Stadion Harus Inklusif: Menyoal Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas di Ruang Publik

Jalanan menuju stadion terasa padat. Deretan kendaraan roda empat berurutan mengular dengan rapi, ibarat python raksasa yang berkelok-kelok. Sementara kerumunan pengendara sepeda motor berkerumun memenuhi sisi lain boulevard panjang menuju parkiran.

Aku bersyukur itu semua sudah kulalui beberapa menit yang lalu. Dengan langkah tergesa aku memasuki pintu masuk utama stadion sore itu. Plakat besar berisi lirik anthem kebanggan, Song For Pride, kulalui tanpa sempat kubaca. Biasanya aku melakukan ritual untuk berhenti membacanya sesaat sebelum aku memasuki jalur khusus untuk insan pers yang akan meliput pertandingan. Terdengar seperti takhayul, tapi begitulah yang selama ini aku lakukan sebelum memasuki stadion.

“Mas Gombloh, tumben terlambat?” Sapa pak Sapari, seorang steward kenalanku.

“Iya pak, agak terlambat tadi berangkatnya dan kemacetannya luar biasa, padahal laga ini bukan laga bigmatch lho,” jawabku menjelaskan sembari tersenyum dan menyalami pak Sapari dengan hangat. Aku berlalu, bergegas dengan langkah lebar-lebar menuju pintu akses khusus pegiat media. 

Dalam jarak sekitar sepuluh meter sebelum aku sampai di pintu tersebut, langkah kakiku terhenti. Aku melihat beberapa orang mengantri di depan lift. Sebagian dari mereka duduk di kursi roda, sebagian yang lain berdiri, sepertinya mereka adalah pengantarnya. Dari raut mukanya nampak wajah-wajah penuh kekecewaan.

“Iki fasilitas opoo.... waktunya dipakai malah macet!” Dengan nada geram, seorang bapak-bapak bertubuh kurus dengan mengenakan atribut lengkap klub mengumpat. Sesaat kemudian suasana menjadi riuh karena umpatan-umpatan tadi terdengar seperti suara tiga batalion tawon yang berdengung keras tanpa irama. 

Rupa-rupanya lift yang sebenarnya merupakan fasilitas yang disediakan khusus untuk penyandang disabilitas. Masalah tersebut memang bisa diselesaikan secara teknis oleh pihak maintenance stadion, namun tentunya akan memakan waktu yang cukup lama. Tak pelak yang terjadi adalah para pengantar tadi menggendong kerabat mereka yang menggunakan kursi roda. Aku hanya bisa membawakan kursi roda mereka dibantu oleh beberapa steward yang bertugas di lantai bawah. Bukan pekerjaan yang mudah, mengingat ada beberapa trap tangga yang harus dilalui. Tak jarang ketika para penggendong kelelahan, kami bergantian. 

“Apa kejadian seperti ini sering terjadi pak? Lift mati dan tak bisa digunakan?” Tanyaku pada pak Sapari yang turut membantu kami.

“Sering mas, sepertinya ada masalah kelistrikan yang tidak beres saat instalasinya. Tapi ada yang menarik lho mas, begitu lift ini bisa dipakai, justru yang lebih banyak menggunakannya adalah penonton yang bukan penyndang disabilitas.” Pak Sapari menjawab sembari sedikit bercerita dari apa yang selama ini dia perhatikan kala bertugas.

Mendengar penuturannya, mataku memandang langit-langit nun jauh di atas sana, berpikir penuh tanda tanya. Sambil terus berjalan pikiranku tak berhenti, masih dipenuhi tanda tanya. Kenapa fasilitas vital justru sering mengalami disfungsi? Bagaimana selama ini perawatannya? Jika ini sering, apakah tidak dilaporkan? Bagaimana tindak lanjutnya? Kenapa justru penonton yang tidak menyandang disabilitas tidak lebih memilih tangga sebagai akses menuju tribun? Kenapa mereka malas sekali berjalan dan lebih memilih menggunakan lift? Dan masih ada banyak sekali pertanyaan yang muncul tanpa menemukan jawaban.

Tak terasa aku sudah memasuki tribun khusus awak media peliput pertandingan, kulihat pertandingan sudah dimulai. Segenap ingatan akan kejadian tadi hilang dari kepalaku, aku melupakannya. Seolah terlewat begitu saja tanpa ada arti. Pergi,... hilang,... dan lupakan.

***

Genap sekitar sebulan dari kejadian itu, ada momen lain yang seolah membuatku terseret kembali kepada kejadian itu. Kejadiannya berawal dari interaksiku bersama ibu. Sebagai informasi saja, ibuku sudah tua renta. Meski kemampuan motoriknya masih terbilang bagus, ada hal lain yang membuatku sedih.

Beliau sudah tiga tahun ini mengalami penurunan daya ingat dengan signifikan. Pihak kedokteran mengistilahkannya dengan demensia, sementara kita lebih mengenalnya sebagai kepikunan. Demensia adalah sindrom yang dihasilkan oleh banyak faktor. Selain penyakit alzheimer, stroke, dan penyumbatan pembuluh darah menjadi penyebab utama terjadinya demensia. 

Merawat pasien demensia itu membutuhkan kesabaran dan rasa cinta. Aku tidak bilang seperti itu hanya karena dia ibuku. Namun kupikir saat sisi kemanusiaan kita tergugah, yang terlihat bukanlah sebagai sosok ibu yang kukenal selama ini. Di mana ada sisi-sisi emosional kita yang tersentuh oleh empati karena dia yang melahirkanku, merawatku sejak kecil, menyekolahkanku, dan bahkan masih sering menanyakan apakah aku sudah makan di tengah semua kesibukanku. Aku berusaha menyingkirkan sudut pandang kompleks yang penuh emosional seperti itu dan lebih menyederhanakannya. Di sini, aku melihatnya sebagai sosok manusia yang tak berdaya karena disabilitasnya, oleh karena itu kita wajib untuk menolong dan membantunya.

Awalnya ibu hanya sekedar lupa di mana tadi meletakkan benda-benda yang digunakannya. Namun semakin hari kondisi ingatannya semakin menurun. Ibuku tidak hanya lupa namaku, tapi dia bahkan sering tidak mengenaliku dan menganggapku sebagai orang asing. Terkadang dia mengingatku sebagai adiknya yang sudah lama meninggal, terkadang dia menganggapku sebagai rekan kerjanya saat masih mengajar sebagai guru dulu, tapi ibu lebih sering melihatku sebagai orang asing yang tak dikenalnya. Sering kami seperti bermain permainan “apa ini, apa itu” untuk mengenali benda-benda di sekitarnya atau sambil membuka-buka album foto kami bermain “siapa ini-siapa itu” untuk menggugah memorinya akan orang-orang yang dikenalnya. Tindakan-tindakan ini disebut sebagai brain gym , latihan untuk mempertahankan daya ingat dan memperlambat kepikunan secara total.

Ada kalanya kami duduk berdua membicarakan hal-hal yang begitu absurd, sementara aku juga harus mencerna susunan kalimat yang membingungkan, terbalik-balik dan tak berstruktur. Juga kosakata-kosakata baru yang sulit kumengerti. Yang jelas, aku harus bisa masuk dalam dunia imajinernya agar bisa memahami apa yang diceritakan ibu. Ada kalanya kita harus ramah dan membuatnya tersenyum saat gesturnya mulai defensif. Ada kalanya kita kritis dalam berinteraksi guna untuk membantu ingatannya kembali. Satu kesimpulanku adalah, jangan membuatnya marah, kecewa, atau merasa sendiri. Keadaan batin yang sedih akan semakin memperparah kondisi fisik dan ingatannya. Penyandang demensia mungkin mengalami kesulitan berpikir, namun mereka tetap bisa merasakan.

Dalam satu obrolan kecil, tibalah aku dan ibuku dalam satu percakapan. Ibuku bertanya kepadaku.

“Kenapa to kamu mengenakan baju bewarna hijau hari ini?”

“Hari ini Persebaya main bu, dan aku bersemangat sekali untuk menontonnya nanti.”

“Persebaya itu apa kok harus ditonton?”

“Persebaya itu tim sepak bola kebanggaanku bu. Dan aku selalu menonton mereka walau cuma lewat televisi saja.” Aku berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sesederhana mungkin agar dia mengerti, meski aku tak berharap dia akan memahaminya juga.

“Nonton bola kok di televisi, nonton bola ya di stadion.” Jawabnya pendek dan ketus.

Aku terperanjat mendengar celetukannya. Jujur aku merasa terpaku dan kaku tak bisa bergerak. Paralyzed istilahnya dalam game-game yang biasa dimainkan anak-anakku. Bagaimana bisa ya ibu menyampaikan itu kepadaku? Kalimatnya tersusun dengan rapi dan bisa dimengerti. Terutama yang membuatku tertampar adalah kalimatnya yang lebih terasa sebagai ledekan kepadaku, bahwa menonton sepak bola itu ya ke stadion, bukan melalui siaran di televisi. 

Belum selesai dengan keterkejutanku, aku dikejutkan lagi dengan celetukan dia selanjutnya.

“Coba aku sekali-kali kamu ajak ke stadion buat nonton bola.” Masih dengan nada nyinyir dan meledek. Seperti merasa kalau selama ini aku tidak cukup memberinya perhatian.

Bagaimana bisa aku membawanya ke stadion? Pasti akan sangat-sangat ribet sekali. Dari parkiran menuju tribun harus melalui jarak yang tidak pendek. Tangga terlalu melelahkan, andai menggunakan kursi roda tapi liftnya sering mati. Belum lagi jika nanti di sana ibu tiba-tiba merasa tak nyaman dengan keramaian, bingung berada di mana. Pikiranku dijejali dengan bayangan-bayangan yang belum terasa merepotkan namun belum tentu terjadi. Tanpa sadar aku sudah berlaku tidak adil kepada ibuku hanya karena dia tua, sulit bergerak banyak, dan menderita demensia. 

Di sini aku belajar bahwa perhatian dan cintalah yang bisa membuat penderita demensia bisa melalui hari-harinya dengan bahagia. Penting bagi kita untuk menganggapnya sebagai manusia yang sama sebelum mereka menderita demensia. Bagaimanapun juga penderita demensia adalah manusia yang utuh juga. Ibuku menampar ketidaksadaran dalam apa yang kusebut sebagai kesadaran yang waras melalui kata-katanya justru di saat dia mengalami demensia. 

Pernyataannya yang terakhir membuat anganku terseret lagi pada situasi di stadion kala para penyandang disabilitas mengalami kesulitan untuk sampai pada tribun buat menonton pertandingan sebulan yang lalu. Sebagai sebuah fasilitas umum yang bisa diakses untuk semua kalangan masyarakat, stadion juga harus memiliki kelengkapan yang layak untuk para penyandang disabilitas. Mereka juga berhak untuk mengakses dan menggunakan fasilitas tersebut. Dan pastikan semua kondisinya bisa berfungsi dengan baik. Itulah harapanku andai suatu saat nanti aku bisa mengajak ibu untuk hadir di stadion, menemaniku menonton tim kebanggan berlaga.

Melalui pernyataan ibuku seolah-olah aku bisa mendengar keluhan semua penderita disabilitas yang selama ini mengeluhkan kondisi fasilitas umum yang tidak bisa diakses oleh mereka. Pernyataan dari seorang penderita demensia yang sebelumnya kuremehkan tidak bisa berpikir secara terstruktur dan mudah dimengerti, ternyata menamparku dengan keras. 

Seolah berkata: “Aku ini juga manusia yang sama seperti kalian, aku juga punya hak yang sama seperti kalian, jangan jadikan kekuranganku menjadikan hak-hakku dikesampingkan.”

Melalui pengalaman ini aku berharap bahwa fasilitas-fasilitas publik bisa menyediakan akses dan fasilitas tambahan khusus bagi penyandang disabilitas yang bisa digunakan sebagaimana mestinya. Aku berharap juga agar masyarakat kita yang tidak menyandang disabilitas juga bisa menjaga, menghormati akses dan fasilitas tersebut dengan tidak menggunakannya untuk kepentingan sendiri. Junjung semangat toleransi ini dimulai dari stadion kita tercinta.

Author

Bagikan tulisan ini: