Oleh: Farida Novita Rahmah
ANGIN dari arah selatan berhembus lirih, membawa bau tanah basah yang baru saja disiram hujan sore. Wangi kenanga jatuh dari halaman keputren, menyusup sampai ke dalam kamar putri seperti bisikan halus yang tak ingin pergi. Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir bagi seorang putri untuk menjadi dirinya sendiri.
Besok, ia akan menjadi milik kerajaan lain. Milik perjanjian, milik politik, milik sejarah yang ditulis oleh orang-orang yang bahkan tak pernah bertanya apa yang ia inginkan.
Putri Nawangsari berdiri di dekat jendela. Rambutnya hitam pekat sepanjang sesiku, telah diasapi sejak sore dengan bunga mawar dan kayu cendana. Saat ia bergerak sedikit, aroma wangi itu mengambang pelan, seperti kenangan yang ingin bertahan lebih lama sebelum hilang.
Kulitnya cokelat hangat, dilulur seharian oleh para dayang hingga wangi rempah dan bunga melekat lembut. Matanya jernih dan cantik, namun sering dinaungi alis yang bertaut—alis seorang perempuan yang terlalu sering bertanya, terlalu sering berpikir, terlalu sering merasa.
Kamarnya sunyi, berbeda dengan hiruk-pikuk di luar. Di sudut ruangan, rak kayu penuh naskah dan buku-buku tua: serat-serat Jawa, tembang macapat, kisah para pujangga yang menulis tentang rasa, para tabib yang menulis tentang obat dan ilmu alam, politikus yang memapar tentang dinamika masyarakat, dan pesuluk yang menutur tentang pencarian diri. Di antara lembaran-lembaran itu, Nawangsari belajar bahwa hidup seharusnya dijalani dengan kesadaran dan pengetahuan. Ia sering membaca hingga larut, bibirnya berbisik mengulang kalimat-kalimat yang terasa seperti doa. Ia tumbuh bukan hanya sebagai putri, tetapi sebagai perempuan yang tahu bahwa dunia lebih luas daripada tembok keraton. Namun malam itu, pengetahuan tidak cukup untuk meredakan sesak yang menghimpit dadanya.
Ia menatap keluar jendela, jauh ke arah gelap yang tak tersentuh cahaya istana. Di sana ada hutan. Hutan yang sejak kecil ia panggil rumah kedua. Di sana tidak ada aturan. Tidak ada tatapan pengawas. Tidak ada kewajiban untuk tersenyum anggun. Hanya pohon-pohon tinggi yang berdiri seperti orang-orang tua yang sabar mendengar rahasia.
Sebelum senja tadi, ia sempat menunaikan salat dengan khusyuk. Ia tidak memohon agar takdir dihapuskan, sebab ia tahu takdir tak selalu bisa ditolak. Ia memohon agar hatinya dikuatkan untuk memilih dengan jujur, setidaknya sekali dalam hidupnya.
“Putri harus beristirahat,” suara embannya terdengar lembut namun tegas dari balik pintu.
Nawangsari tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, tersenyum tipis. Istirahat bagi tubuh berarti penyerahan bagi jiwa.
Malam merambat pelan. Bunyi gamelan dari kejauhan mulai mengalun, mengiringi takdir yang telah diputuskan para lelaki di balairung. Ia menutup mata sesaat, lalu menarik napas panjang.
Kemudian, ia mengambil keputusan yang bahkan dirinya sendiri tak yakin berani. Ia memilih kebaya paling sederhana yang disukainya.
Tidak semewah busana yang disiapkan untuk upacara esok hari. Ia melilitkan kain dengan rapi, menyampirkan kerudung tipis di kepala. Dengan langkah senyap, ia menyelipkan keranjang bunga ke balik selendang.
Ia membuka pintu belakang keputren, melewati lorong gelap yang hanya diterangi cahaya bulan setipis sabit. Para penjaga malam terlalu sibuk dengan persiapan upacara, atau mungkin terlalu percaya bahwa putri tak akan melangkah keluar sendiri.
Namun malam itu, Nawangsari tidak ingin menjadi putri. Ia ingin menjadi manusia. Hutan menyambutnya seperti sebelum-sebelumnya. Di bawah kanopi daun yang saling berjalin, cahaya bulan jatuh berlapis-lapis, memecah gelap menjadi lorong-lorong perak. Ia melangkah ringan, seolah setiap akar yang menonjol sudah mengenal telapak kakinya sejak kanak-kanak.
