Peristiwa

Eksplorasi Mimpi ‘Ruang Bercerita’ ala GUSDURian Semarang di Festival Jagat

Jombang – Komunitas Gusdurian Semarang turut memeriahkan rangkaian kegiatan Festival Jagat dengan menghadirkan kelas bertajuk ‘Ruang Bercerita’. Kegiatan dilaksanakan di salah satu kelas di gedung MTs Salafiyah Syafiiyah Putra Pondok Seblak, Jombang. Melalui integrasi media dakon atau congklak, puzzle siklus, dan kartu flashcard, kelas ini dirancang untuk mengajak peserta menyelami pengenalan diri sekaligus melatih kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Fasilitator juga menggunakan sticky notes sebagai media pengenalan satu sama lain, baik antarpeserta maupun antara peserta dan fasilitator.

Anna, salah satu dari dua orang fasilitator yang mengampu kelas ini aktif memandu pembagian kelompok dan memastikan setiap kelompok memahami tugas yang diberikan. Alur kegiatan diawali dengan sesi mengenali diri dan cita-cita, setiap peserta menuliskan identitas dan harapan mereka menggunakan media lembar pengantar dan sticky notes

Selanjutnya, para peserta diarahkan untuk membentuk lima kelompok dan menentukan ketua masing-masing, yang dipimpin oleh Faisal, Puguh, LBlack, Sahid, dan Kartika. Setelah kelompok terbentuk, peserta memilih media permainan yang telah disiapkan untuk melanjutkan proses belajar bersama.

Selanjutnya, kelompok yang memilih permainan congklak atau dakon diajak untuk melatih kesabaran dalam menunggu giliran bermain, sementara kelompok yang memainkan puzzle siklus, seperti siklus metamorfosis katak, didorong untuk bekerja sama mengamati tahapan dan fase siklus secara teliti. 

Suasana diskusi menjadi hidup saat peserta merespons kartu flashcard yang memuat pertanyaan bertema hubungan manusia dengan Tuhan (habluminallah), hubungan antar sesama manusia (habluminannas), dan hubungan dengan sekitar (habluminalalam).

Kelas bermuara pada sesi refleksi dan sharing. Peserta diajak mengaitkan siklus permainan dengan kemampuan bercerita serta mengenali nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan kepedulian alam, semangat yang diusung oleh Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi dalam festival ini. Respons peserta bermacam-macam. Ada peserta yang aktif bertanya, ada pula yang cenderung bercanda, kemungkinan karena belum sepenuhnya memahami maksud dari permainan yang sedang mereka lakukan.

“Coba adik-adik mengamati terlebih dahulu, apa yang sedang digambarkan di situ,” ujar Anna, mengajak peserta yang masih kebingungan untuk mencermati kembali permainan di hadapan mereka. 

“Disuruh untuk mengamati, kayak anak SD,” celetuk satu anak perempuan. 

Alih-alih sekadar menganggap permainan tersebut sebagai aktivitas anak-anak, peserta kemudian diarahkan untuk melihat makna di baliknya. 

“Namun tetap suka main, kan?” kata fasilitator sambil mengarahkan perhatian mereka pada puzzle yang telah berhasil disusun. 

Salah satu puzzle menggambarkan siklus kehidupan katak, mulai dari telur, berudu, katak kecil, hingga katak dewasa. Dari gambaran sederhana, kelompok peserta kemudian memahami bahwa kehidupan manusia juga memiliki tahapan dan proses. 

Manusia tidak serta-merta sampai pada tujuan yang ingin dicapai, melainkan perlu melewati berbagai fase untuk tumbuh dan berkembang. 

Begitu pula dengan cita-cita. Di antara peserta, misalnya, terdapat seorang anak yang menyukai aktivitas membuat kue. Kegemarannya tersebut dapat menjadi pintu untuk mengenali lebih dekat apa yang ingin ia kejar di masa depan—barangkali menjadi seorang koki, atau menekuni dunia kuliner.

‘Ruang Bercerita’ diharapkan tidak berhenti pada permainan. Dakon, puzzle, dan kartu menjadi alat untuk membuka percakapan yang lebih luas: tentang siapa diri mereka, apa yang mereka impikan, bagaimana mereka berhubungan dengan Tuhan dan sesama, serta bagaimana mereka memandang lingkungan di sekitarnya. (SDH)

Hana Rusmalia

Penggerak GUSDURian Jogja