Obituari Gus Im: Dari Pendidik Anak Muda NU hingga Penagih Utang Negara

Pagi ini, berita duka menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU). KH. Hasyim Wahid atau biasa dikenal dengan Gus Im telah tutup usia di RS. Mayapada Jakarta pada Sabtu (1/8) pukul 04.18 WIB, setelah beberapa hari dirawat di sana akibat komplikasi ginjal. Gus Im adalah putra pasangan KH. Wahid Hasyim dan Ibu Nyai Hj. Solichah Munawaroh, sekaligus adik bungsu KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari enam bersaudara.

Ia berpulang ke pangkuan Ilahi pada usia 67 tahun. Kepulangan Gus Im merupakan kembalinya selimut kesedihan bagi warga Nahdliyin di tahun ini, mengingat sang kakak, Gus Sholah juga telah berpulang pada 2 Februari 2020 lalu.

Tidak banyak cerita yang bisa didapat tentang sosok Gus Im. Ia adalah pribadi yang jauh dari sorot kamera, liputan media, atau topik utama perbincangan publik; sangat berkebalikan dengan kepopuleran kakaknya, Gus Dur. Meski begitu, kiprah Gus Im tidak bisa dilepaskan dari teladan para aktivis muda NU selama ini. Ia adalah mentor dan inspirasi bagi generasi baru NU hari ini yang menjadi ujung tombak perubahan. Ia juga dikenal sebagai sosok penulis dengan sejumlah karya buku dan puisi.

Semasa hidupnya, Gus Im disebut sebagai tokoh sentral di balik kepemimpinan Gus Dur. Hubungannya dengan sang kakak cukup erat. Ketika Gus Dur menjabat sebagai presiden, Gus Im berperan sebagai konsultan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), di mana ia harus menghadapi para debitor bandel.

“Kalau saya menjadi pengusaha dan harus membayar utang Rp 50 miliar, bisa jadi saya akan memilih cara lebih murah: menyewa preman untuk menggedor atau mencelurit si penagih utang dengan ongkos Rp 5 miliar saja,” ujarnya saat mengobrol dengan beberapa wartawan Tempo dua puluh tahun lalu. Dalam menunaikan tugasnya, Gus Im terkenal mampu menarik nama-nama yang selama ini sulit “mampir” ke BPPN seperti Tommy Winata, Bambang Trihatmodjo, dan Tommy Soeharto.

Melihat jabatan Gus Im cukup strategis saat Gus Dur menjabat, tentu banyak sekali tuduhan yang disematkan padanya kala itu. Mulai dari tuduhan faktor nepotisme yang dilakukan Gus Dur kepada Gus Im hingga tudingan padanya sebagai tokoh “kabinet malam” yang menghubungkan para pengusaha dengan istana. Namun Gus Im membantah hal tersebut.

“Gus Dur tidak meminta saya duduk di BPPN. Saya punya hubungan baik dengan Glenn Yusuf (Ketua BPPN sebelum Cacuk Sudarijanto). Bahkan saya masuk lebih dulu daripada Cacuk.”

Gus Im adalah anomali di keluarganya. Ia berbeda dari kakak-kakaknya yang pernah mengenyam pendidikan pesantren. Ia lahir di Jakarta dan hanya mengenyam pendidikan formal semata. Bapak tiga anak tersebut mengaku kalau ia adalah tipe orang yang gampang bosan dan tidak terlalu suka belajar. Pendidikan tingginya tak pernah tuntas ditempuhnya: setengah semester di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan satu semester di Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung. Saat keluar dari universitas, ia sempat aktif di organisasi, sebelum akhirnya mulai mencoba bisnisnya sendiri.

Ketika Orde Baru berada pada puncak kekuasaan, Gus Im dikenal dekat dengan kalangan aktivis. Ia sudah biasa menjadi target sasaran aparat intelijen dan melakukan aksi kucing-kucingan.

Terkait dengan kemiripannya dengan Gus Dur, Gus Im bisa dibilang memiliki gaya berbicara blakblakan yang sama dengan kakaknya. Ia juga gampang tertawa dan sesekali melempar humor saat mengobrol. “Saya ini semacam preman. Dan, yang jelas, lebih sinting dari Gus Dur,” kata Gus Im sambil terkekeh.

Bagikan tulisan ini: