Problem Stereotip yang Tak Ramah Gender: “Memang Kenapa Kalau Janda?”

“Emang manusia mana yang bisa memilih jalan hidupnya? Kita bisa berencana, tapi Tuhan yang menentukan, bukan?” katanya, sambil menahan isak. Aku hanya termanggut, sambil mengenggam jari-jarinya. 

“Apa yang salah dengan janda? Mbak memang kelihatannya ceria terus, tapi sebenarnya sakit di dalam.” Isaknya pecah, aku memeluknya. 

Sejak kepergian suaminya, empat tahun yang lalu, salah satu kerabatku ya sebut saja Mbak Susi karena aku tak perlu menyebutkan nama aslinya, dirundung kesedihan yang mendalam. Suaminya mengalami patah tulang di bagian tulang ekornya akibat kecelakaan kerja. Semenjak sakit dan tidak bisa mencari nafkah, Mbak Susi menjadi tulang punggung keluarga. Penyakit suaminya semakin parah, akhirnya Mbak Susi membawa suaminya ke rumah orang tuanya di Jawa untuk menjalani pengobatan karena Mbak Susi sudah tidak punya uang lagi. Mertuanya? Hanya bisa menyalahkan dan mengutuki nasib menantunya. 

Hampir satu tahun segala ikhtiar dilakukan, pengobatan alternatif dan medis sudah dijalani. Orang tuanya sampai rela menjual tanah untuk pengobatan menantunya. Tapi melalui Izrail, nyawa suaminya diminta pulang. Tak bisa berlama-lama di Jawa, Mbak Susi segera pulang karena masih ada seorang putra yang mesti diurus. Selama ditinggal di Sumatera, putranya yang saat itu masih SMP dititipkan ke mertuanya. 

Sialnya, mertuanya malah menyalahkan Mbak Susi. Kematian anaknya disebabkan oleh Mbak Susi yang membawanya ke Jawa. Padahal tak sepeserpun ia mengeluarkan uang untuk pengobatan anaknya itu. Penderitaan tak berhenti, menjadi orang tua tunggal adalah beban yang berat. Semenjak menyandang status janda, cibiran warga atau lontaran kalimat canda yang justru menyinggung tak berhenti ia dapatkan.

Mbak Susi termasuk orang ceria dan banyak bicara. Tapi karakternya yang seperti itu menjadi bumerang bagi dirinya setelah berstatus janda. “Ih! Janda centil.” “Cepetan cari suami baru, jangan pilih-pilih.” “Mau nyari brondong tah?” dan banyak kalimat-kalimat menyakitkan lainnya. Mbak Susi selalu terlihat santai menanggapinya, bahkan dibalas dengan candaan pula. Padahal sebenarnya ia juga tersinggung, tapi ia tak mau orang lain tahu kalau hatinya sebenarnya terluka. Ketabahan hatinya membuatku mengaguminya.

Mbak Susi cuma salah satu janda yang mendapat stigma negatif dari masyarakat hanya karena ia menjadi janda. Padahal jelas ia tak bisa memilih dan menghindari dari apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Lain lagi dengan Bude Im, begitu kami memanggilnya. Ini panggilan asli, tapi aku tidak tahu nama aslinya. Ia tinggal di Kediri. Aku mengunjunginya karena ikut kerabatku. Sudah lima tahun ia tinggal seorang diri di rumah. Sendirian, tanpa suami dan anak-anak. Suaminya meninggal sejak lima tahun yang lalu. Ia dan suaminya memang tak dikaruniai keturunan. 

Pada sarapan pagi, sambil menikmati nasi pecel dan segelas teh manis ia bercerita tentang dirinya yang menanggung status janda. “Aku, Mbak, ke mana-mana sendirian sudah biasa. Sewaktu suamiku meninggal, aku juga susah ke mana-mana karena nggak bisa naik kendaraan. Dulu waktu suamiku masih hidup, aku selalu diantarkan walau hanya ke pasar yang jaraknya dekat,” katanya membuka percakapan.

Aku melumatkan nasi pelan-pelan agar suaranya yang lirih tidak kalah dengan suara kecapan mulutku. “Tapi ya gitu, Mbak, nggak sedikit yang beranggapan miring soal saya sebagai janda. Jalan sendirian, hidup sendirian. Disangka nggak mau membuka hati dan pilih-pilih. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.” 

Bude Im yang sehari-hari menjaga parkiran motor di rumahnya merasa kesepian sekali semenjak sekolah-sekolah ditutup karena kebijakan pemerintah untuk menangani Covid-19. Anak-anak yang biasanya menitipkan sepeda motor kini tidak ada. Ia meneruskan ceritanya, “orang-orang itu seperti heran apa saya ndak takut tinggal sendirian. Apa saya tidak mencari pendamping lagi saja. Ya, banyaklah anggapan-anggapan miring lainnya.”

Lalu ia melontarkan kalimat yang mengena sekali, “ada Allah, Mbak di dalam hatiku.” Mungkin bagimu klise, ya? Tapi entahlah, kunyahan nasi yang pulen itu jadi terasa serat. “Kalau saya lagi tidak ada kegiatan, saya ngaji saja, baca buku. Saya ndak merasa kesepian. Semua yang sudah saya lewati, bertahun-tahun membuat saya menemukan Allah.”   

Lihat, bagaimana ternyata seorang janda yang harus menanggung beban sosial dari sekitarnya. Kaum yang seharusnya dilindungi, bukan dicibiri. Dalam sembilan nilai utama Gus Dur yang telah dirumuskan, salah satunya adalah nilai kemanusiaan. Dalam nilai kemanusiaan, kita diajarkan untuk menghormati sesama sebagai bentuk penghormatan terhadap penciptanya.

Tentu, bentuk penghormatan banyak macamnya. Salah satunya adalah menjaga lisan dari menyakiti hati sesama. Memang, hal-hal yang dilakukan Gus Dur adalah hal-hal besar dan sifatnya luas. Seperti dalam kasus pembelaan terhadap etnis Tionghoa, Papua, dan warga Kedung Ombo. Tidak hanya itu, Gus Dur juga pernah membela beberapa artis yang kontroversial dan mendapat hujatan dari masyarakat. Mereka ialah Inul Daratista dan Dorce Gamalama.

Pandangan Gus Dur memang sulit diikuti dan hanya bisa dipahami setelah sekian lama. Apa yang dilakukan memang hal-hal besar, tapi justru kita bisa memulai dari hal-hal yang kecil tapi berdampak besar. Yaitu, menjaga lisan dari menyakiti dan hati dari berprasangka buruk. Bukankah Rasulullah telah mengajarkan melalui hadisnya, “Salaamatu al-Insan min Hifdzi al-Insan” yang berarti keselamatan manusia berasal dari menjaga lisannya?

Bagikan tulisan ini: