Lare Pare Berkebun dan Kesadaran Ekologi Pemuda Desa

Mendengar nama Kampung Inggris, Pare, membuat banyak orang berpikiran bahwa itu adalah kampung yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Nyatanya ketika saya mengunjunginya beberapa waktu lalu, bayangan tentang bakul cilok yang berbicara bahasa Inggris atau bapak-bapak yang bercengkrama menggunakan bahasa Inggris ketika pergi ke kebun tertepis oleh keadaan. Ya, Pare dan bahasa Inggris rupanya tidak sebegitunya.

Lekatnya Kecamatan Pare dengan aktivitas Inggrisnya bermula dari keberhasilan Muhammad Kalend Osen, atau Mr. Kalend, ketika mengajari mahasiswa IAIN Sunan Ampel untuk menghadapi ujian. Karena keberhasilannya tersebut, banyak permintaan belajar kepada Mr. Kalend yang membuatnya mendirikan Basic English Course (BEC) pada tahun 1977.

Kalau bicara Pare dan aktivitas pembelajaran Inggrisnya tentu sangat banyak artikel atau sumber yang tersedia. Namun ternyata, Pare lebih dari sekadar itu. Saya mendapati banyak sekali pelajaran dari tempat ini, tentang pertemanan, persaudaraan, perjuangan, perjalanan, dan tentang pendidikan tentunya.

Walaupun tidak berada di tengah kota, hiruk piruk yang dihasilkan oleh kampung ini masih bisa diadu dengan kota metropolitan. Kafe yang buka sampai malam, pemuda yang membawa aksen aksen kota, atau tentang gaya hidup yang mereka bawa. Masyarakat pendatang yang menghiasi tempat ini seperti topping yang memberikan paduan rasa bagi Pare. Namun demikian, masyarakat setempat juga tidak merasa terganggu dan tetap menjalakan rutinitasnya seperti biasa, atau setidaknya dapat dikatakan bahwa mayoritas dari mereka justru mengandalkan pendapatan dari para pendatang.

Bagi saya yang biasa hidup di perkotaan, tinggal di Pare cukup menyenangkan karena setiap pagi, dari tempat saya tinggal, dapat menyaksikan matahari terbit dan hamparan gunung Kelud dan Arjuna yang menjulang. Healing, kalau kata anak sekarang. Lalu, akibat terbiasa dengan sungai yang berwarna coklat, jernihnya selokan di pinggir jalan membuat senyum saya tak kunjung turun jika melihatnya.

Fakta bahwa Pare adalah sebuah perkampungan yang bisa dibilang masih asri merupakan suatu nilai tambah sendiri bagi masyarakat kota yang suntuk dengan suasana yang begitu-begitu saja. Dan menariknya, yang mungkin belum banyak orang tahu, adalah banyak gerakan kolektif akar rumput yang ada di Pare, seperti Sastra Pare, Lare Pare Berkebun, Perpustakaan Jalanan, dan masih banyak lagi. Yang jelas, bukan sekadar gerakan para petani mencabuti rumput tetapi sebuah wadah untuk bergerak. Ya, silakan tafsirkan sendiri.

Dari beragam komunitas tersebut, aku berkenalan dengan Samsul, seorang warlok (warga lokal) alias akamsi (anak kampung sini) alias sing ndue nggon membuatku banyak belajar terutama tentang ekologi. Ia seorang pemuda, mungkin berusia seperempat abad, yang masih senang mengabdi kepada masyarakat. Apabila dilihat, banyak sekali pemuda desa lulusan Strata-1 yang berbondong-bondong untuk merantau ke kota demi memperbaiki nasib. Tapi tidak untuk Samsul. 

Saya masih ingat betul ketika Samsul menjelaskan alasannya memilih terjun ke masyarakat dengan gelar sarjana yang telah ia dapatkan, 

“Ya gimana, Ra, semua orang kok berbondong-bondong untuk memajukan negara. Padahal desanya sendiri loh sakjane butuh dia.”

Kalimat itu sukses menampar saya, karena melihat selama ini rencana hidup saya yang jarang atau bahkan hampir tidak pernah terpikirkan untuk kembali mengayomi kampung asal. Padahal kampung asal saya juga masih membutuhkan pemuda berpendidikan untuk mengambil peran dalam kemajuan masyarakat. 

Samsul dan kawan-kawannya berusaha untuk menggagas program yang salah satunya berfokus pada isu lingkungan dan anak-anak, misalnya dengan mengadakan lapak baca dan dongeng “Kak Tani dan Paman Gersang” yang mengangkat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Dongeng yang sebelumnya hanya bisa aku saksikan via televisi, saat itu aku bisa melihatnya langsung dan bahkan diberikan kesempatan untuk membawakan dongeng di lain kesempatan.  

“Subjeknya sengaja Kak Tani dan direpresentasikan oleh perempuan, karena selama ini kata tani seakan-akan lekat dengan laki-laki, Pak Tani. Padahal kan nyatanya banyak juga mbok-mbok yang ikut ke sawah. Nah, kita juga mau ngangkat kesadaran itu juga, Ra.”

Barangkali kita lupa, terutama bagi saya yang merasa asing dengan urusan pertanian dan perkebunan, bahwa masih banyak buruh perempuan yang mengambil peran dalam proses tersebut. Pendistorsian, yang entah mulai dari mana, tani yang seakan akan direpresentasikan hanya untuk laki laki. Pak Tani sedang mencangkul di sawah. Jarang sekali, atau bahkan tidak pernah, saya mendengar Ibu Tani sedang mencangkul di sawah.

Beberapa kali mengikuti kegiatan Lare Pare Berkebun yang dilakukan oleh Samsul dan kawan-kawan membuat saya tertarik untuk mengenal lebih banyak tentang ekologi dan tentang nasib para buruh kebun.

Teman Samsul, Jingga, bercerita tentang harga hasil panen yang sedang anjlok. Walaupun dapat dikatakan jarang pergi ke pasar, namun mendengar harga jagung yang hanya dua ribu rupiah per kilo sukses membuat saya terkejut dan juga miris. Tahu apa saya sebagai orang kota, yang bisanya hanya protes ketika harga komoditi pasar ini naik.

Saya merasa sungguh sangat egois. Bagaimana tidak, selama ini saya selalu senang dan menantikan harga bahan pangan turun tanpa memikirkan bagaimana nasib para petani di desa sana. 

Di lain kesempatan, saya diceritakan oleh Samsul tentang bagaimana proses penanaman sampai bisa didistribusikan ke kota sambil diajak langsung untuk menengok lahan yang ia miliki. Melihat dan membayangkannya sungguh membuat saya terenyuh dan cukup membuat saya bertekad untuk menghindari membuang sisa makanan. Karena ternyata membuangnya bukan hanya mubazir, melainkan dapat merusak lingkungan dan menyebabkan terjadinya pemanasan global. Ternyata pemahaman saya terhadap sampah makanan yang awalnya dikira termasuk sampah organik tercerahkan bahwa sesungguhnya itu tidak tepat. 

Dari sana saya terbesit, bagaimana kalau saya ajak teman-teman saya pergi ke Pare untuk mendoktrinasi mereka tentang pentingnya mencegah food waste. Bisa saja kan menggunakan kedok belajar bahasa Inggris atau buat keren-keren saja, padahal saya berusaha untuk mencoba menejejali mereka tentang dunia perkebunan dan pertanian. Jadi nanti saya ajak mereka ke Pare, lalu saya “paksa” mereka untuk berkenalan dengan Samsul dkk, barangkali mereka bisa terilhami.

Saya belum tahu terlalu banyak sebenarnya, yang jelas pesan sebelum saya kembali ke daerah asal saya adalah, “Coba nanem, Ra. Yang gampang aja dulu, kalau enggak yang bakal sering kamu manfaatin kayak cabai misalnya. Nanemnya dari benih tapi, terus nikmatin sensasinya,” Konon katanya, itu bisa memberikan rasa satisfying kepada kita apabila benih telah berhasil menunjukan progresnya menghasilkan akar. 

Author

Bagikan tulisan ini: