Sastra

Cermin Terakhir

Oleh: Uus Hasanah

DI balik jendela, hujan turun sejak sore. Bau tanah basah masuk bersama angin yang sesekali menggoyang tirai kamar Bu Hasna. Setelah menyelesaikan doanya, Bu Hasna melipat mukena, kemudian ia mengajak Inara ke dapur.

Bu Hasna tak pernah meleset soal waktu, dan saat itu jam makan sore hampir tiba. Inara berlari kecil diiringi gemerincing bandul kalung bertali merah tua. Ia menerka, mungkin ikan lele atau ayam goreng yang akan dibuat tuannya. Tapi ia segera tahu, tak satu pun di antara keduanya, sebab Bu Hasna mengambil sewadah kangkung yang dipetik Mbak Pur sebelum ia pamit menjenguk anaknya.

Inara berjalan ke sana kemari, menyertai langkah kaki dan tongkat yang setia menemani tuannya. Ketika Bu Hasna duduk, Inara melompat ke atas meja, memerhatikan raut perempuan yang selama ini merawatnya. Wajah itu tampak lebih bercahaya, meski pancaran matanya kian redup.

Apakah Bu Hasna sedang sakit? Sorot mata Inara seolah menerka. Sebab, terakhir kali ia memakan biskuit, Bu Hasna tengah mengeluh sakit kepala hingga Mbak Pur, rewang-nya, hanya membeli bubur di depan gang.

Sekali lagi Inara memeriksa setiap sudut wajah keriput itu, seolah sedang memastikan sesuatu meski hasilnya tetap tak benar-benar ia pahami. Ketika pandangannya beradu dengan bola mata Bu Hasna, ada kehangatan yang membuatnya gelisah.

“Nak, takutkah kau dengan hujan?” tanya Bu Hasna sambil membelai lembut bulu jingga-cokelatnya. Inara mendongak, menaksir maksud lain dari pertanyaan tuannya.

Inara, matanya yang kuning muda berkilat, seolah menyimpan ingatan ketika Bu Hasna memungutnya dari tepi selokan. Ketika itu, kakinya tak lagi mampu berjalan setelah tersiram air panas. Ini bermula ketika ia mencuri seekor ikan goreng yang baru saja dihidangkan di meja makan. Denting piring yang terjatuh membuat pemilik rumah terkejut, lalu spontan mengejarnya sambil membawa panci bergagang berisi air mendidih dengan api yang masih menyala.

Ikan yang sempat ia gigit terlepas saat air itu menghantam tanah dan menciprat ke kaki belakang kanannya. Ia mengeong refleks, berlari tunggang-langgang sambil menahan perih, dan ikan dalam cengkeraman taringnya terlepas begitu saja.

Beberapa waktu kemudian, ketika kulit yang melepuh itu kian mengering, keadaannya justru memburuk. Seorang pelayan warung nasi menendangnya karena ia kembali kedapatan hendak mencuri sepotong ikan dagangan. Tubuhnya disepak hingga terlempar ke tepi selokan. Sontak saja, kakinya benar-benar tak bisa berjalan.

Ketika harapannya kian menipis, Bu Hasna datang. Ia memungutnya, lalu membungkus tubuh ringkih itu dengan selendang batik kuning gading yang ia kenakan.

***

Sebagaimana Inara yang setia menyertainya, Bu Hasna pun tak pernah lepas dari tongkat kayu yang selalu dibawanya ke mana pun ia melangkah. Bagi Mbak Pur, barangkali tongkat itu tak lebih dari alat bantu untuk menopang tubuh Bu Hasna saat berjalan. Namun tidak demikian bagi Bu Hasna. Melalui tongkat itu, ia merasa putra tunggalnya masih dekat dan seolah tetap menuntunnya melangkah.

Andaikan mampu merasa seperti manusia, barangkali tongkat itu akan turut prihatin menyaksikan perubahan yang terjadi pada Bu Hasna. Belakangan, perempuan itu lebih sering melamun di sampingnya. Tongkat itu dipangkunya erat, sementara jemarinya mengelus permukaannya perlahan, lalu merapal nama Mas Hanung dengan getaran halus pada suaranya.

Barangkali tongkat itu juga masih mengingat hari pertamanya di rumah itu, ketika Mas Hanung pulang libur lebaran bertahun lalu. Ia menghadiahkan tongkat yang dipesan khusus itu kepada Bu Hasna. Karena ia tahu, ibunya itu kerap mengeluh linu pada kedua lututnya setelah terjatuh di kamar mandi.

***

Dibanding Inara dan tongkat berukiran unik yang selalu mengilat itu, sebagai rewang yang telah lama bekerja, akulah yang selalu bersiap sedia di samping Bu Hasna. Meskipun usianya hampir tujuh puluh tahun, Bu Hasna tetap sibuk menjalani banyak hal. Ia masih memasak sendiri, membersihkan rumah, bahkan mengurus kebun kecil di samping rumahnya.

Kebiasaan-kebiasaan itu sering kali tak sejalan dengan pandangan orang-orang. Menurut mereka, perempuan seusia Bu Hasna, terlebih dengan anak yang sudah sukses dan mampu mencukupi segala kebutuhan, seharusnya tak lagi melakukan aktivitas berat. Namun, Bu Hasna adalah Bu Hasna. Sedetik pun ia tak memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk larut dalam kesenjaan.

Pernah suatu waktu, Bu Hasna mengajakku menengok Bu Manah. Kabarnya, sudah hampir sebulan ia terserang stroke. Lalu, ketika kami sampai di depan pintu, tanpa sengaja kami mendengar perdebatan kecil soal siapa yang harus merawatnya.

“Aku enggak bisa kerja kalau Mas enggak mau gantian menjaga Ibu. Biaya popok dan makan Ibu juga enggak sedikit, Mas.” Suara perempuan itu terdengar berat dan tertahan, terlebih setelah suara lelaki menjawab dengan nada yang tak kalah berat dan tertekan.

Air mukanya terlihat kikuk saat menarik tanganku untuk segera melangkah pulang. Ketika itu, kami bahkan belum sempat mengucapkan salam. Lalu, setelah beberapa langkah kami berjalan, seorang perempuan muda sedikit berteriak menyapa kami, “Eh! Bu Hasna, Mbak Pur.”

Kami pun menoleh. Ia kemudian mengajak kami masuk. Bu Manah menyambutnya dengan air mata ketika Bu Hasna tiba di ambang pintu kamar. Lelaki yang bersuara berat itu pamit pulang. Ia ternyata anak sulung Bu Manah. Setelah bersalaman dengan lelaki itu, Bu Hasna segera duduk di samping Bu Manah, mengelus-elus lengannya, dan sesekali menyeka pipinya sendiri dengan selendangnya.

Sepulang dari rumah itu, Bu Hasna terdiam sepanjang jalan. Lalu ia mengatakan sesuatu, “Pur, setiap orang tua pasti tidak akan mau merepotkan anak-anaknya. Mungkin itu juga alasan ibu memilih tinggal di sini sendiri. Ibu tidak mau Hanung merasa terbebani.”

Perkataan Bu Hasna menghantam ulu hatiku, menyeret ingatanku pada Ibu di kampung yang selama ini kerap kurepotkan karena mengurus anak-anakku. Dalam diam, aku bertanya-tanya, mengapa merawat orang tua dianggap seperti beban yang harus dibagi-bagi? Padahal dulu, mereka tak pernah membagi lelah saat membesarkan kita.

Bu Hasna menoleh, ia seperti mendengar isi kepalaku.

“Kadang yang membuat orang tua menderita bukan karena sakitnya, Pur.” Perkataannya menggantung ke udara. Bibirnya segera terkatup, seperti ada sesuatu yang ditahannya dengan hati-hati.

Pada waktu lain, Bu Hasna juga mengajakku melayat tetangga satu kompleks. Bu Sarmi, ia meninggal setelah dioperasi karena kista. Aku sempat memrotesnya, “Tapi kan, Bu Sarmi sering menuduh Ibu. Itu, masalah tanah yang dibeli Mas Hanung itu, katanya uang hasil pesugihan.”

“Hus!” sergahnya. “Pur, kalau hati kita sibuk menghitung siapa yang pernah menyakiti, kapan kita punya waktu untuk berbuat baik?”

“Biarlah prasangka itu jadi urusan mereka. Kita ini cukup menjaga agar tidak ikut menjadi bagian darinya.” Suaranya lembut.

Sepulang dari sana, sebagaimana kebiasaannya setiap pulang melayat, ia terlihat duduk lebih lama, menengadahkan tangan, larut dalam doa yang panjang.

***

Sudah hampir sepuluh tahun aku bekerja di rumah Bu Hasna. Tak pernah terlintas sedikit pun untuk mencari tempat lain. Bersamanya, aku merasa seperti anak, murid, bahkan kadang seperti teman berbagi.

Bagaimana tidak, setiap selepas zuhur, aku menemaninya membaca, menyimak lantunan Al-Qur’an. Seusai salat Isya, aku duduk di sampingnya saat ia membuka buku. Setelah itu, ia biasanya bercerita panjang tentang apa yang ia baca, ceramah yang ia dengarkan, hingga kisah-kisah masa lalunya.

Dari sekian banyak yang aku lewati dengannya, ada satu peristiwa yang paling membekas dan membuatku sangat bersyukur bekerja padanya.

Malam itu, ketika ia mendapati aku menangis di kamar. Ia yang awalnya hendak memintaku memijat pundaknya, justru berhenti di ambang pintu.

“Ada apa, Pur?” tanyanya lembut.

Aku tak mampu menjawab. Tangisku pecah begitu saja. Malam itu, aku baru saja mengambil keputusan besar, mengakhiri hubungan seseorang yang selama ini kuanggap suami yang setia, tetapi diam-diam ia mengkhianatiku, menikah lagi tanpa sepengetahuanku.

“Aku bingung, Bu.” Suaraku sedikit gemetar. “Anak-anak bagaimana? Sekolah mereka? Biaya hidup kami. Aku takut tidak sanggup.”

Bu Hasna duduk di sampingku. Tangannya mengusap punggungku perlahan. “Pur,” panggilnya, “Hidup ini memang tidak selalu memberikan pilihan yang mudah. Tapi ia selalu memberi kita hak untuk memilih.” Aku terdiam.

“Perempuan,” lanjutnya, “punya kendali atas hidupnya sendiri. Sama seperti laki-laki.” Ucapannya berhenti sesaat ketika tatapannya mengarah padaku. “Aku jadi teringat cerita Raden Ayu Notodiningrat, Pur. Ia memilih berpisah karena telah diperlakukan tidak semestinya. Dan hanya perempuan yang memiliki keberanian yang tinggi yang mampu memilih demikian.” Tanganku digenggamnya.

“Kita mungkin bukan siapa-siapa, Pur. Tapi kita tetap punya hak yang sama untuk menentukan jalan hidup.”Aku masih terisak, tetapi kata-katanya perlahan menahan runtuhku.

“Jangan bertahan hanya karena takut,” lanjutnya. “Dan jangan pergi hanya karena marah. Mintalah petunjuk Gusti Allah.”

Aku menyimpan baik-baik kalimat-kalimatnya. Aku tahu ia menjalani semua itu dalam hidupnya. Ia menggunakan ilmunya untuk bertahan, sekaligus menolong. Tidak hanya manusia, bahkan makhluk kecil seperti Inara pun ia rawat dengan penuh kasih.

Aku masih ingat senja saat kami menemukannya. Hujan baru saja reda. Jalanan basah, udara dingin dan Ia memintaku menghentikan langkah.

“Itu suara apa, Pur?” tanyanya.

Aku mendengarkan.

“Kucing, Bu. Sepertinya.” Ia segera menajamkan dengar

dengan langkah satu-satu. Matanya menyusuri seluruh yang tampak, hingga akhirnya menemukan seekor kucing kecil yang tergeletak tak berdaya di tepi selokan.

Bu Hasna tampak sangat khawatir. Tanpa ragu, ia melepas selendang kuning gadingnya, membungkus tubuh ringkih itu, lalu mengangkatnya dengan hati-hati. “Kita bawa pulang,” ajaknya.

Sejak malam itu, kucing itu ia rawat dan ia beri nama Inara. Kehadirannya memberi warna baru di rumah. Bu Hasna kerap menggendong dan memangkunya. Ia juga menjadi teman yang menyenangkan untuk sekadar bercengkerama di antara kami. Tingkahnya yang lucu kadang membuat Bu Hasna tertawa.

Sebagaimana biasanya, hampir setiap selepas Ashar, ponsel Bu Hasna berdering. Tanpa perlu melihat, aku tahu siapa yang tengah menelepon. Rumah yang semula lengang pun seketika terasa hidup oleh celoteh cucu-cucu dan suara Mas Hanung. Kadang, setelah berbicara dengan ibunya, ia meminta berbicara denganku sebentar untuk menanyakan obat-obatan, persediaan sembako, atau uang belanja.

