KEDIRI – Komunitas GUSDURian Mojokutho Pare mengadakan Haul Gus Dur ke-16 pada Sabtu, 27 Desember 2025. Haul Gus Dur ke-16 kali ini dihadiri oleh berbagai lapisan kalangan, dari pejabat pemerintah Kabupaten Kediri, Komunitas ABK se-Pare, hingga kelompok marjinal.
Kegiatan ini dibuka dengan penampilan teman-teman ABK dari SLB Pare diiringi oleh Fakir Musisi, Acoustic GUSDURian Batu, dan Reggae GUSDURian Peduli Wates.
Selain itu, teman-teman inklusi juga menampilkan tari tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa teman-teman berkebutuhan khusus sama seperti manusia pada umumnya. Mereka bisa bersosialisasi, mereka mempunyai bakat, dan mereka berhak dihargai di khalayak ramai. Dengan ini kita bisa memupuk nilai luhur yang Gus Dur teladankan untuk lebih peka terhadap teman-teman inklusi.
Kegiatan diakhiri dengan doa lintas iman dan peresmian Rumah Kemanusiaan GUSDURian dengan penandatangan prasasti peresmian dan potong tumpeng.
Seperti yang tertulis dalam Jurnal Gerakan GUSDURian edisi 2 tahun 2024, Rumah Kemanusiaan GUSDURian tercipta melalui proses yang pelik dan tidak mudah. Berawal dari Sanggar Bocah Dolanan (Sangbodol 2008-2015), kemudian Sanggar Anak Semua Bangsa (Ranseba) dan Rumah Lansia Kus Nugroho (2015-2018), hingga saat ini terbentuklah Rumah Kemanusiaan GUSDURian yang menjadi tempat bagi mereka, lansia dan anak yang terasingkan dunia, yang sudah tidak dianggap ada oleh keluarga mereka.
Rumah Kemanusiaan GUSDURian menjadi saksi bisu jejak langkah perjuangan para relawan GUSDURian Mojokutho Pare dalam bergotong royong dan mendiseminasikan nilai “Kemanusiaan Ala Gus Dur”. Hal ini adalah wujud besar dan bukti cinta sesama dan nilai kemanusiaan yang harus terus diperjuangkan bersama-sama dalam setiap interaksi, dalam senyum yang diutarakan, dalam bantuan yang tidak memandang siapa yang dibantu, dan dalam pengorbanan yang diberikan tanpa mengharapkan balasan.
Rumah Kemanusiaan GUSDURian diresmikan langsung oleh Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau yang biasa disapa dengan Alissa Wahid selaku Direktur Jaringan GUSDURian, dan disaksikan oleh beberapa pejabat daerah Kabupaten Kediri.

Dikarenakan Rumah Kemanusiaan GUSDURian dihuni oleh mayoritas kaum lansia, Alissa Wahid menyampaikan bahwa perlu adanya campur tangan pemerintah untuk mengatasi hal ini bersama-sama.
“Pemerintah perlu mengadakan layanan atau program untuk lansia supaya lebih produktif dan meningkatkan angka harapan hidup, serta mengedukasi masyarakat untuk bersiap jika memiliki anggota keluarga lansia,” paparnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Antok Mbeler selaku Koordinator GUSDURian Mojokutho Pare, “Bapak berharap semoga simbah-simbahnya (para lansia) yang tinggal di sini senantiasa sehat. Semoga pihak-pihak terkait terutama pemerintah lebih memperhatikan agar dapat menjadi tanggung jawab bersama.”
Dengan diresmikannya Rumah Kemanusiaan GUSDURian ini, semoga kita dapat terus menanamkan dan menebarkan kebaikan cinta kasih kepada sesama, khususnya bagi yang lemah dan terpinggirkan.









