Tradisi Maulid, Pesantren, dan Kaum Santri

Bulan Maulid atau Robiul Awwal adalah salah satu tradisi umat Islam yang dianut sejak lama sebagai bentuk penghormatan, ekspresi cinta atas penyambutan kelahiran manusia agung yang menjadi suri teladan umat manusia yakni Nabi Muhammad Saw. Nabi yang memberi cahaya kebenaran melalui nilai-nilai ajaran agama Islam, selayaknya dirayakan. 

Perayaan maulid dilakukan dalam rangka mempelajari sejarah biografi Rasulullah Saw maupun membedah untuk meneladaninya. Yang sering kita temukan di masyarakat umum adalah pembacaan Al-Barzanji secara berkelompok yang diiringi oleh alat musik tradisional seperti “terbang jawa” dan “rebana” serta mendapat hidangan Nasi tumpeng atau sajian snack dari pemilik rumah. 

Tradisi ini terus mengakar dan masih bertahan meski zaman telah berganti. Bahkan dalam dinamikanya, tradisi maulid yang diperingati setiap satu tahun sekali justru mengalami transformasi dan perubahan yang cukup signifikan. Hal ini bisa dilihat dari kesenian alat musik   yang mengiringi mulai tergantikan dengan “hadrah” hingga berkat yang dibagikan masyarakat sangat variatif, baik dari segi kemasan maupun isinya. 

Perayaan maulid Nabi di desa penulis sendiri disebut mauludan. Tradisi tersebut biasanya dilaksanakan di masjid, mushala maupun rumah warga selama dua belas hari. Dan diikuti oleh ratusan santri yang mukim di beberapa pesantren yang ada di desa. Di hari itu semua santri dikerahkan oleh pengasuh pesantren untuk bergabung dengan warga setempat dan turut ambil peran dalam rangkaian acara. 

Orang-orang di desa akan bergotong royong menyumbang dana, trotog, sound-system, dan oleh-oleh makanan “berkat”, dalam jumlah banyak, yang saat ini dikemas dalam berbagai wadah baik menggunakan ember maupun wajan panci yang merupakan simbol keberkahan tradisi tersebut. 

Di desa,  perayaan maulid juga dimeriahkan dengan parade yang diikuti oleh ratusan santri dari berbagai pesantren yang ada di kecamatan, lembaga pendidikan dari setingkat SD, SMP hingga SMA dan berbagai organisasi masyarakat lintas iman dengan menampilkan keragaman seni budaya daerahnya masing-masing. Hal ini juga sekaligus memperingati hari santri yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober. 

Biasanya puncak acara peringatan maulid Nabi  mengundang sejumlah ulama dan tokoh lintas agama  kabupaten dalam event pengajian akbar yang dibuka untuk  kalangan masyarakat umum. Perayaan maulid Nabi tidak berhenti pada euforia saja, tetapi juga edukasi bagi generasi baru dalam memperkenalkan tradisi. 

Kisah Nabi dalam berbagai redaksi terangkum jelas, dimana penyambutan kelahiran Nabi Muhammad Saw dirayakan dengan beragam tradisi masyarakat saat itu, tentu tidak berlebihan jika hari ini umatnya dari berbagai belahan dunia ikut menyambut dengan tradisi daerah masing- masing. Tanpa meninggalkan substansi dari peringatan maulid Nabi itu sendiri. 

Termasuk  tradisi maulid di desa penulis sendiri, maulid  sebagai momentum untuk menguatkan persatuan masyarakat dan santri. Dimana para santri yang datang dari berbagai daerah dengan tradisi budaya berbeda kemudian membaur dengan masyarakat desa dan mengenal serta mempelajari budaya, tradisi, bahasa dan kearifan lokal yang ada di desa, tempat mereka tinggal.

Di desa, kehadiran santri di tengah masyarakat  menjadi bagian yang tak terpisahkan kaitanya dengan tradisi. Dari situlah simbol budaya masyarakat setempat diterapkan pesantren dan lambang budaya pesantren menyatu dengan masyarakat.  Kearifan ini tentu tidak terlepas dari peran ulama setempat, bukan?

Bagikan tulisan ini: