Pemimpin Perempuan dalam Pusaran Perang Melawan Covid-19

Publik mungkin belum lupa dengan candaan yang dilontarkan Menkopolhukam RI, Mahfud MD saat acara halalbihalal Keluarga Besar Universitas Sebelas Maret yang digelar secara virtual pada Selasa (26/5/2020). Mahfud membagikan ulang kalimat yang tertulis di sebuah meme yang dikirimkan oleh Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan. Guyonan tersebut menganalogikan antara virus Corona dan istri. 

“Corona is like your wife. In easily you try to control it, then you realize that you can’t. Then you learn to live it,” kata Mahfud mengutip meme yang diterimanya dari Luhut. 

Kelakar tersebut menuai gelombang protes, terutama dari para perempuan. Di kala situasi pandemi seperti ini, tidak etis rasanya jika memadankan istri dengan virus yang telah menelan nyawa orang-orang dan menjadikan dunia dilanda wabah global. 

Dunia telah membuktikan bahwa perempuan tidak hanya diam saja dalam memerangi wabah Covid-19. Pada 26 April 2020, Kompas.com menayangkan tulisan yang memuat tentang sembilan pemimpin perempuan dunia yang berhasil mengatasi virus yang membuat dunia dilanda kepanikan. 

Kesembilan pemimpin perempuan tersebut adalah Perdana Menteri Silveria Jacobs dari Sint Maarten di Kepulauan Karibia; Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern; Kanselir Jerman, Angela Merkel; Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen; Presiden dari Taiwan Tsai Ing-wen; Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg; Pemimpin Islandia yang juga seorang perempuan, Katrín Jakobsdóttir; Perdana Menteri Finlandia Sanna Marin; dan Kepala Pusat Pengendalian Penyakit Nasional Korea Selatan bernama Jeong Eun-kyeong.

Mereka telah membuktikan kepada dunia bahwa menjadi perempuan bukanlah alasan untuk tidak mampu bersikap tegas dalam menegakkan kebijakan yang maslahat, supaya para warga mereka tidak berlarut mengalami penderitaan akibat pandemi. 

Barangkali, jika berkiblat pada kasus dunia, kita tidak memiliki bayangan nyata tentang perempuan dan perannya dalam memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Maka, mari beralih dalam skala lebih sederhana. Saya akan mencontohkan dari apa yang saya amati selama pandemi ini. 

Peran perempuan terutama istri semakin bertambah tatkala pandemi menghantam Indonesia. Apalagi para perempuan yang telah berkeluarga dan memiliki anak usia sekolah tiba-tiba merangkap sebagai guru saat pandemi. Pandemi telah mengubah tatanan kehidupan dunia, tak terkecuali bidang pendidikan. Kebijakan belajar di rumah pun diambil Kementerian Pendidikan sebagai upaya mencegah meluasnya infeksi virus ini. 

Dengan demikian, anak-anak diminta menjalani kelas pembelajaran daring. Lantas, sang ibulah yang biasanya bersiap menggantikan peran guru di sekolah. Karena saat ini, anak-anak menghabiskan seluruh waktunya di rumah.

Mengapa ibu yang akhirnya jadi mentor belajar anak di rumah? Karena sistem patriarki yang masih langgeng. Kebanyakan ayah merasa andilnya adalah urusan untuk mencari nafkah. Perkara kelangsungan pendidikan anak umumnya ditimpakan tanggung jawabnya kepada ibu. 

Ibu berperan meneruskan edukasi yang disampaikan para guru melalui metode video konferensi salah satunya. Ibu pulalah yang menanamkan pemahaman kepada sang anak tentang kondisi yang tengah dihadapi dunia. Meminta sang anak untuk bersabar dan menahan diri supaya tidak keluar rumah. Menerangkan kepada anak tentang Corona dengan bahasa yang mudah dicerna sesuai umur sang anak. Lalu ibu juga akan berinisiatif merancang segudang aktivitas yang bisa dimainkan anak selama di rumah. Supaya anak tidak bosan. 

Apa yang saya uraikan di atas sudah menceritakan secara panjang tentang bagaimana seorang perempuan bisa memegang kendali dalam memastikan supaya anggota keluarga tidak keluyuran dalam kondisi pandemi saat ini. 

Ibu saya di rumah juga melakukan itu. Ia tidak henti-hentinya mewanti-wanti adik saya agar di rumah saja jika tidak ada keperluan mendesak. Ia juga tidak lupa mengingatkan adik saya untuk selalu memakai masker jika memang butuh sekali untuk keluar rumah. Instruksi ibu saya menjadi imbauan yang paling didengar di rumah. Adik saya tentu mematuhinya. Apalagi ibu juga menyelipkan embel-embel pesan lainnya yang semakin menambah kesadaran anak-anaknya tentang pentingnya melakukan protokol kesehatan. 

Selain berperan melalui suaranya, ibu saya turut berkontribusi memerangi pandemi dengan cara aksi nyata. Ia selalu menyiapkan menu makanan bergizi seimbang untuk anggota keluarga di rumah. Meski saya berada ratusan kilometer jaraknya dari rumah, tapi saya tahu itu. Karena adik saya selalu mengabarkannya. Memamerkan menu apa saja yang diracik ibu saya supaya orang-orang terkasihnya lahap makan. Ibu saya paham betul bahwa makanan juga menjadi salah satu penangkal yang ampuh virus. Ia memastikan setiap asupan gizi yang masuk ke tubuh anggota keluarga. Sebab ia ingin, imunitas orang rumah terjaga. Kebanyakan ibu-ibu pasti akan melakukan serupa dengan ibu saya. 

Untuk yang masih meremehkan perempuan dan perannya di kala pandemi, mungkin bisa lebih memperbanyak membaca dan menengok realita sesungguhnya. Bahkan saya juga menemukan di media sosial, ada dokter sekaligus selebgram yang berhati mulia. Ia juga seorang perempuan, istri, anak perempuan, sekaligus ibu. Kerap dipanggil Falla Adinda, perempuan ini beberapa waktu lalu mendedikasikan dirinya bertugas di Wisma Atlet sebagai dokter yang menangani pasien Covid-19. Seperti yang dikabarkan media massa, Wisma Atlet untuk sementara dialihkan sebagai rumah sakit darurat Covid-19. 

Dari kisah Falla Adinda, kita juga mengerti bahwa dokter-dokter yang menangani pasien Covid-19 bukan hanya dari golongan laki-laki. Ada dokter-dokter perempuan yang rela mengorbankan tenaga, dan segalanya untuk menumpas pandemi ini. 

Lantas, apakah kita masih meragukan perempuan? Perempuan bukanlah virus ganas. Perempuan adalah penolong.

(Artikel ini pertama kali dimuat di islami.co)

Bagikan tulisan ini: