Peringati Haul Gus Dur, GUSDURian Pekalongan Gelar Walking Tour Keberagaman

PEKALONGAN – Di penghujung tahun 2025 ini bisa menjadi waktu refleksi bagi kita untuk melakukan perenungan atas segala riuhnya dunia karena melihat kerusakan alam. Tepat pada Sabtu, (27/12) kemarin, Komunitas GUSDURian Pekalongan dan Komunitas Teman Jalan Pekalongan berkolaborasi membuat agenda Walking Tour Keberagaman. Agenda ini juga sebagai peringatan Haul ke-16 Gus Dur yang mengusung konsep ekoteologi.

‎Walking Tour Keberagaman ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak muda tentang pentingnya nilai-nilai agama hadir dalam pelestarian alam. Oleh karenanya, dua komunitas ini memilih lokasi Linggo Asri. Agenda ini dilaksanakan di area Pura Kalingga Satya Dharma dan Taman Candi Nusantara, Desa Linggo Asri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Sekitar 35 orang mengikuti agenda ini yang mayoritas terdiri dari anak muda. Peserta berkumpul di Pendopo Kabupaten Pekalongan dan mulai diberangkatkan pukul 08.45 WIB menuju Pura Kalingga.

‎Sepanjang agenda ini, peserta tidak sekedar melakukan perjalanan namun peserta juga diajak untuk mengenal dan memahami makna, etika, dan budaya masyarakat Hindu. Tidak hanya itu, peserta juga diajak mengenal makna arsitektur peninggalan Hindu di Museum Taman Candi Nusantara. Terakhir, peserta juga diajak untuk mempraktikkan meditasi di area wisata Linggo Asri yang dipandu oleh Ibu Kusnaeni.

‎Adanya agenda ini memantik kesadaran peserta untuk memahami etika dan budaya masyarakat Hindu. Harapannya kesadaran ini dapat membawa semangat peserta untuk ikut menjaga toleransi dan pelestarian alam melalui nilai-nilai agama. Sebagaimana Ibu Kusnaeni mengatakan bahwa salah satu makna ajaran Hindu yaitu menyadari keberadaan Tuhan melalui pohon karena pohon telah memberikan kehidupan untuk manusia. Maka, masyarakat Hindu tetap menjaga keseimbangan alam dengan merawat pohon.

‎”Masih banyak masyarakat non-Hindu termasuk Muslim yang melihat kami itu mikirnya kami syirik menyembah pohon dan patung. Dan cara sembahyang kami juga berbeda dengan mereka. Padahal kami bukan bermaksud menyembah pohon, tapi memberikan ucapan terima kasih kepada alam karena telah memberikan kehidupan berupa oksigen,” ujar Kusnaeni, penyuluh agama Hindu saat sharing session di Balai Parsaman.

“‎Sehabis menerima informasi mengenai agama Hindu dari sumbernya dan langsung di tempatnya, semoga teman-teman, peserta Walking Tour Keberagaman semakin memahami makna toleransi. Penting juga toleransi tersebut diimplementasikan dalam hubungan manusia pada alam. Bahwa pohon, misalnya, adalah makhluk Tuhan. Patut dihormati. Sehingga tidak memperlakukannya semena-mena, seperti yang sudah-sudah, dalam jumlah besar bahkan manusia menebangnya dengan membabi-buta,” jelas Amir Muzaki, Koordinator GUSDURian Pekalongan.

‎”Dilihat dari hari H-nya, peserta keliatannya antusias dan fokus memperhatikan penyuluh agama Hindu memberikan penjelasan dan mengikuti sampai akhir kegiatan. Mereka juga berminat bila ada kegiatan semacam ini lagi,” tutup Farisa, Teman Jalan Pekalongan. 

Penggerak Komunitas GUSDURian Pekalongan, Jawa Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *