Opini

Dialektika Sepak Bola dalam Pemikiran Gus Dur

Di tengah gegap gempita penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, sepak bola kembali menunjukkan dirinya sebagai bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai bangsa. Turnamen terbesar di dunia ini tidak hanya menghadirkan persaingan olahraga, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan budaya, identitas, diplomasi, hingga kepentingan politik global. Setiap pertandingan bukan sekadar perebutan kemenangan, melainkan juga representasi dari dinamika sosial yang mengiringi kehidupan manusia.

Dalam konteks inilah pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang sepak bola menjadi semakin relevan. Bagi Gus Dur, sepak bola tidak pernah berhenti pada skor akhir, trofi, ataupun statistik pertandingan. Lapangan hijau merupakan miniatur kehidupan, tempat manusia belajar tentang strategi, solidaritas, kepemimpinan, hingga demokrasi. Karena itu, sepak bola dapat dibaca sebagai ruang dialektika sosial-politik yang sarat makna.

Gus Dur dikenal sebagai seorang pengamat sepak bola yang menggunakan olahraga sebagai metafora untuk menjelaskan realitas sosial dan politik. Dalam artikel berjudul Catenaccio Hanyalah Alat Belaka yang dimuat di Harian Kompas (18/12/2000), ia menjelaskan bahwa berbagai strategi permainan, seperti Catenaccio Italia maupun Total Football Belanda, pada hakikatnya hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Menurut Gus Dur (2000), keberhasilan sebuah strategi sangat ditentukan oleh kemampuan membaca situasi, bukan oleh fanatisme terhadap satu pola permainan tertentu. Gagasan ini sekaligus menjadi kritik terhadap praktik politik yang sering kali mempertahankan satu pendekatan secara kaku tanpa mempertimbangkan perubahan zaman.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa Gus Dur tidak memisahkan dunia olahraga dari kehidupan berbangsa. Ia melihat strategi sepak bola sebagai refleksi strategi politik. Catenaccio yang identik dengan pertahanan ketat dapat dianalogikan sebagai model kekuasaan yang defensif dan cenderung mempertahankan status quo, sedangkan Total Football mencerminkan masyarakat yang terbuka, egaliter, dan adaptif terhadap perubahan (Gus Dur, 2000). Melalui bahasa sepak bola yang sederhana, Gus Dur mampu menjelaskan persoalan demokrasi, kepemimpinan, hingga kehidupan sosial dengan cara yang mudah dipahami oleh masyarakat luas.

Pandangan itu juga tampak dalam buku Gus Dur dan Sepak Bola yang diterbitkan Imtiyaz (2014). Dalam berbagai kolomnya, Gus Dur tidak hanya mengulas pertandingan, tetapi juga mengaitkan sepak bola dengan dinamika pembangunan, kebudayaan, serta kehidupan politik Indonesia (Imtiyaz, 2014). Bagi Gus Dur, sepak bola adalah cermin masyarakat. Apa yang terjadi di lapangan sering kali mencerminkan apa yang berlangsung dalam kehidupan berbangsa.

Hal tersebut diperkuat oleh MH Nurul Huda (2015) yang menyebut bahwa cara Gus Dur membaca sepak bola merupakan bentuk metafora falsafah politik. Kompetisi antartim mencerminkan kompetisi gagasan dalam demokrasi, sedangkan kerja sama antarpemain menggambarkan pentingnya solidaritas sosial. Tidak ada satu pemain yang mampu memenangkan pertandingan seorang diri. Demikian pula sebuah bangsa tidak akan maju tanpa kolaborasi seluruh elemen masyarakat (Huda, 2015).

Relevansi pemikiran tersebut semakin nyata ketika dikaitkan dengan Piala Dunia 2026. Turnamen ini bukan hanya mempertemukan negara-negara terbaik di lapangan hijau, tetapi juga menghadirkan berbagai dinamika politik dan sosial global. Penyelenggaraan bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada menjadi simbol diplomasi kawasan Amerika Utara melalui olahraga. Di sisi lain, isu migrasi, keamanan lintas negara, komersialisasi industri sepak bola, kampanye antirasisme, serta penghormatan terhadap keberagaman menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan turnamen tersebut.

Apabila Gus Dur masih bersama kita hari ini, besar kemungkinan ia akan membaca Piala Dunia 2026 bukan hanya sebagai kompetisi olahraga, melainkan sebagai panggung dialog antarbangsa. Baginya, kemenangan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang jauh lebih penting ialah bagaimana olahraga mampu memperkuat kemanusiaan, mempertemukan perbedaan, serta menjadi sarana membangun perdamaian di tengah dunia yang masih diwarnai konflik dan polarisasi.

Sebagaimana ditulis oleh Rijal Mumazziq Z. (2019), Gus Dur merupakan salah satu tokoh yang konsisten memandang sepak bola sebagai medium refleksi sosial. Analisisnya terhadap pertandingan selalu melampaui persoalan teknis permainan dan berujung pada nilai-nilai kemanusiaan (Mumazziq, 2019). Perspektif inilah yang membuat pemikirannya tetap relevan hingga hari ini.

Di Indonesia sendiri, sepak bola tetap menjadi olahraga dengan basis massa terbesar. Antusiasme masyarakat terhadap tim nasional maupun kompetisi internasional menunjukkan bahwa sepak bola telah menjadi bagian dari identitas sosial bangsa. Dalam perspektif Gus Dur, besarnya antusiasme tersebut seharusnya diarahkan sebagai modal sosial untuk memperkuat persatuan, bukan menjadi sumber konflik akibat fanatisme sempit maupun permusuhan antarsuporter.

Pada akhirnya, sepak bola dalam perspektif Gus Dur bukan sekadar permainan sebelas lawan sebelas, melainkan laboratorium kehidupan. Di dalamnya terdapat strategi, kerja sama, kompetisi, kepemimpinan, kegagalan, dan kemenangan yang mencerminkan dinamika masyarakat. Ketika dunia menyaksikan Piala Dunia 2026 dengan seluruh kompleksitas politik, ekonomi, dan budayanya, pemikiran Gus Dur mengingatkan bahwa olahraga semestinya menjadi ruang yang mempertemukan kemanusiaan, bukan mempertajam permusuhan.

Sebagaimana Catenaccio hanyalah alat, demikian pula politik hanyalah sarana. Tujuan akhirnya tetap sama, yaitu menghadirkan keadilan, persaudaraan, dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia (Gus Dur, 2000). (SDH)

A’isy Hanif Firdaus

Penggerak Komunitas GUSDURian Brebes. Kontributor NU Online Jawa Tengah.