Vaksin: Pemutus Mata Rantai Covid-19

Penularan Covid-19 terus mengalami kenaikan dan jumlah angka korban terus meningkat di seluruh dunia, gejala utama ataupun gejala klinis yang dialami oleh seseorang yang diduga terinveksi Covid-19 adalah demam tinggi di atas 37,5 derajat celsius, badan terasa lemah, batuk kering, mata merah (konjungtivitas), sakit kepala, diare, iritasi, nyeri dada, sesak nafas, dan hilangnya indera penciuman. Namun yang juga harus diwaspadai adalah banyaknya yang terinfeksi Covid-19 tanpa gejala klinis, orang inilah yang akan menjadi agen pembawa virus untuk orang di sekitarnya, utamanya yang beresiko tinggi tertular dan menjadi korban adalah mereka yang rentan seperti anak anak, orangtua dan mereka yang memiliki penyakit bawaan.

Orang tanpa gejala umumnya memang tidak muncul gejala klinis, tetapi data terbaru menunjukkan adanya gejala delirium. Gejala delirium muncul akibat gangguan syaraf seperti gelisah juga sulit membedakan malam dan siang, sulit membedakan nyata dan halusinasi, gampang emosi, mudah mengantuk, mudah lupa bahkan menarik diri dari lingkungan. Patut diwaspadai juga jika Covid-19 menyerang sampai ke otak maka akan berakibat sama atau lebih berbahaya lagi.

Maka agar terhindar dari virus Covid-19, bisa dilawan dengan kepatuhan semua pihak untuk taat pada protokol kesehatan. Cuci tangan memakai sabun, mengenakan masker, mengkonsumsi teratur makanan sehat dan bergizi, olahraga, jaga jarak, dan menghindari kerumunan adalah upaya preventif (pencegahan) terhadap penularan Covid-19. Di masa libur panjang ke depan, seperti Natal dan Tahun Baru 2021, protokol kesehatan harus diperketat di semua area publik. Selain upaya diri dan keluarga untuk selalu patuh pada protokol kesehatan, upaya pencegahan penularan Covid-19 yang lain bisa dengan melakukan rapid test antibodi ataupun juga bisa dengan rapid test antigen untuk hasil yang lebih akurat.

Parameter preventif rapid test antibodi untuk mengetahui hasilnya paling cepat 15-20 menit. Rapid test antibodi akan muncul hasilnya reaktif atau tidak jika sudah ada gejala dan umumnya gejala akan muncul dalam lima hari atau lebih setelah masa inkubasi. Rapid test antibodi kurang begitu akurat mendeteksi virus Covid-19 dalam tubuh karena hasil reaktifnya menunggu terbentuknya antibodi dalam tubuh merespons adanya virus Covid-19 yang masuk, dan ini membutuhkan waktu 5-7 hari atau lebih setelah terpapar. Sedangkan rapid antigen langsung bisa terdeteksi saat terinveksi dini oleh Covid-19 karena dengan metode usap (swab) dengan mengambil sampel dari lendir hidung atau tenggorokan. Rapid tes antibodi hasilnya adalah nonreaktif dan reaktif sedangkan rapid antigen atau swab antigen langsung menunjukkan hasil negatif atau positif saat terinfeksi virus Covid-19.

Upaya preventif dengan protokol kesehatan dan juga melalui rapid test ternyata tidak cukup. Ini dibuktikan angka positif Covid-19 yang terus meningkat tidak hanya di Indonesia tetapi juga Dunia. Memang butuh upaya bersama untuk mengakhiri pandemi ini. Ketidakpatuhan pada protokoler seperti demo omnibus law, kerumunan di masa Pilkada hingga yang viral akhir akhir ini kerumunan di Petamburan Jakarta membuat lebih sulit upaya bersama untuk mengakhiri pandemi ini. Maka vaksin Covid-19 yang aman dan digratiskan ke seluruh masyarakat Indonesia menjadi solusi paling nyata untuk menyelesaikan masalah akibat Covid-19 di Indonesia.

Vaksin Sinovac digunakan untuk memutus mata rantai Covid-19 di Indonesia. Penggunaan Vaksin ini memang disegerakan seiring terus meningkatnya korban dan pasien akibat virus Covid-19. Tidak ada yang bisa menjamin kondisi tubuh seseorang dan banyak orang rentan di sekitar kita seperti orangtua, lansia, anak-anak, dan orang dengan penyakit bawaan. Anak kecil organ tubuhnya belum matang, sedangkan orangtua organ tubuhnya mengalami penurunan fungsi secara alami. Ini yang menyebabkan resiko tinggi jika tertular.

Memang ada alternatif lain selain vaksin untuk pencegahan ataupun penyembuhan Covid-19 yaitu dengan terapi plasma darah, tetapi banyak yang menilai plasma darah tidak efektif karena antibodi yang terbentuk di tubuh manusia kadang tidak bisa memproduksi antibodi yang banyak dan juga varian Covid-19 yang berbeda beda berdasar adaptasi iklim dan tempat (mutasi). Sehingga kebutuhan antibodipun berbeda, ini alasan plasma darah dipandang belum efektif sampai saat ini untuk menghentikan atau sebagai obat Covid-19.

Vaksin Sinovac terbukti secara klinis aman, ini dikatakan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan masih menunggu uji efektivitasnya. BPOM sangat serius untuk menilai kelayakan vaksin Sinovac. Meskipun seperti itu, masih banyak perusahaan farmasi di semua negara terus berproses untuk mengembangkan vaksin yang ideal menangkal virus Covid-19 yang bermutasi dengan berbagai varian. Tetapi minimal vaksin yang datang di Indonesia merupakan vaksin yang sudah dinyatakan aman untuk digunakan.

_________

Poin poin diatas merupakan paparan dan hasil diskusi antara Narasumber dan peserta di program Ngobrol tentang Pesantren dan Santri (NGOPI) Pusat Studi Pesantren dan Pendidikan (PUSPPA) dengan tema “Imun, Iman, Aman : Pesantren Menyongsong Vaksin Covid-19 ” bersama Narasumber apt. M. Ikhsan Jufri, S. Farm., M.Sc. Dosen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Militer Universitas Pertahanan Republik Indonesia dengan dimoderatori oleh Widowati MAISARAH, SIP., MA. Hari Kamis tanggal 17 Desember 2020 pukul 19.30 – 21.00 WIB melalui aplikasi Zoom.

Bagikan tulisan ini: