Resensi Buku: Memoar Covid-19 Catatan Autoetnografi Lintas Benua

Judul Buku: Memoar COVID-19 Catatan Autoetnografi Lintas Benua.

Penulis: Izak.Y.M. Lattu

Penerbit: Lawwana

Tebal: 244 hlm

Cetakan Pertama: Februari 2022

Virus Covid-19 sampai sekarang masih terus menyelimuti bumi dan dipastikan masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020. Banyak sekali masyarakat yang terinfeksi virus mematikan ini, sebagian besar mereka meninggal dunia dan juga tidak sedikit yang telah terbebas dari cengkeraman virus tersebut. Belum lama ini terbit sebuah buku yang sangat epik menceritakan perjuangan salah satu pasien Covid-19 yang tercatat dari 500 pasien pada periode awal merebaknya virus Covid-19 di Indonesia. Dapat kita bayangkan semengerikan apa virus ini mengganas masuk ke Indonesia. Negara yang awalnya meremehkan akan bahayanya virus Covid, kemudian menjadi negara yang super kewalahan membendung derasnya Covid-19 karena kurangnya alat kesehatan yang memadai.

Izak Y.M Lattu salah satu pengajar di Program Studi Sosiologi Agama dan Program Studi Pembangun Universitas Setya Wacana dan CRCS Universitas Gajah Mada, terinfeksi Covid-19 pada bulan Maret 2020 dalam perjalanan pulang dari New York menuju Jakarta, kemudian ia menjalani perawatan dengan baik di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang. Izak berhasil keluar dari bayang-bayang kematian dan kejamnya ventilator di Intensive Care Unit (ICU). Setelah sembuh ia mengumpulkan catatannya ketika tubuhnya sudah dikuasai oleh ganasnya virus Covid-19.

Buku Memoar Covid-19 yang Izak tulis merupakan catatan autoetnografi lintas benua. Ia mencoba mengisahkan perjalanan dirinya dalam perjuangan keluar dari cengkraman virus. Selain itu ia melengkapi buku ini dengan mengumpulkan data dari semua orang yang terlibat dalam perawatan Izak semasa berada di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang. Buku etnografi ini sangat menarik karena ditulis dengan gaya bahasa yang populer juga diselingi dengan gaya bahasa akademik. Dalam pembawaanya Izak mencoba mengajak kita untuk kuat menghadapi proses pembelajaran menghadapi pandemi yang telah banyak memakan korban.

Buku yang Izak tulis merupakan karya pertama yang membahas soal Covid-19 dari ruang ICU dan ventilator. Ia mencoba menggambarkan kondisi di ruang perawatan intensif Covid-19, sebelumnya tidak ada tulisan-tulisan yang menceritakan Covid-19 dan pengalaman pasien dari ruang intensif. Oleh karena itu Buku Memoar Covid-19 ini sangat unik dan menarik untuk dibaca.

Salah satu insight yang saya dapatkan dari buku ini adalah: Pertama, buku ini ditulis oleh seorang peneliti yang menjadi penyintas dengan menggunakan analisis sosiologis dan refleksi spiritualitas sosial orang Indonesia yang terinfeksi Covid-19 pada gelombang pertama. Ia menulis dengan analisis pengalaman autoetnografi. Di bagian awal ia menulis sesuai ingatan tentang perjuangan perjalanan ke AS dan kembali di tengah badai awal pandemi sampai memori tentang perawatan di ruang ICU. (hlm 6-7)

Kedua, buku Memoar Covid-19 membawa pesan solidaritas sosial yang sempat hilang dibawa oleh stigma dan ketakutan. Dalam pembahasan ini Izak mencoba menjelaskan bahwa terinfeksi virus Covid-19 bukan sebuah aib. Izak merasa dirinya didiskriminasi oleh warga di lingkungan perumahanya karena ia baru pulang dari luar negeri. Beberapa pesan WhatsApp berdatangan dari warga dan ketua Rukun Tetangga (RT) jelas mereka menolak kedatangan Izak di lingkunganya. Izak membayangkan kelompok pengikut Presiden Donald Trump di Amerika Serikat yang mendiskrimasi warga Cina, Korea, dan sejumlah negara Asia Selatan karena mereka dianggap pembawa virus di kotanya. (hlm 64-65)

