Peringati Haul Gus Dur ke-12, GUSDURian Banjarmasin Gelar Bedah Buku “Gender Gus Dur”

GUSDURian Banjarmasin bekerja sama dengan Kampung Buku Banjarmasin mengadakan kegiatan diskusi dan bedah buku Gender Gus Dur yang ditulis oleh Ashilly Achidsti. Acara ini merupakan salah satu rangkaian dari Festival Bulan Gus Dur yang diselenggarakan pada peringatan Haul Gus Dur ke-12 yang diadakan oleh GUSDURian Banjarmasin. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu malam, 23 Januari 2022, di Kampung Buku Banjarmasin, Jl. Sultan Adam No. 171, Sungai Miai.

Arief Budiman, Koordinator GUSDURian Banjarmasin dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan bedah buku ini bertujuan untuk mengenal kebijakan-kebijakan Gus Dur perihal gender.

"Perihal kebijakan Gus Dur mengenai gender ini, semoga bisa jadi cerminan terhadap kebijakan-kebijakan yang kita buat, apakah sudah benar-benar berpihak kepada kebenaran dan keadilan atau belum,” ungkap Arief.

Pada diskusi dan bedah buku ini, hadir Ashilly selaku penulis ditemani oleh dua narasumber lainnya, yaitu Rini Radina dari Komunitas Narasi Perempuan dan Abdani Solihin selaku Direktur LK3 Banjarmasin, serta dimoderatori oleh Agustinus Koestandinata dari GUSDURian Banjarmasin.

“Meskipun hanya dua tulisan Gus Dur yang secara khusus membahas tentang perempuan, tapi posisi beliau sejak awal sudah mendukung perempuan, baik sebelum menjabat sebagai presiden hingga menjadi presiden,” jelas Ashilly.

Berbicara mengenai kesetaraan gender, Rini menjelaskan mengenai perbedaan definisi seks dan gender, yang mana kedua hal ini sering disalahpahami oleh sebagian orang, mana yang kodrati dan mana yang bukan.

“Kesetaraan gender seperti apa sih yang diinginkan itu? Laki-laki jadi kuli? Apakah perempuan mau jadi kuli juga?” tanya Roy dari Pemuda Katolik.

“Standar kesetaraan itu bukan sama 100%, tapi menjawab kebutuhan, bagaimana menempatkan perempuan dan laki-laki agar dapat mendapatkan hak-haknya sesuai kebutuhannya, karena starting point perempuan dan laki-laki itu sudah berbeda sejak awal. Setiap orang memiliki definisi masing-masing mengenai kesetaraan yang ingin dicapai, tapi yang pasti semua orang setuju adalah mengenai akses pelayanan publik, tidak menambah parah mengalaman biologis perempuan,” jawab perempuan yang akrab disapa Hilly tersebut.

“Beliau tidak mengeklaim diri sebagai feminis atau pejuang gender, tapi pada akhirnya kita tahu bahwa beliau berjuang dalam hal itu,” imbuh Abdani Solihin.

“Gus Dur tidak hanya membumikan Islam, namun juga membumikan gender,” ungkap Ashilly.

Author

Bagikan tulisan ini: