Menteri Kebudayaan Fadli Zon berkukuh bahwa tidak ada perkosaan massal yang terjadi di puncak kisruh tragedi 1998. Bahkan, setelah dicecar para wakil rakyat di DPR RI dan disodori laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998, ia berdalih bahwa yang ia permasalahkan adalah kata ”massal”. Ia tetap meyakini itu semua hanya rumor tanpa bukti hukum, yang mengisyaratkan bahwa tidak terjadi pelanggaran HAM berat kala itu.
Pandangannya menafikan kesaksian para pendamping korban dan pencari fakta, juga menafikan kesimpulan Pelapor Khusus PBB untuk Kekerasan terhadap Perempuan yang diundang resmi oleh Pemerintah Indonesia, setelah ia menemui para penyintas pada akhir tahun 1998. TGPF menyampaikan ada 168 korban kekerasan seksual yang telah mereka temui, termasuk perkosaan langsung.
Bahkan, Menteri Kebudayaan 2025 ini menafikan sikap pemerintah periode-periode sebelumnya, sejak Presiden BJ Habibie tahun 1998 sampai sikap Presiden Jokowi yang memasukkan kerusuhan Mei 1998 sebagai pelanggaran HAM berat masa lalu yang sedang diupayakan penyelesaiannya.
Namun, yang paling menyedihkan tentu dampaknya kepada korban dan keluarga korban, yang sampai sekarang masih hidup dalam trauma dengan luka fisik dan batin yang mendalam. Mereka terus menanti keadilan sejati dan penyelesaian yang tak kunjung tiba. Alih-alih mendapatkan jalan terang, harapan mereka terempas oleh sikap Menteri Kebudayaan tahun ini. #IndonesiaGelap adalah sesuatu yang riil bagi mereka.
Lepas dari kemungkinan agenda politik di balik sikap baru Pemerintahan Prabowo melalui menteri kebudayaannya, menarik untuk menyaksikan bagaimana Fadli Zon tetap bertahan dengan pandangannya walaupun fakta-fakta dan tokoh-tokoh dengan kredibilitas tinggi telah menyanggahnya. Sontak, beberapa orang di ruang jejaring sosial menyematkan predikat Si Paling Benar kepada Sang Menteri karena tidak mau membuka pikirannya.
Si Paling memang istilah trendi kekinian, digunakan dalam berbagai konteks, tetapi bersifat sarkastik karena membawa konotasi negatif. Misalnya, Si Paling Kopi ditujukan kepada orang yang membincang tentang kopi dengan bersemangat. Atau Si Paling Vegan, dialamatkan kepada orang yang terlalu sibuk mendakwahkan gaya hidup vegannya.
Predikat Si Paling biasanya disematkan kepada mereka yang berlebihan dalam hal terkait, bahkan memiliki kecenderungan menghakimi liyan atau menutup mata terhadap realita atau pandangan yang berbeda. Salah satu di antara predikat yang paling populer adalah Si Paling Benar, yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan menganggap kebenaran yang diyakininya sebagai mutlak dan cenderung menghakimi yang berbeda.
Sikap Si Paling Benar ini tidak hanya muncul secara individual, tetapi juga dapat terjadi dalam setting kelompok. Misalnya dalam kasus-kasus intoleransi atas nama agama, sikap inilah yang mendasarinya. Kejadian penggerudukan dan perusakan terkait retret remaja di Cidahu, Sukabumi, beberapa waktu lalu dapat menjadi gambarannya.
Bill Crawford, penulis buku Life From the Top of The Mind, mengatakan bahwa sikap Si Paling Benar dapat dilihat dari sudut neurosains. Alih-alih berangkat dari kebenaran yang diyakininya dan rasa percaya diri, Si Paling Benar justru dikendalikan oleh sikap reaktif dan upaya melindungi diri dan kepentingannya.
Si Paling Benar (self-righteousness) merupakan bentuk berbeda dari bersikap dan bertindak benar (righteous), demikian menurut Leon F Seltzer dalam artikel ”Righteous vs Self-Righteous” di laman Psychology Today (Psychologytoday.com). Righteous ditandai dengan keyakinan berbasis prinsip moral fundamental, misalnya keadilan dan kepatutan.
Sementara itu, self-righteous datang dari keyakinan pribadi, sering kali tanpa dilandasi prinsip moral fundamental tersebut sehingga memunculkan sikap merasa lebih tinggi atau lebih berhak dari pihak-pihak lain. Karena itu, menurut Jonathan Haidt dalam buku The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion (2012), sikap Si Paling Benar ini berkelindan dengan identitas kelompok dan membentuk sikap dan perilaku membela kelompok dengan militan atau fanatis.
Sejarah memberikan banyak fakta bahwa sikap Si Paling Benar pada level kelompok masyarakat ini menyulut konflik dan bahkan peperangan. Konflik berdarah Hutu dan Tutsi berujung genosida di Rwanda pada 1990-an dipicu oleh hal ini. Apartheid dan diskriminasi atas warna kulit juga disebabkan oleh sikap merasa paling tinggi derajatnya.
Tidak dapat dimungkiri, apabila sikap Si Paling Benar ini muncul dalam ruang publik dan berkelindan dengan kekuasaan, dampaknya bisa berbahaya. Pejabat yang tidak mampu melihat dari sudut pandang warga bangsa dan realita akan berujung pada pengambilan kebijakan yang otorianistik, mengabaikan suara rakyat.
Kelompok masyarakat yang bersikap menang-menangan karena merasa memegang kebenaran akan cenderung melanggar hak-hak kelompok masyarakat yang lainnya, terutama saat mereka menjadi kelompok mayoritas. Merasa menjadi mayoritas ditambah merasa superior karena klaim kebenaran akan menjadi formula yang berisiko besar saat terjadi konflik komunal.
Walaupun tren si paling-paling ini terkesan main-main, khusus konteks Si Paling Benar perlu untuk mendapat perhatian kita. Perpecahan sosial terjadi karena kita tidak mampu menghargai keberagaman pandangan. Dalam konteks bangsa, hukum dan kesepakatan hidup berbangsa menjadi panduan untuk menjaga sikap Si Paling Benar ini tetap terkendali.
Salah satu pandangan Imam Syafii yang terkenal adalah pendapat kita boleh jadi benar, tetapi berpeluang salah, sementara pendapat lainnya boleh jadi salah, tetapi berpeluang benar. Apabila Sang Imam yang demikian bijaksana dan luas wawasannya saja berpandangan seperti ini, betapa sombongnya kita yang meyakini kebenaran ada di pihak kita dan karenanya kita tak mungkin salah.
_______________
Artikel ini dimuat pertama kali di rubrik “Udar Rasa” Kompas, 13 Juli 2025