Selain solidaritas, buku ini juga mengajak untuk menumbuhkan empati yang sudah memudar oleh para petugas kesehatan dan para tokoh agama. Diceritakan Izak menerima pesan WA dari petugas kesehatan “Sedang berada di mana? Apakah ada keluhan hari ini? Batuk, pilek, sakit tenggorokan atau sesak nafas?”. Dalam komunikasi yang dibangun oleh petugas kesehatan sudah benar karena ia telah menjalankan tugasnya. Namun dalam dimensi rasa pendekatan ini sama sekali tidak menghadirkan empati ketika disampaikan pada orang yang dalam pengawasan (ODP) karena ia dianggap seperti dimata-matai. Melainkan akan menjadi tekanan yang luar biasa bagi orang yang terduga terinfeksi Covid-19. (hlm. 79-80)

Dalam buku Memoar Covid-19 ini juga diceritakan sejumlah tokoh dari kelompok fundamentalis agama mereka senang menyematkan kata kafir dan berdosa kepada orang yang terinfeksi Covid-19. Mereka melihat virus sebagai alat yang diturunkan tuhan untuk menyerang atau menghukum orang yang kafir dan berdosa. Sehingga mereka mudah menyimpulkan bahwa orang yang kuat imannya dan akan terbebas dari serangan Covid-19. Kasus ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja melainkan di Amerika Serikat juga mengalami hal demikian. Para tokoh agama fundamentalis pendukung Presiden Donald Trump melarang umat untuk mengunakan masker karena ia dianggap menutupi sinar tuhan yang ada pada manusia. Pada gelombang pertama virus ini menyebar dimensi kemanusiaan belum dikedepankan di Indonesia. (hlm 89)

Ketiga, buku Memoar Covid-19 ini memberikan kisah-kisah inspiratif dan solidaritas sosial dan agama yang saling menguatkan dalam ikatan kemanusiaan. Buku-buku yang membahas soal solidaritas lintas iman dalam konteks Covid-19 mungkin banyak ditemui di mana-mana, namun buku-buku tersebut sebatas mengisahkan solidaritas di luar ruang ICU. Sementara buku yang di tulis oleh Izak ini menarik sekali karena mengisahkan solidaritas lintas iman di dalam ruang ICU. Penulis menceritakan perjuangan perawat yang setiap hari menghampirinya hanya untuk memberi makanan dan memastikan perkembangan kesehatannya. Perawat tersebut selalu mengajak berdoa untuk keselamatannya bahkan ia mau mengajak rekan perawat lainnya untuk bersama mendoakan kesehatan Izak.

Perawat perempuan tersebut bernama Suniah, perempuan berjilbab yang bertugas di bagian ruang ICU. Ia mengerti bahwa pasien yang dihadapi berbeda agamanya, namun tetap mendoakannya dengan keyakinan yang diikuti. Selain itu Suniah juga selalu mengajak komunikasi dengan Izak selama di ruang ventilator. Solidaritas untuk Izak juga dilakukan oleh para aktivis kampus dari berbagai agama. Setelah Izak sembuh dari cengkraman ganasnya Covid-19 kemudian bertemu dengan Suniah, ia mengakui selalu mengajak Izak untuk berdoa di siang dan malam.

Solidaritas lintas iman untuk mendo’akan di luar ruang ICU juga dilaksanakan di mana-mana. Misalnya Irma, salah satu dosen keturunan Hadramaut Yaman dan senior Izak di CRCS UGM menggelar do’a bersama. Kemudian komunitas muda Nahdlatul Ulama di Semarang juga melakukan hal demikian. (hlm 156-157). Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Lawwana ini tidak terlalu tebal. Di dalamnya hanya mengumpulkan dari 28 esai-esai pendek. Meskipun buku ini terlalu singkat namun isinya sudah sangat komplit karena tidak hanya bercerita melainkan juga mengedukasi.

Author

Bagikan tulisan ini: