Opini

Ketika Dominasi Harus Terus Dibuktikan

Hari ini kita hidup pada zaman ketika segala sesuatunya tampak telah ditentukan. Politik seolah telah dikuasai oligarki, ekonomi seakan tunduk pada kekuatan pasar global, masa depan sering terbayangkan sebagai sesuatu yang hanya dapat diterima, sukar diubah.

Namun anehnya, di tengah suasana seperti itu, terdapat jutaan orang justru menunggu satu hal sangat sederhana tatkala pagelaran Piala Dunia berlangsung: pesona tim underdog meladeni dominasi tim-tim besar. Barangkali, tanpa disadari, harapan atas tim-tim kuda hitam bukan sekadar soal sepak bola. Tetapi cermin kerinduan manusia terhadap kemungkinan bahwa dominasi, betapapun kokohnya, masih dapat digoyahkan.

Kerinduan itu boleh dikata mulai tumbuh dan menguat saat Piala Dunia 2022 lalu manakala Maroko secara unbelievable sukses memulangkan Portugal di fase perempat final. Apalagi Gol Youssef En-Nesyri yang membawa Maroko menang 1-0 atas Portugal sangat fenomenal karena lompatan sundulannya mencapai 2,78 meter, melampaui rekor sundulan ikonik sebelumnya yang dimiliki sang mega bintang Portugal itu sendiri, Cristiano Ronaldo. Momen bersejarah ini sekaligus menjadikan Maroko sebagai negara Afrika dan Arab pertama yang berhasil mencapai semifinal Piala Dunia.

Pada Piala Dunia 2026 ini, begitu Maroko mampu menyingkirkan Belanda secara sengit lewat adu penalti di fase knockout 32 besar, lalu menang mudah melawan Kanada dengan skor 3-0, dan kini menunggu jadwal menantang tim favorit juara, Perancis, menjadi harapan yang sangat dinantikan oleh kerinduan manusia dalam melawan kekuatan dominasi.

Beberapa hari lalu, sebetulnya Mesir, melanjutkan upaya de-hegemonisasi yang dilakukan Cape Verde atas dominasi Argentina, hampir saja memberikan pelukan super hangat dan menggembirakan bagi kerinduan itu. Sayang sekali, magis GOAT Messi dan kekuatan virtù sekuat La Albiceleste yang diselimuti fortuna bernama VARgentina tetap gagal dibendung oleh kekhusyukan King Moh Salah dan riyadhoh sekuat Mesir dengan filosofi benteng pertahanan Piramidanya. Andai pamor Haissem Hassan tidak habis bahan bakar di menit 73’ mungkin saja fortuna VARgentina berbalik arah.

Antara virtù dan fortuna

Tetapi mari kita kembali menyoal virtù dan fortuna yang dimiliki Argentina secara Machiavellian. Dalam The Prince, kemenangan, menurut Machiavelli, tidak pernah diwariskan secara cuma-cuma oleh sejarah. Biasanya yang diwariskan oleh sejarah hanyalah reputasi. Sementara kemenangan selalu ditentukan dan diuji oleh kemampuan bertindak dalam situasi yang konkret. Lihat saja, gelar juara bertahan Argentina nyatanya tidak otomatis membuat mereka mudah mencetak gol atau gampang memenangkan duel-duel penting.

Jerih payah yang dilakukan Argentina menegaskan bahwa kemenangan hanya dapat dicapai melalui virtù: kecakapan membaca permainan, keberanian mengambil resiko, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang terus berlangsung sepanjang pertandingan sebagai wujud mentalitas pemenang.

Menyimak dua pertandingan yang sudah dilakoni Argentina, skuat Cape Verde dan Mesir sebetulnya adalah dua hal yang mendorong munculnya bentuk fortuna lain yang, dalam pandangan Machiavelli, dapat mengganggu intensitas sekaligus mentalitas dominasi Argentina. Sebab, menurut saya, dalam sepak bola fortuna bisa mewujud dalam rupa perubahan tempo permainan, tekanan psikologis masing-masing tim, kesalahan individu, pantulan bola, keberanian akselerasi pemain lawan, momentum bola mati, kiper yang tiba-tiba hoki, dan tentu keputusan wasit.

Argentina boleh saja datang dan bermain dengan kualitas jauh lebih tinggi dibandingkan Cape Verde dan Mesir. Namun begitu peluit dibunyikan dan bola mulai menggelinding, pertandingan segera dipenuhi unsur-unsur yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan. Demikianlah fortuna dalam logikakuasa Machiavellian: bukan sekadar bermakna keberuntungan, melainkan seluruh dimensi ketidakpastian yang membuat dominasi tidak pernah benar-benar seratus persen aman.

Ada paradoks yang menarik dipahami dari kemenangan Argentina atas Cape Verde dan Mesir. Terlepas dengan kontroversi-kontroversi yang terjadi, sebagai juara bertahan, Argentina memang akhirnya tetap melaju ke babak selanjutnya. Namun kemenangan dalam dua laga terakhirnya justru memperlihatkan sesuatu yang berlawanan dengan citra yang selama ini dilekatkan pada sebuah tim besar—apalagi bagan fase knockout Argentina dianggap mudah. Dua laga Argentina melawan Mesir dan Cape Verde menampilkan ironi yang memberi tahu kita bahwa semakin tinggi status dominasi, semakin besar pula beban untuk terus mempertahankan sekaligus membuktikannya.

Reproduksi dominasi

Sebuah dominasi sebetulnya bukanlah keadaan yang semata-mata dimiliki begitu saja, melainkan sesuatu yang harus terus direproduksi. Dalam kasus Argentina, status juara bertahan tidak bekerja bagai mahkota yang otomatis selalu menjamin kemenangan pada tiap laga yang dilakoninya. Malahan lebih menyerupai klaim yang harus terus-menerus dibuktikan—melalui penguasaan ruang, pengambilan keputusan, ketenangan menghadapi tekanan, hingga kemampuan bertahan ketika lawan tampak mulai menemukan celah.

Kalau kita pernah membaca maksud hegemoni dalam definisi Gramscian, ada gema yang saling mengait. Bagi Gramsci, hegemoni tidak merupakan posisi yang begitu diraih sudah selesai. Sebaliknya, hegemoni adalah suatu proses tanpa henti yang terus-menerus mereproduksi diri. Artinya, kekuasaan tidak bertahan hanya karena ia telah menang, tetapi karena ia masih terus dan tetap berhasil mempertahankan sekaligus memperbarui legitimasi serta efektivitas dominasinya.

Dalam skala berbeda, pertandingan sepak bola memperlihatkan logika dominasi serupa. Argentina tidak memenangkan pertandingan karena mereka datang sebagai juara bertahan. Justru sebaliknya, status juara bertahan tersebut baru memperoleh maknanya sejauh mereka mampu mempertahankan dan memperbaruinya dalam setiap pertandingan yang selesai dilakoni.

Mengacu logika tersebut, satu hal yang mesti kita pahami adalah bahwa kemenangan Argentina atas Cape Verde dan Mesir tidaklah menunjukkan bahwa Argentina berhasil menaklukkan ketidakpastian. Dua pertandingan itu memperlihatkan bahwa Argentina masih mampu bertahan dan berhasil mereproduksi kekuatan dominasinya di tengah ketidakpastian. Di titik inilah virtù menemukan maknanya sebagai sebuah kecakapan untuk tetap mengambil keputusan yang tepat di saat kondisi tidak lagi berjalan sesuai rencana. Jadi, semakin besar dominasi seseorang, misalnya, maka semakin besar pula ketergantungannya pada kemampuannya untuk terus memperbarui virtù.

Tampaknya di titik ini pulalah letak kekeliruan kita selama ini ketika memandang dan memahami dominasi, baik dalam domain sepak bola maupun kehidupan politik. Kita sering membayangkan dominasi sebagai sesuatu yang kokoh dan final. Padahal setiap bentuk dominasi selalu mengandung kerentanannya sendiri. Dengan kata lain, semakin besar sebuah kekuasaan, semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk terus mempertahankannya. Dominasi tidak pernah berhenti bekerja dan mereproduksi diri karena ia tidak pernah benar-benar selesai.

Tentu saja formulasi ini berlaku pula pada upaya-upaya dominasi ihwal konsentrasi kekuasaan ekonomi, kekuatan oligarki, politik transaksional, dan sebagainya, terkhusus dalam situasi kehidupan masyarakat kita saat ini. Semua itu bukanlah dominasi yang secara alamiah bersifat kokoh dan final. Sebagaimana Argentina, dominasi yang mengelilingi dan mengendalikan kita sebetulnya memiliki kerentanannya masing-masing, yang oleh karenanya selalu melakukan reproduksi diri. Maka itu, dalam urusan sosial-politik, hari ini kita membutuhkan imajinasi perlawanan yang lebih baru.

Upaya pantang menyerah Cape Verde dan Mesir dalam memberikan perlawanan atas dominasi Argentina saya pikir membuka kemungkinan imajinasi itu tumbuh. Dominasi bukan takdir. Kekuasaan tidak pernah permanen. Selalu ada alternatif yang masih mungkin dilakukan. Satu pertanyaan pentingnya: kalau dalam sepak bola kita tahu dominasi harus terus direproduksi, mengapa dalam politik kita justru sering memperlakukannya seolah sesuatu yang sudah selesai? (SDH)

Oleh: Ahmad Miftahudin Thohari (Mahasiswa Magister Filsafat, Universita Gadjah Mada)

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian