Sariawan yang Mengubah Dunia

Pada tahun 2018 John Allen Chau, seorang misionaris dari Amerika Serikat dibunuh oleh warga suku pedalaman terisolasi di Pulau Sentinel, Samudra Hindia. Kemudian pemerintah India–yang menyatakan pulau tersebut sebagai bagian wilayahnya–melarang siapa pun untuk berkunjung ke pulau tersebut.

Penduduk Sentinel memang sangat anti-pendatang. Namun alasan utama larangan ke sana justru untuk melindungi penduduk tersebut dan bukan untuk melindungi orang-orang yang pergi ke Pulau Sentinel.

Penyebab utamanya karena penduduk asli Sentinel terisolasi selama kurang lebih 10.000 tahun dari peradaban dunia. Interaksi sekecil apa pun dengan manusia luar bisa berakibat fatal pada penduduk tersebut.

Kita sebagai manusia modern telah berpengalaman menghadapi berbagai penyakit, bakteri, dan virus ganas. Justru ‘keaslian genetik’ penduduk pulau Sentinel menyebabkan mereka sangat rentan pada jutaan virus dan penyakit yang sudah ‘berdamai’ dengan tubuh kita–manusia modern.

Penjelasan mengenai pentingnya nutrisi dan penyakit yang telah meruntuhkan banyak peradaban kurang mendapatkan perhatian serius dari buku-buku sejarah. Wabah Flu Spanyol yang diperkirakan membunuh sekitar 50 juta penduduk bumi pada tahun 1918 sampai 1920 dalam empat gelombang melebihi korban Perang Dunia Pertama (1914-1918) saat itu.

Sejarawan Alfred W. Crosby menyatakan bahwa wabah ini hampir tidak dibahas dalam buku sejarah Amerika Serikat (Wibowo, 2009:52). Padahal sekitar sekitar 675.000 penduduk AS tewas oleh virus yang dibawa tentara pasca perang. Begitu pun buku sejarah Indonesia pada periode tersebut hanya memuat dampak PD I, Revolusi Bolsevik, dan organisasi pergerakan yang mewarnai awal sejarah kebangsaan Indonesia.

Dalam buku sejarah sekolah, hanya diceritakan bahwa keberhasilan bangsa Barat menjelajah ke dunia Timur, menguasai perdagangan dunia dan melakukan kolonialisasi disebabkan perkembangan teknologi seperti teknik perkapalan, industrialisasi, dan temuan-temuan sistem perekonomian yang lebih kompleks. Jarang dibahas bagaimana perjuangan bangsa Barat menghadapi penyakit Scurvy selama era penjelajahan (discovery) telah membunuh banyak pelaut dan dijuluki sebagai ‘The Plague of the Seas’.

Oleh sebab itu menjadi pelaut-penjelajah merupakan profesi sangat beresiko pada masa keemasan pelayaran. Di Indonesia sendiri, ditengarai, tradisi Slametan kepada calon jamaah haji sudah muncul pada era perdagangan Maritim (1400-1600). Sebab, banyak kemungkinan jemaah haji ini terkendala diperjalanan maupun jalan pulang oleh kecelakaan kapal laut, perampokan, pembunuhan, dan penyakit mematikan.

Hal ini menjadi alasan mengapa justru para sultan penguasa pelabuhan perdagangan di Nusantara (Aceh, Banten, Makasar, dan lainnya), tidak banyak melakukan haji karena resiko kematian yang cukup tinggi. Meskipun tercatat pemimpin Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa pernah mengirim anaknya berhaji. Dalam naskah Sadjarah Banten kepulangan anaknya yang belakangan disebut ‘Sultan Haji’ sempat menjadi kontroversi karena berkoalisi dengan VOC yang membangun benteng di Sunda Kelapa (Batavia/kota Tua) melawan ayahnya sendiri.

Selama abad penjelajahan Barat (Age of Exploration 1600-1800) kurang lebih dua juta pelaut tewas oleh penyakit Scurvy. Penjelajah Barat yang berperan besar menemukan jalur ke Nusantara seperti Vasco da Gama kehilangan 116 dari 170 kru kapalnya pada tahun 1499 oleh penyakit ini. Pada tahun 1520, Magelhans kehilangan 208 dari 230 kru kapalnya oleh penyakit yang sama.

Scurvy mungkin akan diremehkan saat ini karena gejala awalnya mirip sariawan. Berbagai percobaan dilakukan untuk mengatasi penyakit mematikan ini. Tahun 1601 Sir James Lancaster (1554-1618) yang berangka menuju Sumatera, menulis dalam catatan perjalanannya bahwa pencegahan Scurvy dapat dilakukan dengan meminum jus lemon.

Percobaan ini diteruskan pada tahun 1753 oleh James Lind (1716-1794), seorang ahli bedah angkatan laut Skotlandia. Tahun 1770-an, James Cook kapten kapal laut Inggris mengangkut Jeruk India untuk dibawah berlayar. Hasilnya, hanya satu kru kapalnya terkena penyakit ini. Seandainya Cook tidak melakukannya, sejarah tidak akan mencatat namanya sebagai penemu benua Australia.

Akhirnya, jeruk dipercaya sebagai buah ajaib yang menyembuhkan penyakit Scurvy. Eiichiro Oda penulis komik One Piece pastinya mempelajari sejarah pelayaran ketika membuat desain kapal bajak laut dengan pohon jeruk di atasnya.

Belakangan baru diketahui bahwa penyakit ini disebabkan oleh kekurangan Vitamin C. Kebetulan, jeruk kaya akan Vitamin C. Konon, pelaut India merahasiakan penggunaan jeruk dalam perbekalan pelayaran kepada bangsa Barat. Politik isolasi kepada bangsa Barat memang dijalankan oleh bangsa India dan bangsa Arab.

Jalan memutar yang harus dicapai bangsa Barat melalui Afrika Selatan (Tanjung Harapan) merupakan ulah bangsa India dan Arab yang enggan memberikan rute menuju rempah-rempah dan juga tentu saja blokade Turki pada jalur perdagangan Konstatinopel berperan sangat efektif mengasingkan bangsa Barat dari perdagangan Asia.

Sebenarnya penyakit ini bukanlah hal baru dalam sejarah kuno. Peradaban Mesir kuno sudah mencatat penyakit ini pada tahun 1550 SM dan ditulis Hipokrates sejak 400 SM (Stone, 1966). Namun pelaut Barat menanggung pengorbanan terlalu banyak untuk mencapai pengobatan penyakit ini karena mereka tidak belajar sejarah peradaban kuno. Semoga kita tidak demikian.

Sumber: islami.co

Bagikan tulisan ini: