Mengenal Gus Dur sebagai sosok guru bangsa barangkali tidak akan pernah usai untuk diceritakan kepada generasi muda dan anak cucu kita. Keteladanan Gus Dur dalam berbagai aspeknya menjadi cahaya yang menerangi perjalananan bangsa Indonesia di tengah hempasan konflik yang terus melanda. Seiring bergulirnya waktu, sosok Gus Dur selalu menjadi inspirasi dan gagasan-gagasannya yang visioner menjadi refleksi dalam setiap tindakan, gerakan, bagi agama, bangsa dan negara.
Gus Dur memang telah tiada dan meninggalkan semua rakyat, murid hingga para penggemarnya, tetapi nilai, pemikiran, keteladanannya tak henti-henti menjadi spirit perjuangan yang menghidupkan. Salah satunya sebagaimana dikemukakan di dalam buku ini bagaimana mengarungi jagad spiritual Gus Dur yang kerangkali dianggap sebagai suatu keajaiban atau keanehan bagi mayoritas orang meski Gus Dur diyakini sebagai seorang yang wali.
Buku ini menjelaskan dengan detail sisi spiritual Gusdur yang bisa dijadikan sumber inspirasi bagi pendidikan spiritual generasi muda dalam menghadapi dunia yang semakin berkembang dan modern. Sebab, sisi spiritual di dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini tergerus oleh perilaku-perilaku amoral yang semakin menjamur. Tentu, pendidikan spiritual kepada generasi muda harus terus disemai agar mereka meniru apa yang telah diteladankan oleh Gus Dur melalui spiritualitas yang humanis.
Gus Dur bukanlah sosok yang spiritualis. Karena seseorang tidak bisa dikatakan sebagai seorang spiritualis hanya karena ia melaksanakan suatu ibadah tertentu. Seseorang yang “shalih” atau “religius” masih bisa menjadi kejam, rakus, tidak beretika dan tidak bermoral. Oleh karena itu, seseorang tidak bisa menjadi spiritualis sekaligus menjadi orang yang tidak berperasaan. Seseorang mesti menjadi orang baik untuk menjadi spiritualis (hlm. 23).
Makanya di dalam kehidupan nyata, terkadang kita seringkali menyaksikan para koruptor, pezina, teroris, pembunuh dan pelaku kejahatan kemanusiaan yang lain ternyata banyak yang teridentifikasi berasal dari kalangan orang yang beragama; orang-orang yang secara formal pengikut dan penganut agama formal, serta melakukan aturan aturan formal keagamaan. Karenanya, sprititualitas manusia atau manusia spiritual ditandai dengan sifat-sifat luhur universal seperti cinta, kasih sayang, kejujuran, toleransi, pemaaf, bertanggungjawab, dan memiliki rasa harmoni dengan manusia yang lain.
Gus Dur sebagai sosok guru bangsa menunjukkan dedikasi yang cukup tinggi terhadap masalah spiritualitas. Ia selalu menekankan pentingnya spiritualitas sebagai pijakan utama dalam bertutur kata, bertindak, berpolitik, dan lain-lain. Karenanya, di dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana pendidikan spiritual yang menjadi pemikiran dan gerakan Gus Dur yang perlu untuk kita teladani. Pendidikan spiritual merupakan upaya pengajaran, peningkatan dan pengembangan potensi potensi spiritual yang terdapat di dalam diri manusia sehingga menjadi manusia yang berkualitas, yang whole person, truly human, atau being fully human (hlm. 75).
Oleh sebab itu, dalam gerakan pendidikan spiritual tidak cukup hanya bermodalkan menjadikan peserta didik atau orang lain menjadi seseorang taat atau rajin beribadah saja. Akan tetapi, tujuan dari pendidikan spiritual adalah ingin menjadikan manusia yang sanggup mendefinisikan dan memberikan makna dalam kehidupannya, manusia yang otaknya cerdas, hatinya mulia, dan pribadinya luhur sehingga kebaikannya bisa bermanfaat bagi orang lain, termasuk lingkungannya.
Inilah yang dicita-citakan oleh Gusdur bagaimana menjadikan manusia tidak hanya sekedar sholeh (baik dan melakukan kebaikan) tetapi menjadi manusia yang memiliki pribadi yang mushlih (memperbaiki) moral di dalam beragama. Manusia tidak hanya dicetak menjadi beragama, akan tetapi bagaimana menjadi pribadi yang tidak melalukan anarkisme atau tindakan-tindakan tidak bermoral terhadap kemanusiaan dan lingkungan. Karenanya, pemikiran pendidikan spiritual yang menjadi gagasan dan pemikiran Gus Dur dapat dibagi menjadi 4 bentuk di antaranya spiritual humanis, spiritual inklusif-kosmopolit, spiritual dinamis-progresif, dan spiritual mistikal-trans-eksistensial.
Seorang humanis berarti individu yang meletakkan kemanusiaan sebagai tujuan inti dalam setiap gerakan dan perjuangannya. Sehingga, ia sangat menghargai kemanusiaan dengan memberikan rasa cinta dan kasih sayang, perlindungan dari penindasan dan ketidakadilan meneberkan kedamaian, kenyamanan, harmoni dan lain-lain. Karenanya, bagi Gus Dur, kemanusiaan mesti mendapatkan tempat yang istimewa dalam kehidupan, apapun agama yang dianut. Sehingga segala bentuk yang memberangus dan menghancurkan nilai kemanusiaan nilai-nilai kemanusiaan mesti terus dihindarkan dan dicegah bersama-sama. Gus Dur pernah menegaskan,” walaupun atas nama agama (termasuk Islam), setiap kegiatan yang menyebabkan kegiatan kemanusiaan mengalami kemunduran, haruslah dihilangkan.”
Judul : Gusdur: Mengarungi Jagad Spiritual Sang Guru Bangsa
Penulis : Dr. Abdul Wahid Hasan
Penerbit : IRCISoD
Cetakan : Agustus, 2015
Tebal : 252 halaman
ISBN : 978-602-255-95-66