Jombang – Sesi kedua Majelis Keadilan Ekologi, Festival Jagat, bertajuk Merawat Bumi dari Akar Rumput digelar menjelang siang pada Sabtu (29/8/2026). Sesi pertama bertajuk Tobat Ekologi: Tanggung Jawab Agama Terhadap Krisis Ekologi telah dilaksanakan pada pagi harinya. Setelah sebelumnya pembahasan berfokus pada tataran gagasan dan teori, pada sesi kedua ini diskusi menengok praktik baik yang telah dijalani berbagai gerakan.
Bertempat di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, hadir sebagai Dewan Majelis adalah Prigi Arisandi (ECOTON), Bambang Tri Daxono (Indonesian Institute for Forest and Environment), Tri Mumpuni (BRIN), dan Inayah Wahid (Greenpeace Indonesia). Para narasumber dalam sesi ini merepresentasikan berbagai gerakan unsur lingkungan yang tengah berjalan di Indonesia.
Prigi Arisandi dari Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan atau Ecological Observation and Wetland Conservation (ECOTON) menyampaikan bahwa sungai di Indonesia masih dipandang sebagai ‘halaman belakang’ sehingga tidak mendapat perhatian, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Padahal semua orang menggunakan air setiap hari, sementara air yang dialirkan ke rumah-rumah merupakan hasil olahan dari sungai.
Saat ini, sungai di Indonesia berada dalam kondisi buruk. Hal ini tampak dari jumlah ikan interseks (bukan jantan maupun betina) yang meningkat dan juga kandungan mikroplastik yang tinggi. Oleh karena itu, ia mendorong pembentukan komunitas-komunitas penjaga sungai. Prigi menyampaikan bahwa sungai juga memiliki hak dan perlu diperjuangkan.
Ia mencontohkan SMP 1 Wonosalam, Jombang, yang memiliki Polisi Air untuk pendidikan lingkungan dan pelestarian sungai. Gerakan-gerakan serupa juga perlu dibentuk di berbagai sungai di Indonesia supaya sungai tidak diperlakukan semena-mena.
Selanjutnya, Bambang Tri Daxono (Indonesian Institute for Forest and Environment) memaparkan bagaimana masyarakat adat Kasepuhan di Banten menjaga kelestarian alamnya melalui tradisi Rukun Tujuh yang mereka miliki.
Rukun Tujuh merupakan rangkaian tujuh tahapan ritual dan tata cara bertani padi lokal yang bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada alam. Melalui hal ini, mereka berharap padi yang mereka proses dan makan menjadi keberkahan.
Sementara itu, Tri Mumpuni dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa ada tiga hal yang berpotensi menjadi masalah ke depan, yakni air, energi, dan kedaulatan pangan. Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan air dan energi.
Oleh karena itu, penting untuk mengelolanya dengan baik, juga membangun kedaulatan pangan. Salah satu inovasi yang Tri Mumpuni lakukan adalah membuat teknologi tepat guna berupa solar rooftop di pesantren. Teknologi ini sudah mencukupi kebutuhan pesantren sehingga tidak lagi bergantung pada PLN.
Sebagai penutup sesi, Inayah Wahid (Greenpeace Indonesia) mempresentasikan kampanye Greenpeace Indonesia tentang udara bersih. Banyak orang tidak sadar kondisi udara yang buruk karena udara adalah benda tak tampak. Masyarakat bahkan tidak mengetahui bahwa udara kita bermasalah karena belum pernah mengetahui udara yang bersih itu seperti apa.
Oleh karena itu, Greenpeace Indonesia membuat ruangan yang diisi dengan oksigen bersih. Orang dapat masuk ke dalam ruangan tersebut dan merasakan udara yang sehat itu sebenarnya seperti apa. (SDH)