Tetapi, sore itu panggilan teleponnya tampak lebih spesial. Sebab, suara Bu Hasna terdengar lebih renyah dari biasanya.

“Ya, Nak.”

Tak lama kemudian, ia memintaku mengambil kalender dan spidol merah di meja. Dengan senyum yang terus mengembang, ia melingkari tanggal dua puluh tiga besar- besar.

“Pur, Mas Hanung mau pulang,” kira-kira begitu bunyi gerak bibirnya.

Aku turut senang mendengarnya. Di pangkuannya, Inara menggesek-gesekkan pipi ke tangan Bu Hasna, seolah turut merasakan kebahagiaan yang memenuhi rumah sore itu.

Sejak saat itu, setiap hari, segala yang Bu Hasna lakukan pasti terkait dengan tanggal itu. Jika aku ke pasar, dia akan meminta atau setidaknya memastikan kalau buah atau bahan masakan yang kubeli segar dan tak akan mengambuhkan asam uratnya. Ia bilang ia tak mau jika nanti Mas Hanung pulang dia sakit karena makan sembarangan.

Menjelang hari yang dinanti, ia mulai menyiapkan banyak hal. Ia menyuruhku membeli aneka makanan ringan kesukaan cucunya. Dapur pun kembali sibuk, “Jangan lupa jengkolnya, Pur. Nanti kita buat semur kesukaan Hanung, ya.” Rumah yang biasanya lengang mendadak terasa penuh harapan.

Tetapi, suatu pagi sebelum tanggal 23 itu tiba, raut muka Bu Hasna berubah ketika ia bercakap-cakap di telepon lagi.

“Iya, Nak,” jawabnya lembut. Aku tak bisa mendengar jelas suara dari seberang, tetapi aku melihat perubahan di wajahnya perlahan, sangat halus, dan redup sedikit demi sedikit.

“Tidak apa-apa,” katanya kemudian. “Ibu mengerti.”

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Iya ibu sehat kok, jangan khawatir. Hati-hati di sana, ya.” Telepon itu ditutup. Tangannya masih menggenggam ponsel, tetapi pandangannya kosong. Aku ingin berkata sesuatu, tetapi kata-kata itu terasa tertahan di tenggorokan.

“Kerjaannya belum bisa ditinggal, Pur,” katanya menjelaskan saat aku melongo mencuri dengar percakapan mereka. Bu Hasna, ia tidak dapat menyembunyikan air mukanya.

Tangan kanannya menggenggam ponsel semakin erat, sementara tangan satunya mengusap bulir air mata yang jatuh di pipi. Bibir Bu Hasna tersenyum kecil, tetapi matanya perlahan jatuh pada lingkaran merah di tanggal dua puluh tiga yang memantul samar di cermin hadapannya. Dan sejak hari itu, aku tak lagi melihat Bu Hasna mengelus-elus tongkat kesayangannya.

Beberapa pekan kemudian, saat waktu zuhur mulai habis, Bu Hasna masih tertidur. Lalu aku berusaha membangunkannya, sebab biasanya ia akan protes kalau terlewat waktu salat. Ketika kupegang tangannya, suhu tubuhnya menghangat. Ia terbangun ketika aku hendak mengambilkan air putih dan obat. Aku lalu mengajaknya periksa, namun seperti biasanya, ia bilang nanti juga sembuh kalau istirahatnya cukup. Di saat itu, ponselku berdering. Ibuku menelepon, katanya anakku sedang di klinik dan akan dirujuk ke rumah sakit karena positif tifus.

Bu Hasna rupanya mendengar percakapanku. Ia tidak langsung bertanya. Keesokan harinya, ia memintaku pulang.

“Rawat dulu anakmu, Pur. Ibu tidak apa-apa. Sudah lebih enakan, kok,” jelasnya memastikan.

Usai menghubungi Mas Hanung dan mendapat izinnya, aku sedikit lega. Ia mengatakan telah menghubungi sepupunya untuk menemani Bu Hasna selama aku tidak ada. Meski begitu, saat akhirnya pamit untuk beberapa hari, sejujurnya aku tetap sangat mengkhawatirkan keadaan Bu Hasna.

