Oleh: Quaneisha Azarine
SIANG itu, cahaya datang menyusup melalui celah-celah jendela aula. Jatuh perlahan di lantai, memantul di kursi-kursi yang tersusun rapi, dan berhenti di wajah-wajah yang sedang berbahagia. Hari itu, segalanya tampak seperti lukisan yang nyaris sempurna, terang, hangat, dan penuh harapan.
Di tengah semua itu, Naya berdiri dengan tubuh yang tegak, tetapi hatinya terasa tertinggal di tempat lain. Pandangan matanya berulang kali jatuh ke kursi dan barisan undangan. Kursi itu tetap kosong, tidak ada gerakan. Tidak ada tanda akan terisi.
Matanya bertahan lebih lama disana, seolah jika ia cukup lama menatap, sesuatu akan berubah. Namun yang datang hanya sunyi. Naya menarik napas perlahan. Udara terasa masuk, tetapi tidak benar-benar memenuhi dadanya.
Selalu saja. Belum selesai bekerja, pastinya.
Pikirannya mencoba menyusun alasan. Namun alasan itu tidak pernah cukup untuk mengisi ruangan kosong yang terus terasa. Dan tanpa ia sadari, ingatannya bergerak mundur.
Sore itu, cahaya matahari masuk dari sela jendela dengan warna yang mulai redup. Pintu terbuka pelan, menghadirkan sosok yang langkahnya tidak lagi ringan. Sepatu itu seperti menyeret sesuatu yang tidak terlihat. Naya yang duduk sejak tadi, tidak langsung menoleh. Hanya bahunya sedikit menegang saat suara itu terdengar.
“Naya. Kamu sudah pikirkan soal kuliah?” Nada itu tidak terlalu tinggi. Tidak juga memaksan, tapi ada sesuatu yang membuat udara di ruangan terasa lebih berat. Jari Naya perlahan mencengkeram kain bajunya sendiri. Ada sesuatu yang ingin ia ucapkan sejak lama. Dan kini terasa menekan dari dalam.
Ia mengangkat wajah, meski matanya tidak sepenuhnya berani bertemu. “Aku enggak mau kuliah, Yah.” Kalimat itu jatuh begitu saja. Terlalu cepat. Terlalu lurus. Setelahnya, ada jeda yang terasa panjang. Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, seolah sedang mencari sesuatu di antara kata- kata yang baru saja ia dengar.
“Kenapa?” suaranya tetap pelan, namun ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tanya. Pertanyaan itu justru membuat napas Naya tidak lagi rata. Sesuatu di dalam dirinya naik, mendesak keluar.
“Aku enggak mau nambah beban ayah. Setiap hari ayah selalu capek karena bekerja. Aku enggak mau semuanya jadi lebih berat cuma karena aku.”
Matanya mulai panas, tapi ia tidak membiarkannya jatuh. “Aku bisa kerja. Aku bisa bantu ayah, aku sampai sini saja.”
Kalimat itu keluar seperti keputusan yang sudah lama ia yakini. Di depannya, ayahnya tidak bergerak. Kepalanya sedikit menunduk, seolah ada sesuatu yang terlalu berat untuk diangkat. Ia menarik napas panjang, pelan, seperti menahan sesuatu agar tidak runtuh.
“Naya.” Suaranya hampir seperti hilang di udara. “Ayah kerja bukan supaya kamu berhenti. Tapi supaya kamu bisa jalan lebih jauh dari ayah.”
Ada sesuatu yang sempat menyentuh, tipis hampir tidak terasa, namun cukup untuk membuat hati Naya bergetar sebentar. Kalimat ayahnya meggantung di udara, tidak jatuh, tidak juga hilang. Namun Naya menarik dirinya kembali. Seolah jika ia membiarkan satu rasa itu tumbuh, semuanya akan berubah dan ia belum siap untuk itu.
“Aku enggak mau, Yah. Kuliah itu butuh uang yang banyak. Aku enggak mau nyusahin ayah lagi. Jangan terus paksa aku.” Ia menarik napas cepat, dadanya naik turun tidak teratur. Kata-kata yang tidak sengaja terucap keluar dengan nada yang sedikit tinggi.
“Besok ayah dan ibu harus datang ke wisuda. Mau enggak mau, harus datang.” Ayahnya hanya diam. Tatapannya tidak keras, tidak juga marah. Tanpa menunggu jawaban yang sebenarnya juga tidak ingin Naya dengar. Ia berbalik, langkahnya cepat. Pintu kamar terbuka dengan gerakan yang tidak sabar.
BRAKK.
Pintunya tertutup keras. Suara itu menggema sebentar, lalu hilang. Tangisnya pecah, tidak keras, tapi dalam. Seperti sesuatu yang sudah lama dipendam dan akhirnya tidak bisa lagi ditahan. Hari ini semua itu kembali lebih dekat. Lebih nyata.
Naya berdiri di atas panggung. Mikrofon di tangannya terasa dingin, seolah tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ia menatap ke depan. Banyak wajah, banyak harapan. Namun yang ia cari tidak ada. Ia menarik napas.
“Aku ingin berbicara tentang seseorang.” Suaranya keluar pelan, dan ia bisa merasakan getar kecil di dalamnya. “Namanya adalah Setiawan dan Ita.” Ia sebenarnya ragu untuk mengatakan ini didepan banyak orang yang menonton dirinya di panggung. Tetapi Naya akan terus melanjutkan bicaranya.
“Ayahku bukan siapa-siapa di mata dunia, tapi dia adalah seseorang yang memberikan segalanya untukku.” Kata-kata itu tidak lagi terasa seperti pidato. Lebih seperti sesuatu yang selama ini ia simpan terlalu lama. “Ayahku itu pekerja keras. Semua di jalani olehnya. Menjadi pemulung pun ayah pasti akan jalani, ia bekerja tanpa benar-benar berhenti.” Ia tidak lagi melihat aula. Ia hanya melihat ayahnya di dalam bayangannya.
“Waktu itu, tiga tahun yang lalu, semua teman-temanku sudah mendaftar sekolah. Dan aku satu-satunya yang belum mendaftar sekolah. Aku sempat bertanya kepada ayah ‘kenapa aku belum didaftarkan?’”
Tangannya mulai bergetar. Suaranya berubah lebih berat. “Ayah terdiam. Aku Melanjutkan. ‘Kalau ayah enggak mampu kenapa harus maksa aku sekolah?’ Aku melihat ayah menunduk menatap tangannya, ayah menangis.” Kalimat itu mengantung. Naya menutup matanya sejenak.
“Malam itu ayah tidak pulang. Dan keesokan harinya ayah datang dengan mata yang merah dan di tangannya ada uang.” Suasana menjadi hening. Ia menelan napasnya. “Uang untuk mendaftarkan aku, meski sudah terlambat. Dan saat itu aku baru tahu kalau ayah menjual satu-satunya motor yang ia punya.”
Air matanya jatuh membasahi wajahnya. “Dan dua malam sebelumnya ayah mencari sisa uang yang kurang tanpa memikirkan dirinya sendiri. Sedangkan aku, sibuk menyalahkan hidupku.”
Ia menarik napas panjang. Memejamkan mata sejenak. “Ayah adalah peran yang sulit dijalankan. Peran yang harus memikul beban semuanya sekaligus. Ayah sudah bekerja keras sejak aku lahir.”
Semua orang di hadapannya terdiam, melihat dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Naya. “Ibu juga peran yang sulit untuk dijalankan. Ibu itu kuat, lebih kuat dari yang orang kira. Aku lahir pada saat 7 bulan, bukan karena tidak sempurna, tetapi karena keadaan memaksa. Di saat ibu harus menjaga dirinya, ibu malah memilih bertahan demi aku, kami berdua sama sama berjuang melawan penyakitnya. Dan dari situ aku belajar bahwa cinta ibu itu enggak setengah- setengah, bahkan saat diri sendirinya sedang rapuh.”
Beberapa orang mulai menunduk. Ruangan kembali menjadi hening. Di balik keheningan itu, terselip rasa haru dan kagum oleh cerita perjuangan orang tuanya. Karena semua orang yang disana bisa melihat betapa kuatnya seorang anak yang berdiri di dihadapan mereka di hari ini.
“Aku selalu mengingat kata-kata yang disampaikan oleh ibuku. ‘Jangan sibuk melihat apa yang orang lain punya, belajarlah mensyukuri apa yang kita miliki.’” Naya terdiam sejenak, bibirnya bergetar, seolah kata-kata berikutnya terlalu berat untuk keluar.
Dulu ia sering marah pada keadaan, merasa hidupnya tidak adil dan selalu tertinggal dari orang lain. Kini, semua itu terasa kecil dibandingkan apa yang akhirnya ia sadari. Ia menunduk, air matanya jatuh perlahan ke punggung tangannya. “Padaha aku punya kalian. Dan itu lebih dari cukup,” ucapnya lirih.
Di saat itu, pintu aula terbuka perlahan tanpa banyak yang menyadari. Seorang pria berdiri di sana dengan napas tersengal, bajunya basah oleh keringat, seperti habis berlari jauh. Matanya langsung mencari ke depan, dan saat melihat Naya di atas panggung, langkahnya mencari tempat duduk di barisan undangan yang sudah ternamai. Air matanya mulai jatuh, diam-diam, tanpa suara. Di atas panggung, Naya tetap berbicara, tanpa tahu bahwa orang yang ia tunggu akhirnya datang.
“Ayah. Ibu. Maaf.” suara Naya pecah, tidak lagi bisa ia tahan. Ia mencoba melanjutkan meski napasnya tidak teratur dan dadanya terasa sesak. “Maaf karena aku pernah bilang kenapa ayah maksa aku sekolah, padahal ayah enggak mampu?” Kata-kata itu terasa seperti luka yang dibuka kembali. Beberapa orang mulai mengusap mata mereka, tidak lagi sanggup menahan haru. “Aku enggak tahu kalau setiap kata itu, nyakitin ayah sebesar itu,” lanjutnya dengan suara yang semakin melemah.
Di barisan undangan, ayahnya menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar, menahan tangis yang terus memaksa keluar. Tubuhnya sedikit membungkuk, seperti tidak kuat menahan semua perasaan yang datang bersamaan. “Aku enggak tahu kalau ternyata ayah sampai harus jual satu- satunya motor ayah. Ayah harus menahan lapar demi aku dan ibu makan.” Suara Naya bergetar, hampir patah di tengah kalimat. Aula menjadi hening kembali, hanya ada suara tangis yang mulai terdengar di beberapa sudut. Ayahnya menggeleng pelan, air matanya jatuh tanpa henti.
“Aku jahat ya, Yah.” Kalimat itu keluar sangat pelan, hampir seperti bisikan. Di barisan, ayahnya menangis lebih dalam, bahunya bergetar hebat. Ia ingin menyangkal, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia hanya bisa melihat dari jauh, seperti selama ini.
“Kalau hari ini aku berdiri di sini, itu bukan karena aku kuat.” Air matanya jatuh lagi. “Tapi karena kalian yang enggak pernah berhenti kuat buat aku.” Ia pun menyelesaikan kalimatnya.
Tepuk tangan terdengar, tapi bercampur dengan tangis yang tidak lagi bisa ditahan. Naya perlahan mengangkat wajahnya, mencoba melihat ke depan. Dan di antara keramaian itu, matanya menangkap satu sosok di barisan undangan.
Sosok itu diam, dengan wajah penuh air mata dan bahu yang masih bergetar. Tatapannya tidak pernah lepas dari Naya sejak tadi, seolah takut kehilangan momen itu. Naya membeku, napasnya tertahan, matanya membesar tidak percaya. Bibirnya bergetar, tapi tidak ada suara yang keluar. Sosok itu tidak mendekat, hanya berdiri melihat anaknya dari jauh. Dan di detik itu, semua penyesalan, rindu, dan cinta yang terpendam akhirnya runtuh lewat air mata yang saling menemukan.
Aula itu perlahan mulai kosong, menyisakan kursi-kursi yang ditinggalkan bersama gema tepuk tangan yang masih terasa menggantung di udara. Naya melangkah keluar dengan tubuh yang terasa ringan sekaligus berat, matanya sembab, napasnya belum benar-benar pulih dari tangis yang ia tahan sejak di atas panggung. Di luar, langit mulai meredup, menyisakan warna jingga yang hampir hilang. Dan di sana, di dekat tembok yang seolah sengaja dipilih agar tidak mencolok, ayahnya berdiri.
Tidak mendekat, tidak memanggil, hanya diam seperti seseorang yang terbiasa hadir tanpa ingin terlihat. Naya berhenti. Jarak di antara mereka tidak jauh, tapi entah kenapa terasa begitu panjang, seperti dipenuhi oleh semua kata yang tidak pernah terucap selama ini. Untuk pertama kalinya, Naya benar-benar melihat ayahnya. Baju yang kusut, ujung celana yang kotor, sandal yang hampir habis termakan waktu, dan wajah lelah yang selama ini tidak pernah ia perhatikan dengan sungguh-sungguh.
“Ayah.” suaranya pecah bahkan sebelum ia sempat mendekat sepenuhnya. Ayahnya mengangkat wajah, matanya merah, tapi tetap berusaha tersenyum. “Iya, Nak.”
“Maaf ya, Yah.” Suaranya bergetar hebat. “Aku selama ini enggak pernah benar-benar lihat ayah. Aku cuma sibuk mikirin hidup aku sendiri, ngerasa aku yang paling susah. Padahal aku enggak pernah tanya ayah capek atau enggak, ayah makan atau enggak.” Tangannya gemetar, menggenggam ujung bajunya sendiri.
Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, lalu melangkah mendekat. Tangannya yang kasar terangkat perlahan dan mendarat di kepala Naya dengan usapan yang begitu hati-hati, seolah takut anaknya akan hancur jika disentuh terlalu kuat.
“Enggak, Nak. kamu enggak salah.” Suaranya serak, nyaris hilang. Naya langsung menggeleng cepat, tapi ayahnya melanjutkan, “Yang salah mungkin dari awal ayah. Ayah yang enggak bisa kasih kamu hidup yang gampang. Dari kecil kamu harus lihat ayah pulang capek, harus ngerasain hidup yang enggak sama kayak teman-teman kamu.”
Senyum tipis itu muncul, tapi retak di tengahnya. “Ayah sama ibu cuma bisa kerja tanpa tahu itu cukup atau enggak buat bikin kamu bahagia.”
Kalimat itu membuat dada Naya seperti diremas. Ia tidak tahan lagi. Ia langsung memeluk ayahnya, erat, seakan mencoba mengembalikan semua waktu yang telah ia sia- siakan.
Naya mengangkat wajahnya perlahan, air matanya belum berhenti. “Ibu gimana, Yah. Ibu sehat kan?” tanyanya dengan suara yang masih tersisa getarnya. Ayahnya terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Sehat. Tadi mau ikut,” kalimatnya menggantung.
Ayahnya tersenyum kecil. “Ibu enggak punya baju yang pantas buat datang ke sini.” Dunia Naya seakan berhenti di detik itu. Dadanya sesak, pikirannya kosong, dan untuk sesaat ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas. Hal sesederhana itu, baju menjadi alasan ibu tidak datang di hari terpentingnya. Sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya, tapi begitu nyata bagi orang tuanya.
Air matanya jatuh lagi, lebih deras, lebih dalam. Ia kembali memeluk ayahnya, kali ini dengan rasa yang berbeda, bukan hanya rindu, tapi juga penyesalan yang begitu besar.
“Yah, aku bakal kuliah.” Suaranya hampir hilang, tenggelam di antara tangisnya. Ayahnya terdiam, napasnya tertahan. “Tapi aku juga bakal kerja. Aku enggak mau lagi cuma jadi alasan ayah capek, aku mau jadi alasan ayah sama ibu bahagia.” Pelukannya semakin erat, seolah itu satu-satunya cara untuk menyampaikan semua yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata.
Ayahnya akhirnya menangis lagi. Bukan tangis yang ia tahan seperti sebelumnya, tapi tangis yang benar-benar jatuh, pelan, dalam, penuh rasa yang selama ini ia simpan sendiri. Tangannya mengusap punggung Naya, perlahan, berulang, seperti dulu saat Naya masih kecil.
Mereka berdiri di sana cukup lama, tanpa peduli siapa yang melihat, tanpa peduli waktu yang terus berjalan. Dan saat akhirnya mereka melangkah pulang berdampingan, langkah mereka masih pelan, masih berat, tapi kali ini tidak lagi sendiri.
***
Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.