BANYUWANGI – 30 Desember 2009, inspirator kemanusiaan bangsa Indonesia, yakni KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), telah meninggalkan dunia dengan penuh duka. Jutaan rakyat kehilangan sosok kosmopolit, yang kerap mendengungkan demokrasi dan kebebasan berpendapat, memihak golongan-golongan terpinggirkan, dan menjunjung tinggi perbedaan sebagai kesatuan.
Di puncak Haul Gus Dur yang ke-16, Komunitas GUSDURian Banyuwangi berkolaborasi dengan Perkumpulan Pemberdayaan Masyarakat Paradigma, menggelar baritan sungai dan aksi tanam pohon lintas iman. Giat yang dilaksanakan pada Minggu pagi (4/1/26) di DAM Sempol, Dusun Sumberasih, Desa Sumberarum, Songgon, ini melibatkan komunitas pemuda setempat dan juga elemen lintas iman.
Muhammad Sholeh Muria, Koordinator GUSDURian Banyuwangi, menyebutkan bahwa kolaborasi ini dilakukan untuk terus menyuarakan aksi-aksi positif. Baritan Sungai sendiri, katanya, merupakan simbol dalam nguri-nguri (merawat) tradisi.
“Kami berkolaborasi dengan Paradigma ini adalah bentuk kesadaran dan komitmen kolektif dalam terus menggaungkan gerakan yang positif. Kita tahu, bahwa tradisi baritan sungai adalah bentuk syukur kita kepada Tuhan. Tradisi para pendahulu harus senantiasa kita hidupkan, kita lestarikan. Agar generasi selanjutnya tahu dan diharapkan tidak tercerabut dari tradisi yang ada,” terang Bang Sholeh, sapaannya (4/1/26).
Bersama dengan saudara lintas iman, Sholeh menegaskan bahwa alam menjadi entitas yang harus dijaga bersama. Tidak memandang agama apa pun.
“Setiap keyakinan memiliki prinsip untuk menjaga alam. Seperti dalam Islam, misalnya, saat kiamat tiba pun, jika kita sedang memegang benih, maka kita harus menanamnya. Demikian juga pasti terdapat dalam agama-agama yang lain. Alam dan manusia punya hak dan perannya masing-masing. Dan dalam menjaganya, bukan hanya setiap pemeluk agama, tetapi setiap manusia, punya kewajiban akan hal ini,” tambahnya (4/1/26).

Demikian halnya juga disampaikan tokoh pemuda setempat, yakni Imam Baja. Ia menyatakan terima kasih karena DAM Sempol telah menjadi lokasi giat penanaman pohon dan baritan sungai. Ia berharap, komitmen untuk terus menjaga alam tidak pernah pudar.
“Kami sangat berterima kasih, karena Haul Gus Dur ditempatkan di sini, utamanya kepada penyelenggara kegiatan ini, yakni GUSDURian dan Paradigma. Kami berharap aksi tanam pohon maupun upaya melestarikan tradisi, seperti baritan sungai ini, menjadi komitmen yang terus kita giatkan bersama,” ujar pria yang dipanggil Mas Imam itu (4/1/26).
Giat pelestarian alam dan tradisi yang dilakukan GUSDURian Banyuwangi dan Paradigma ini diawali dengan tahlil, pemotongan tumpeng dan diakhiri dengan aksi menanam pohon bersama saudara lintas iman. Pengunjung wisata DAM Sempol yang sedang berlibur di sini pun diajak untuk memeringati Haul Gus Dur. Semua ini dilaksanakan dengan penuh khidmat dan rasa persaudaraan.