***

Malam setelah Mbak Pur berpamitan, rumah Bu Hasna terlihat lebih rapi dari biasanya. Sejak pagi, ia menghabiskan waktunya untuk bersih-bersih: menyapu, merapikan pot-pot bunga di teras depan, membersihkan rumput liar di kebun belakang, serta menata ulang benda-benda di ruang tamu. Ia seperti mengetahui akan ada banyak tamu yang datang ke rumahnya.

Selepas Isya, ia mengayunkan tangan kepada Inara. “Ayo, sini!” Ia menggamit sebuah buku, lalu membacanya sekira sepuluh atau sebelas menit. Tangannya kemudian meraih selembar kertas dari sebuah buku catatan dengan pembuka, “Untuk putraku Hanung.”

Dia memegang catatan itu selama satu atau dua menit di depan matanya. Dan selama itu, wajahnya menampakkan keteduhan meski air mata menggenang di kelopak matanya.

Bu Hasna mengelus Inara yang tertidur di sampingnya. Kucing itu menggeliat, lalu bangkit dan menegakkan tubuh kecilnya sambil mengangkat kedua kaki depannya ke arah Bu Hasna. Bu Hasna pun mengangkatnya ke dalam pelukan. Ia melangkah menuju tembok dengan cermin oval yang dikelilingi potret-potret pada momen dan orang-orang penting dalam perjalanan hidupnya.

Pandangan Bu Hasna menyapu bingkai-bingkai itu sebelum akhirnya tertambat pada cermin di tengahnya. Cahaya lampu memantul di permukaan kaca yang mulai kusam. Dalam pantulan itu, potret-potret di sekelilingnya seakan hidup kembali: anak perempuan yang berlari di halaman, gadis berpita rambut, perempuan muda bertoga, istri yang berjuag sendiri setelah suaminya berpulang, hingga seorang ibu yang berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan kepada anak laki-lakinya.

Namun, perlahan semua bayangan itu larut. Y ang tertinggal hanya sosok perempuan tua dengan seekor kucing di pelukannya.

“Begitu cepat semuanya berlalu,” gumamnya.

Inara mengangkat kepala. Telinganya bergerak pelan ketika jemari Bu Hasna bergetar di punggungnya.

“Pada akhirnya semua yang datang memang harus belajar ditinggalkan, Nak.” Ekor Inara bergeliat. Ia mencengkeram kain baju Bu Hasna, mengeong lirih seperti menahan sesuatu yang tak ingin dilepaskan.

Selepas subuh, Inara terbangun. Ia menggeliat, menjilati bulu-bulu di kakinya, lalu mendekati Bu Hasna. Ia seperti merasakan sesuatu yang ganjil. Ia menepuk pipi Bu Hasna dengan lembut. Dingin. Tak ada jawaban.

Ia berputar-putar, mengeong semakin keras, mencoba membangunkan dengan cara yang ia tahu. Namun, tubuh itu tetap diam, kaku dalam balutan mukena.

Suara Inara pecah, mengisi rumah yang mendadak terasa asing. Ia tergesa. Berlari ke pintu. Melalui celah kecil yang belum terkunci, ia menerobos keluar, menembus udara pagi yang dingin.

Tepat di depan rumah, ia menjumpai keponakan Bu Hasna yang baru datang. Inara mengeong-ngeong mengelilingi kakinya. Perempuan itu dipandu masuk rumah dan menghampiri Bu Hasna. Ia menepuk pundak bude-nya itu, lalu membalikkan tubuhnya perlahan. Wajahnya berubah tegang.

Ia segera keluar, memanggil tetangga, dan menelepon Mas Hanung. Dari seberang telepon, suaranya bergetar sebelum pecah menjadi tangis.

Tak lama kemudian, rumah itu dipenuhi orang-orang. Hening yang semula melekat luruh oleh lalu-lalang langkah. Lantunan Yasin bersahut-sahutan dengan bisik-bisik rangkai potongan cerita tentang Bu Hasna di mata mereka. Semuanya mengalir, berpindah dari satu telinga ke telinga lain, membesar di sepanjang lorong-lorong kompleks.

Dari cermin oval di dinding ruang tengah, tubuh Bu Hasna tampak terbujur. Di dekatnya, Inara masih mengeong, tatapannya seperti menunggu tuannya menjawab dan tongkat kayu yang biasa menemani langkah Bu Hasna tetap bersandar di meja, tepat di samping buku catatan yang semalam masih disentuh tangannya.

Indramayu, 14 Mei 2026

***

Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian