Tangis dan ratap kehilangan yang 16 tahun lalu bergema di seantero negeri itu masih lekat di ingatan saya. Kala itu, saya berusia 9 tahun. Saya menyaksikan di televisi (Metro TV, kala itu) bahwa telah berpulang Sang Guru Bangsa: Gus Dur. Saya pun bertanya pada bapak saya, mengapa sampai sebegitu banyaknya orang yang mengantarkan Gus Dur ke pemakamannya? Bahkan, saya masih ingat, saya juga menanyakan, “Mengapa kok ada orang beragama lain juga ikut bersedih di pemakamannya? Padahal, kan, Gus Dur itu orang Islam.”
Bapak saya hanya menjawab singkat. Intinya bapak saya mengatakan bahwa Gus Dur itu orang yang sangat baik, makanya beliau sangat dicintai banyak orang. Saya pun beranjak dewasa. Lambat laun saya mengerti bahwa memang benar apa yang disampaikan bapak saya kala itu, bahwa Gus Dur ialah orang yang sangat baik.
Pada saatnya, bertemulah saya dengan Taman Baca Mahanani. Sebuah taman baca dan ruang belajar yang terletak di pinggiran Kota Kediri. Setiap tahun, khususnya bertepatan pada tanggal 30 Desember, Taman Baca Mahanani selalu ajeg memperingati Haul Gus Dur. Menariknya, agenda haul tersebut juga tidak seperti acara haul-haul pada umumnya yang hanya berisi tahlilan dan tausiah.
Agenda Haul Gus Dur di Taman Baca Mahanani selalu dimulai dengan bedah buku karya pemikiran Gus Dur, dilanjut dengan tahlilan, “khotbah pinggiran” dari sesiapa yang kredibel di bidangnya, lalu dipungkasi dengan apresiasi seni yang menampilkan para pegiat seni–yang acapkali terpinggirkan–di wilayah yang jauh dari pusat-pusat kesenian, yakni Kediri.
Zaman yang Berubah dan Keadaan yang Tetap
Helatan Haul Gus Dur ke-16 di Taman Baca Mahanani kali ini mengusung tema “Menjaga Bumi, Merawat yang Terpinggirkan”. Pada helatan tersebut, buku yang dibedah yaitu Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman: Kumpulan Pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid Presiden ke-4 Republik Indonesia (Kompas, 1999). Alih-alih mendapat pencerahan, justru keresahan yang saya dapati setelah duduk khidmat mengikuti diskusi tersebut.
Bagaimana tidak, kumpulan tulisan yang ditulis oleh Gus Dur sejak 1991-1999 itu seakan-akan adalah tulisan yang baru saja beliau tulis kemarin sore lalu saya baca dengan getir pada pagi ini di sebuah koran. Singkatnya, tulisan-tulisan Gus Dur tersebut masih sangat relevan dengan keadaan hari ini.
Hal itu dapat kita rasakan, misalnya, bagaimana Gus Dur mendudukkan posisi ulama dan umara (pemerintah). Gus Dur mengidealkan bahwa posisi ulama seharusnya menjadi kontrol bagi pemerintah. Sayangnya, hari ini yang terjadi justru tidak demikian. Betapa sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak ulama yang justru membeo pada pemerintah.
Bahkan kita tahu, bahwa hari ini ormas keagamaan seakan menjadi juru siar pemerintah, tanpa mengontrol dan tanpa kritik yang tajam. Padahal Gus Dur–dan banyak dari kita, tentunya–sangat tidak menginginkan hal demikian. Apabila negara sudah membutuhkan ormas keagamaan untuk melegitimasi kekuasaannya, maka negara telah gagal menjadi pengayom masyarakatnya.
Saya pun teringat kutipan dari Syaiful Anam–salah satu pembedah buku pemikiran Gus Dur di Taman Baca Mahanani. Anam mengatakan bahwa agama tak butuh negara untuk menjadi benar, tetapi negara butuh agama agar tak sewenang-wenang. Hal itu, kata Anam, ia simpulkan setelah membaca dengan khidmat buku Gus Dur tersebut.

Sayangnya, yang terjadi hari ini justru semakin membuat kita mengelus dada. Negara butuh (ormas) agama untuk pembenaran agar kesewenang-wenangannya terampuni. Kita lihat saja, betapa pembangunan rumah ibadah bagi pemeluk agama yang non-mayoritas masih kerap dipersulit. Belum lagi terjadinya bencana yang kerap dipoles dengan kata “takdir”. Padahal hal-hal tersebut terjadi karena kelalaian manusia, keserakahan, dan ketidakberpihakannya pada yang terpinggirkan. Dengan begitu, pemerintah bisa lepas tanggung jawab dan diampuni oleh kata takdir.
Keadaan demikian seakan tak pernah berubah. Negara pun seakan tak pernah berbenah. Selain relasi antara pemerintah dan ulama yang saling silang sengkarut, relasi negara dengan masyarakat pun nampaknya kian tergerus secara akut. Padahal Gus Dur telah mengajarkan pada kita bahwa negara akan berkembang ketika ruang berpikir kritis dibuka dan ruang dialog digelar. Namun, bukankah jauh panggang dari api?
Belum lama ini seribuan orang ditangkap aparat hanya karena berdemonstrasi, mengungkapkan kegelisahannya, bahkan hanya karena menuliskan keresahannya di media sosial. Hal itu menegaskan bahwa negara tidak hadir sebagai pendengar yang baik bagi masyarakatnya. Kegelisahan dan ketimpangan yang terjadi dijawab dengan sepatu lars, moncong senjata, dan sel penjara. Saudara-saudara kita di Aceh dan di Papua pun tak luput dari hal itu. Ketika alam mereka rusak, habis, dan hancur dikeruk, mereka dengan jujur menyuarakan keadaannya. Bukannya didengar dan diperbaiki, justru TNI yang diterjunkan dan dijadikan alat untuk represi.
Padahal, Gus Dur telah mengajarkan sejak puluhan tahun lalu. Ketika di Aceh dan Papua bergolak, banyak orang-orang di sekitar Gus Dur mengingatkan agar beliau tak berkunjung ke sana. Tetapi Gus Dur menolak takluk. Beliau meyakini bahwa bagaimanapun mereka adalah saudara kita. Maka Gus Dur berangkat ke Aceh dan Papua. Bukan dengan moncong senjata, melainkan dengan hati yang tulus dan pikiran yang terbuka. Gus Dur mengajarkan bahwa konflik dapat diselesaikan dengan dialog, bukan dengan senjata.
Bumi dan Manusia yang Terpinggirkan: Kerap Terlupa, Kerap Terabaikan, Kerap Terkalahkan
Saat “Khotbah Pinggiran” yang dibawakan oleh Romo Maryanto, saya sempat lama tercengang. Bagaimana tidak, Romo Maryanto mengatakan dengan nada getir, bahwa bumi dan “wong cilik” kerap diingat ketika sudah benar-benar terpinggirkan alias di ambang kematian. Romo Maryanto juga menyinggung perihal air yang hari ini kian aneh perjalanan hidupnya.
Air di Indonesia seakan tak pernah kekurangan, tapi mengapa untuk minum pun kita harus beli? Bahkan, air yang jarang kita perhatikan perjalanannya itu bisa meluluh-lantakkan suatu wilayah dalam waktu yang singkat. Saya jadi teringat dalam buku Reset Indonesia yang ditulis Farid Gaban dan kawan-kawan. Saya kutipkan secara utuh kalimatnya: “Perjalanan sang air tak semata perjalanan hidrologi, juga perjalanan ideologi dan ekonomi politik.”
Dari sana saya teringat dengan Gus Dur dan Aceh. Andai saja Gus Dur masih ada, mungkin Aceh tak perlu bersedih karena bencana banjir yang telah menimpanya. Andai Gus Dur masih ada, mungkin saja hutan-hutan di sana tak ditebang serampangan, sebab Gus Dur pasti akan mendengarkan suara saudara-saudara di Aceh. Pasti Gus Dur juga akan mendengar suara-suara mereka yang terpinggirkan, yang untuk mandi hingga minum pun harus membeli air.

Membayangkan Demokrasi di Masa Depan bersama Gus Dur
Pasca-Haul Gus Dur ke-16 di Kota Kediri, saya pun membayangkan andai saja para pemimpin hingga ulama kita membaca, mengamalkan, dan meniru sepak terjang Gus Dur, setidaknya nasib kehidupan dan demokrasi kita ke depan akan menemukan kedewasaan serta kematangannya. Pada hari ini kehidupan berbangsa-bernegara kita seakan tak ke mana-mana. Bahkan saya juga curiga, jangan-jangan kita belum pernah berdemokrasi dengan baik.
Apabila berdemokrasi dengan baik, setidaknya di kampung-kampung, di warung-warung kopi, di dapur-dapur, masyarakat bisa dengan santai dan enjoy membicarakan negara. Masyarakat bisa dengan santai mengkritik pemimpinnya tanpa takut diintimidasi maupun diteror, sebab, bagi Gus Dur, jika hubungan pemerintah dengan masyarakat terlihat harmonis justru patut dicurigai. Jangan-jangan keadaan tersebut hanya dipaksa harmonis, agar tidak ada kritik, semua seragam dan disiplin.
Bukan seperti itu demokrasi yang dibayangkan Gus Dur. Demokrasi bukan pula pesta meriah lima tahun sekali yang memboncoskan anggaran. Demokrasi ialah ruang terbuka bagi pikiran kritis dan dialog. Bukan keharmonisan semu pula yang digadangkan oleh Gus Dur. Tetapi harmoni dalam segala perbedaan. Harmoni dalam kritik mengkritik, tanpa ada kokangan senjata, tanpa ada tuduhan makar.
Pada akhirnya kita pun merindukan Gus Dur. Bukan hanya sosok, tetapi nilai-nilai dari Gus Dur yang, sayangnya, tak dihidup-hidupi oleh elite politik kita. Nilai-nilai Gus Dur justru kita temukan dari pinggiran: pada mereka yang tulus merawat hutan adat, pada mereka yang memperjuangkan hak sesamanya, pada tukang becak di jalanan yang sayu menanti penumpang, pada guru honorer yang tulus mendidik namun gagap memenuhi kebutuhan, pada para pemeluk agama yang harus menyembah Tuhan secara sembunyi-sembunyi di negara yang memiliki sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.
Gus Dur, kami rindu.









