agama pada pertengahan April 2012. Dia dilaporkan oleh adiknya sendiri, Roisul Hukama setelah MUI Sampang mengeluarkan fatwa ajaran Syiah yang dipimpin Tajul adalah sesat.

Gusdur selalu mengatakan ajaran Islam menolak kekerasan. Menurut Beliau, satu-satunya alasan untuk melakukan kekerasan jika kaum  muslimin diusir dari tempat tinggal mereka. Bahkan, dalam hal ini pun masih diperdebatkan, bolehkah muslim membunuh orang lain, jika jiwanya sendiri tidak terancam. Menurutnya, penyebab kecenderungan seseorang memilih pendekatan kekerasan muncul karena ada semacam malaise psikologis di sebagian umat, khususnya kalangan muda dan kalangan kelas menengah.

Malaise psikologi adalah keinginan untuk mengejar ketertinggalan secara fisik dengan menggunakan kekerasan untuk menghalangi kemajuan materialistik dan duniawi. [1] Adanya proses pendangkalan agama juga menjadi polemik masyarakat muslim. Karena tidak ada budaya mengkaji beberapa sumber selain Al Quran dan Al Hadist tetap juga mempelajari beberapa penafsiran pemikir pemikir terdahulu yang sudah berjalan berabad-abad, yang akhinta berdampak pada pendangkalan pengetahuan dan ketika kemarahan muncul maka jalan pintasnya adalah melalui kekerasan. Religion without Knowledge like a bird without wings.


[1] Gusdurku, Anda, Kita, Muhammad AS Hikam , hal 220

Bagikan tulisan ini: