Banguntapan Belajar: Upaya GUSDURian Yogyakarta Berikan Ruang Pendidikan Alternatif

Saya membuka tulisan ini dengan sebuah kutipan dari Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of Freedom: “Barangsiapa mengajar, ia belajar dalam tindakan mengajar, dan barangsiapa belajar, ia mengajar dalam tindakan belajar.”

Belajar dan mengajar merupakan sebuah aspek penting dan berkesinambungan dalam proses pendidikan di Indonesia. Tetapi pendidikan di Indonesia nampaknya belum berjalan dengan seharusnya dan semestinya. Setiap pergantian kepemimpinan maka arah kebijakan pun berganti, belum lagi soal pemerataan pendidikan di pelosok negeri yang jauh dari kata setara. Ditambah, ongkos pendidikan yang mahal terkadang tidak terjangkau bagi kelompok urban dan masyarakat kelas menengah di Yogyakarta.

Maka dari itu, GUSDURian Yogyakarta mencoba untuk hadir dalam upaya pendampingan masyarakat di Desa Banguntapan, Bantul, D.I. Yogyakarta. Upaya tersebut ialah menghadirkan pendidikan alternatif bagi anak-anak TK dan SD setiap hari Kamis yang diadakan di PAUD Padukuhan Sorowajan. Pendidikan alternatif yang kami tawarkan bukan hanya seperti bimbingan belajar pada umumnya, namun juga ada pendidikan tematik yang diajarkan kepada anak-anak.

Pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, penggerak GUSDURian Yogyakarta mengadakan pembukaan kelas Kamis Ceria yang bertemakan ekologi dan ketahanan pangan. Acara dimulai dari pembukaan yang dibuka oleh Kak Najma –salah satu pengajar dan penggerak komunitas– untuk memperkenalkan kegiatan ini kepada orang tua dan kepada kelompok PKK serta Bapak Dukuh yang hadir. Selain itu juga anak-anak diajak untuk bermain serta berkegiatan bersama untuk menambah kegembiraan yang ada.

Adapun permainan yang pertama ialah Ular Tangga Ekologi, di mana anak-anak bermain ular tangga dengan melempar dadu dan berjalan sesuai nilai dadunya. Di beberapa kotak ular tangga, terdapat pertanyaan seputar tema yang diambil. Pengajar akan mengajukan pertanyaan pada siapa saja yang pionnya berada pada kotak pertanyaan, pada kotak tangga, dan kotak ular. Pertanyaan yang diberikan pun seputar ekologi dan ketahanan pangan. Misal, apa buah yang bisa dimakan dengan kulitnya? Atau sebutkan tiga macam rempah-rempah dapur? Permainan ini difasilitatori oleh pengajar lainnya, yaitu Kak Nanik dan Kak Naufal, yang mana mereka adalah penggerak GUSDURian Yogyakarta.

Di luar ruangan ada kegiatan melukis botol plastik yang akan digunakan untuk praktik menanam tanaman pangan. Anak-anak antusias dalam melukis botol yang digunakan itu. Kak Najma melihat bahwa anak-anak yang melukis memiliki sense of art, hal ini terlihat dari gambar yang mereka lukis dan warna-warna yang mereka padukan. Botol-botol bekas tersebut akan dijadikan pot untuk menanam tanaman yang akan mereka rawat ke depannya.

Setelah bermain ular tangga dan melukis, anak-anak yang hadir diajak untuk menanam bersama yang dipandu oleh Kak Wasil. Kak Wasil menjelaskan bahwa untuk menanam tanaman dibutuhkan media tanam, tanah, dan pemupukan awal. Seperti layaknya manusia yang membutuhkan tempat tinggal maka tanaman juga harus memiliki ruang hidup, yakni berada di tanah yang subur. Anak-anak diajak untuk memasukkan media tanah dan pupuk awal ke dalam botol yang mereka sudah lukis. Kemudian anak-anak memilih bibit tanaman seperti terong, tomat, atau cabai untuk mereka tanam. Satu pesan dari Kak Wasil adalah setelah ditanam maka sampai di rumah mereka harus memberikan air untuk pertumbuhan tanaman serta harus merawatnya.

Kak Wasil yang juga merupakan mantan Koordinator GUSDURian Yogyakarta menyampaikan harapannya, dengan diadakannya Kamis Ceria, anak-anak memiliki ruang lebih untuk bahagia terutama dalam hal bermain dan belajar. Mereka juga memiliki waktu leluasa untuk bermain dan beraktivitas di rumah, karena kita tahu bahwa sistem full day school membuat anak-anak menghabiskan terlalu banyak waktu di sekolah. Kak Wasil mengatakan bahwa belajar itu memang perlu tapi ada waktu juga untuk bermain, karena bermain juga merupakan salah satu bentuk kegiatan untuk merangsang kreativitas dan critical thinking anak-anak.

Penggerak GUSDURian Yogyakarta melalui program pendampingan desa Banguntapan mencoba untuk berperan aktif dalam pembangunan masyarakat. Tentunya membangun warga desa yang mandiri dan aktif bisa berperan di dalam kehidupan sosial dalam masyarakat itu sendiri. Misalnya dalam masyarakat terdapat kelompok yang bisa mandiri dalam perumusan pembangunan, khususnya dengan instansi pemerintah dalam Musrembangdes. Dapat dikatakan bahwa itu adalah outcome program jangka panjang GUSDURian Yogyakarta.

Melalui Kamis Ceria diharapkan ada sebuah penghubung untuk bisa menjangkau dan berkomunikasi dengan warga Desa Banguntapan, khususnya Dusun Sorowajan. Sehingga ke depan GUSDURian Yogyakarta juga menyasar masyarakat dengan usia yang lebih beragam, terutama untuk keluarga yang ada. Sehingga perlu sinergitas bersama antara penggerak dan perangkat desa yang ada.

Mahasiswa CRCS UGM. Penggerak Komunitas GUSDURian Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *