Arsip Kategori: Opini

G30S dan Pelajaran Maaf dari Gus Dur

30 September merupakan hari yang kelewat kelam dalam gerak kehidupan dan kesejarahan kita  berbangsa. Pangkalnya, rantai ingatan tentang prosesi pembantaian jenderal-jenderal di Lubang Buaya pada tahun '65 amat membekas dalam setiap pikiran generasi penerus bangsa sampai hari ini. Seperti biasa, ada yang memahaminya dalam bingkai kritis juga dogmatis. Di satu sisi kita melihat kutub revisonis-kritis…
Read more

Pendeta kok GUSDURian: Kisah Perjumpaan Saya dengan Pemikiran Gus Dur

"Pendeta kok GUSDURian?" Itulah candaan yang dari dulu sampai hari ini sering dilontarkan kepada saya. Lalu apa respons saya? “Ya saya adalah Gus Dur Lover!” Bagi saya, Gus Dur adalah sosok yang sangat bersahaja dan tiada duanya. Sikap, perkataan, dan seluruh perjalanan Gus Dur-lah yang meyakinkan saya bahwa Islam adalah agama yang menghargai keberagaman, humanis,…
Read more

“Berjumpa” Gus Dur di Makassar: Dari Pelajaran Keberagaman hingga Pentingnya Mendengar

Ketika Suaib Prawono, Kordinator Jaringan Gusdurian wilayah Sulawesi menelpon beberapa waktu yang lalu, dia mengajak saya untuk ikut workshop tentang penguatan kapasitas tokoh agama dalam perspektif keragaman yang diselenggarakan oleh Seknas GUSDURian, saya berpikir sejenak dan kemudian langsung mengiyakan. Ini suatu kesempatan yang sangat berharga dan sangat menarik, karena topik yang menjadi perbincangan dalam kegiatan…
Read more

Membangun Lingkaran “Hermenutika Mendengar”: Dari Ko-eksistensi Menuju Relasi Pro-eksistensi

Saya adalah tenaga pengajar di Universitas Negeri Gorontalo sebagai pengampu mata kuliah Pendidikan Agama dan mata kuliah Wawasan Budaya. Dua mata kuliah ini menarik buat saya. Misalnya mata kuliah agama ada materi tentang hubungan dan kerukunan antarumat beragama. Sementara pada mata kuliah wawasan budaya, materinya menyangkut keragaman budaya. Sebelum saya mengajar biasanya saya melalukan apersepsi…
Read more