Di tepi sungai kecil yang membelah hutan, Nawangsari berhenti. Airnya jernih, mengalir pelan di antara batu-batu licin yang berlumut. Ia duduk di sebuah batu datar, menyingkap kainnya sedikit, lalu menurunkan kaki ke air.
Ketika ia sedang menikmati suasana hutan, Nawangsari membuka mata cepat, jantungnya berdetak keras. Ia berdiri, namun belum sempat bergerak, sesuatu melesat dari balik semak.
Dua tangan kuat mencengkeram pergelangan tangannya dari belakang dan menariknya ke belakang hingga bahunya terangkat. Napasnya tertahan. Dunia menyempit pada cengkeraman itu.
Ia meronta. Tumitnya menghantam tanah. Siku mencari celah. Gerak refleks yang pernah ia pelajari dari seorang ahli bela diri yang menyamar menjadi tukang kebun keputren. Ia memutar tubuh, menurunkan pusat berat, lalu menyentak ke samping. Cengkeraman itu terlepas sepersekian detik—cukup baginya untuk berbalik. Ia melihat lelaki itu dengan jelas.
Kulitnya cokelat gelap, tubuhnya kokoh dan lebar, telanjang dada, berotot seperti dipahat dari kerja dan hutan. Sarung batik hijau melilit pinggangnya, menyatu dengan warna daun. Rambutnya hitam dengan semburat cokelat muda, jatuh acak di bahu.
Ia berdiri tegap, sunyi, siap, seperti bagian dari hutan itu sendiri. Nawangsari sempat terkesima sepersekian napas. Tapi hening itu segera pecah. Dengan gerak cepat, lelaki itu menjegal. Nawangsari terjatuh, punggungnya menghantam tanah. Sebelum ia sempat bangkit, kaki lelaki itu menekan punggungnya.
“Aaa… tolong! Tolong!” teriak Nawangsari, amarah dan panik bercampur. “Brengsek! Berani-beraninya kau!”
Tak ada jawaban. Daun-daun tetap diam.
Lelaki itu tidak tahu siapa yang ia tahan. Baginya, Nawangsari hanyalah bayangan ancaman. Ia menekan lebih kuat, seolah memastikan mangsanya tidak bisa bergerak.
Namun tubuh Nawangsari menolak tunduk. Ia memutar bahu, menyelipkan tangan, lalu memelintir kaki yang menahannya. Tekanan lepas. Lelaki itu terjatuh satu langkah, segera bangkit.
Mereka saling menyerang. Jurus demi jurus keluar tanpa aba-aba, bersih dan terukur, seperti bahasa yang sama-sama mereka pahami.
Nawangsari meraih ranting tajam yang tergeletak di tanah. Dengan satu hentakan, ia menusukkannya ke arah leher yang meleset. Ujung ranting hanya menggores kulitnya, meninggalkan garis tipis. Namun darah benar-benar keluar.
“Singkirkan benda itu,” suara lelaki itu rendah namun tegas, “atau kau kujatuhkan.”
Nawangsari menimbang sepersekian detik. Lalu ia melepaskan ranting itu. Kayu jatuh ke tanah dengan bunyi kecil, namun jelas. Mereka berdiri berhadapan, dada naik turun, keringat bercampur tanah.
“Kau hebat,” katanya singkat. “Tak banyak yang bisa berdiri setelah ditahan seperti itu.”
“Kau datang terlalu jauh,” katanya lagi, masih dengan napas berat. “Hutan ini bukan tempat bermain.”
Nawangsari menyeka tanah di lengannya. “Dan kau terlalu cepat menghakimi. Tidak semua yang masuk hutan berniat merusak.”
“Semua pemburu berkata begitu,” balasnya dingin. “Datang malam-malam, tanpa tanda. Kau pikir aku bodoh?”
“Kalau aku pemburu,” sahut Nawangsari, menegakkan bahu, “kau sudah tak berdiri di hadapanku sekarang. Siapa kamu sampai merasa berhak menyerang orang lain?”
“Aku penjaga,” katanya. “Yang tinggal, yang tahu luka- luka hutan ini.”
“Penjaga tak perlu menginjak,” Nawangsari menukas. “Cukup berdiri.”
Nada lelaki itu meninggi. “Kau tak tahu apa-apa tentang burung yang dibunuh, sarang yang dirusak, pohon-pohon ditebas sembarang!”
“Kau juga tak tahu apa-apa tentang aku,” ujar Nawangsari. “Tapi kau memilih percaya pada prasangka konyolmu.”
Sejenak mereka diam. Namun tatapan mereka beradu sekali lagi. Keras. Tegang. Seolah pertarungan belum selesai, hanya berganti medan.
Nawangsari melangkah menjauh tanpa menoleh. Namun, ia mendengar langkah lelaki itu mengikuti dari belakang, menjaga jarak, tapi tak pernah benar-benar berhenti. Itu membuatnya kesal sekaligus merasa aman, meski ia enggan mengakuinya.
“Berhenti mengikutiku,” katanya singkat.
“Aku hanya memastikan kau aman,” jawab lelaki itu. “Aman menurut siapa? Menurut orang yang tadi menahanku?”
Ia tidak menjawab. Hanya mengikuti. Nawangsari sampai di tepi sungai dan berlutut. Wajahnya basah oleh peluh. Rambutnya kusut. Bau tanah dan keringat menempel di kulitnya. Lebam samar mulai tampak di lengan dan punggungnya.
Ia menciduk air, membasuh wajah, menghela napas panjang.
“Maaf,” suara lelaki itu terdengar ragu, lebih pelan dari sebelumnya. “Aku keliru. Hutan memberi tanda. Mengatakan kau orang baik.”
Nawangsari berhenti sejenak, lalu kembali membasuh wajah. “Hutan tak perlu memberi tahu siapa aku,” katanya dingin. “Aku yang menanggung caramu memperlakukanku.”
“Aku menjaga,”
“Menjaga bukan berarti mencurigai semua yang lewat,” potongnya. Ia menoleh setengah. “Tinggalkan aku.”
“Tak bisa,” jawabnya. “Beberapa waktu ini hutan diganggu. Burung-burung pergi, air tanah menipis. Aku tak bisa berpaling begitu saja.”
Nawangsari berdiri. Air menetes dari ujung rambutnya. “Kalau kau lelaki baik-baik, dan ingin aku memaafkanmu, tinggalkan aku.”
Lelaki itu terdiam lama. Seolah kalimat itu lebih sulit diterima daripada luka.
“Aku akan menunggu,” katanya akhirnya. “Di sekitar gua itu.”
Nawangsari tidak menjawab. Ia turun ke sungai, membiarkan air mengalir di kulitnya, membersihkan tanah, lelah, dan sisa-sisa amarah. Malam kembali tenang, seolah pertengkaran tadi hanya gema yang perlahan pudar.
Namun saat ia ingin pulang, ia tersadar: ia tersesat.
Langkah yang semula yakin perlahan kehilangan arah. Jejak sungai menghilang, cahaya bulan terhalang kanopi yang semakin rapat. Ia berhenti, memutar badan, mencoba mengenali penanda seperti batu miring, pohon bercabang dua namun semuanya terasa asing.
Hutan yang tadi ramah kini seperti membuka wajah lain: sunyi yang berlapis, jarak yang menipu. Dan di depan sana, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Tanah terbuka menganga. Batang-batang pohon rebah berserakan, akarnya tercabut seperti tulang yang dipaksa keluar. Beberapa tunggul masih basah, lingkaran usia terpapar telanjang, puluhan, mungkin ratusan tahun, diputus begitu saja.
Daun-daun mengering. Tanah retak. Aroma getah bercampur luka.
“Siapa yang berbuat ini semua,” gumam Nawangsari lirih.
“Manusia,” jawab suara dari belakang. Tenang, namun berat.
Nawangsari menoleh. Lelaki itu berdiri beberapa langkah jauhnya. Kali ini tanpa sikap menyerang. Matanya menatap luka hutan seperti menatap tubuh seseorang yang ia kenal lama.
“Ada kelompok orang,” lanjutnya, “menebangi pohon
asal-asalan. Kayu dijual cepat. Tak ada hitung-hitungan usia, tak ada jeda. Pohon-pohon tua tumbang dalam hitungan minggu.”
Nawangsari berjalan mendekat, menyentuh salah satu tunggul. Serat kayu terasa dingin. “Lalu banjir?” tanyanya.
“Iya,” jawab lelaki itu. “Musim hujan datang, tak ada lagi resapan. Air turun sekaligus, menyapu apa pun yang dilewati.” Ia menunjuk ke arah lembah. “Kami menggali waduk darurat—aku dan beberapa orang desa. Mengalihkan arus supaya tidak menenggelamkan rumah. Kami buat saluran irigasi ke sawah desa sebelah, supaya air berlebih jadi penopang hidup, bukan malapetaka.”
Nawangsari menatapnya, ragu bercampur kagum. “Dan hutan ini?”
“Kami mulai menanam kembali. Bibit-bibit keras di bagian tinggi, tanaman penahan di lereng. Pelan. Butuh waktu. Butuh tangan. Masih banyak tugas yang harus diselesaikan.”
Ia berhenti sejenak, seperti memilih kata-kata yang paling tepat. “Aku keras padamu kemarin karena takut. Takut luka ini bertambah. Aku minta maaf.”
Nawangsari menarik napas panjang. Amarahnya mereda, menyisakan keprihatinan yang lebih luas. “Hutan bukan hanya pepohonan,” katanya pelan. “Ia ingatan. Ia masa depan.”
Lelaki itu mengangguk. Mereka berjalan menyusuri bagian hutan yang masih sela “Kalau hutan dijaga utuh,” katanya, “air tidak hanya turun saat hujan. Ia tinggal. Masuk ke tanah, mengalir pelan, memberi minum akar, sungai, dan jadi pengairan sawah. Manusia sering lupa: air tidak pernah berjanji datang dua kali.”
Nawangsari mengangguk. “Dalam serat yang kubaca,” katanya, “alam adalah amanah. Bukan milik. Yang mengaku memiliki, akan kehilangan. Yang merawat, akan diberi cukup.”
“Maka merusak satu,” sambung Nawangsari, “adalah melukai banyak.”
Mereka terus berjalan. Kadang berhenti lama. Kadang tertawa kecil saat menemukan jejak rusa atau sarang burung yang masih selamat. Kedekatan itu tumbuh tanpa pengakuan. Ia lahir dari kesamaan cara memandang hidup.
Nawangsari memperhatikannya diam-diam. Lelaki itu tampak nyaris tak bercela. Tubuhnya tegap. Napasnya teratur. Sorot matanya jernih. Kontras dengan dirinya yang menyisakan lebam keunguan dan bekas tonjolan kecil.
Pada lelaki itu hanya ada satu tanda: gores tipis di leher. Bekas ranting yang tadi ia ayunkan. Garis kecil itu justru membuatnya terasa lebih nyata.
Waktu melunak. Hutan seperti menahan napas agar momen itu tak pecah. Seakan-akan malam itu ingin menjadi selamanya. Namun pada akhirnya, pagi datang.
Cahaya menyelinap pelan di antara dedaunan, menimpa tanah yang masih menyimpan sisa embun. Api kecil tinggal bara. Hangatnya menipis seperti malam yang ditarik pergi.
Nawangsari duduk tenang, menatap garis tipis asap yang naik lalu hilang di udara. Ada keheningan yang berbeda pagi itu. Bukan keheningan hutan. Melainkan keheningan keputusan.
Tiba-tiba burung-burung terbang serentak dari arah barat. Disusul suara langkah kaki—banyak, teratur, memecah sunyi.
Nawangsari berdiri lebih dulu. Lelaki itu segera memahami. Sorot matanya berubah waspada. Ia menoleh ke sela pepohonan, membaca arah angin.
“Pengawal,” bisik Nawangsari. Suara itu semakin jelas. “Putri…! Putri…!”
Lelaki itu mundur selangkah. Dalam satu gerak sunyi, ia menghilang di balik rimbun bayang, menyatu dengan batang dan daun seperti tak pernah ada.
Nawangsari sempat menoleh ke arah tempat ia menghilang. Hanya sepersekian detik. Cukup untuk menyimpan sesuatu yang tak terucap.
Para pengawal muncul dari sela pepohonan dengan wajah tegang yang berubah lega saat melihatnya berdiri utuh.
“Gusti Putri…” Suara mereka nyaris pecah. “Kami mencari semalaman.”
Nawangsari mengangguk tenang. Wajahnya kembali seperti yang mereka kenal—hening, anggun, tak menyisakan jejak gelisah. Seolah hutan hanyalah mimpi singkat yang tak perlu diceritakan.
“Aku baik,” katanya sederhana. Tak ada penjelasan. Tak ada alasan. Dan tak seorang pun berani bertanya lebih jauh.
Ia melangkah di tengah kepungan pengawal, kembali menuju arah istana. Langkahnya mantap, tegak, membawa wibawa yang tak retak oleh semalam yang panjang. Namun jauh di belakang, di antara bayang pepohonan, seseorang berdiri diam memandangi kepergiannya tanpa panggilan, tanpa hak untuk menahan.
***
Nawangsari duduk di hadapan cermin tinggi. Rambutnya disisir perlahan. Wajahnya dipoles tipis. Tangannya terlipat tenang di pangkuan. Namun di dalam dirinya, ada gelombang yang tak lagi sama. Ia kini tahu dunia di luar tembok benar- benar ada. Dan dirinya… juga ada di sana.
“Upacara akan disiapkan kembali, Gusti Putri,” bisik emban lembut. Nawangsari mengangguk. Tak ada penolakan. Tak ada air mata. Hanya penerimaan yang lahir bukan dari kalah, melainkan dari pengertian. Bagaimanapun, ia seorang putri.
Ia mengerti hidupnya bukan hanya miliknya sendiri. Ada kerajaan, rakyat, sejarah panjang yang menunggu untuk diteruskan. Takdir bukan selalu rantai. Kadang ia adalah jalan yang harus dijalani dengan kesadaran penuh. Namun di dalam diamnya, Nawangsari menyimpan harapan.
Tentang lelaki yang akan menjadi suaminya yang baru sekali ia temui ketika acara pinangan digelar secara tertutup. Ia berharap lelaki itu bukan sekadar penguasa, melainkan pendamping. Yang menyayangi tanpa merendahkan. Menghormati tanpa menjauhkan. Melibatkan dirinya dalam keputusan negeri, bukan menyisihkannya di balik tirai. Ia berharap lelaki itu mengerti bahwa seorang perempuan bukan hiasan.
Ia menutup mata sejenak. Di kedalaman ingatan, hutan masih berbisik pelan. Tentang kebebasan. Tentang luka yang disembuhkan. Tentang seseorang yang tak membawa mahkota, namun mengerti cara menjaga kehidupan.
Ia membuka mata kembali. Di hadapannya, masa depan telah menunggu, rapi, megah, dan tak terelakkan. Dan kali ini, ia melangkah menuju takdirnya dengan sadar. Bukan lagi sebagai perempuan yang melarikan diri, melainkan sebagai putri yang memilih untuk tetap berdiri.
Hari pernikahan itu tiba. Masjid keraton dipenuhi wangi bunga. Suara doa dan bisikan adat berbaur dengan langkah para abdi yang sibuk mengatur tempat. Cahaya pagi menyelinap melalui jendela-jendela tinggi, jatuh ke lantai seperti benang emas.
Nawangsari duduk anggun dalam busana pengantin. Kainnya berlapis-lapis, rambutnya disanggul rapi, dihiasi melati yang disusun seperti hujan kecil di belakang kepala. Ia tampak sempurna seperti putri dalam lukisan. Namun hanya ia yang tahu, di balik kesempurnaan itu, jantungnya berdetak seperti gendang perang.
Suara ijab kabul mengalun pelan. Jernih dan khidmat, seperti doa yang turun bersama cahaya. Dengan bahasa Jawa yang halus dan terjaga, wali menyebut nama yang sejak kecil dipanggil dengan penuh harap. “Putri Nawangsari binti Ki Ageng Adhikari….”
Setiap suku kata terasa berat sekaligus suci mengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu tarikan napas panjang.
Jawaban mempelai pria terucap mantap. Tidak tergesa. Tidak bergetar. Sah. Sejenak dunia seperti berhenti bergerak. Lalu doa-doa mengalir lirih dari para hadirin.
Nawangsari digandeng perlahan menuju dalam masjid setelah ijab. Langkahnya tertata. Wajahnya tertunduk anggun sebagaimana adat menjaga wibawa perempuan yang baru saja berpindah takdir.
Udara masjid terasa hangat. Wangi kayu tua bercampur bunga dan minyak kasturi. Setiap langkah mendekatkannya pada kehidupan yang belum sepenuhnya ia kenal.
Di hadapannya, mempelai pria berdiri.
Ketika ia berbalik, Nawangsari menundukkan tubuh dengan khidmat, mencium tangan lelaki yang kini sah menjadi imam hidupnya. Sentuhan itu singkat. Namun anehnya terasa akrab. Seolah pernah dikenali oleh tubuh lebih dulu daripada ingatan.
Ia mengangkat wajahnya perlahan, gerak yang sangat pelan, seperti takut memecahkan sesuatu yang rapuh di udara. Aroma itu tidak asing. Hangat, bersih, dengan jejak tanah dan daun yang samar. Aroma yang pernah ia hirup di bawah kanopi hutan, di dekat api kecil yang hampir padam.
Matanya naik sedikit lagi. Dan di leher lelaki itu sebuah gores tipis. Garis kecil yang tak mungkin ia salah kenali.
Gresik, Syawal 2026
***
Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.