Orang pinggiran, wong cilik, atau orang-orang yang memang dipinggirkan, adalah kenyataan yang acapkali jauh dari sorot kamera. Atau, jika pun tersorot kamera, ia adalah pemuas hasrat libido religius bagi pemeluk agama yang naif sembari berkata, “Kita perlu bersyukur, lihat mereka-mereka itu, hidupnya sungguh kasihan.”
Kita pun dibuat cemas dan kalut, tatkala menengok mereka yang terpinggirkan, yang penderitaannya menahun, yang kemiskinannya menubuh, dan yang kesakitannya tak tertanggungkan. Agama, alih-alih datang sebagai pembebas dan pemberi jalan keluar, sejak lampau justru kerap datang sebagai penindas yang lain–melalui perkawinan tokoh agama, kapitalisme, dengan kekuasaan yang zalim.
Sejak masa kegelapan di Eropa, di mana agama hadir sebagai obat bius bagi buruh agar tak melawan, lalu sampailah pada hari ini: agama dibawa sebagai penenang, sebagai narasi eskatologis. Bisa kita lihat di sekitar kita, betapa banyak yang tertindas, yang tubuhnya tereksploitasi, yang tanahnya diserobot paksa, yang penghidupannya melulu sial, karena kebijakan serampangan dan kerakusan manusia.
Alih-alih diadvokasi agar sejahtera, banyak pemuka agama justru memberikan ceramah agar senantiasa bersyukur. Tidak apa-apa hari ini menderita. Esok kalian akan berjaya di surga. Tak jarang pula keadaan demikian dilemparkan saja ke ranah teologis, bahwa ini semua sudah takdir. Kurang lebih begitulah narasi-narasi dominan yang kerap saya dengar sendiri.
Padahal bukan seperti itu seharusnya agama hadir. Nabi Muhammad SAW dilahirkan ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak hingga membebaskan mereka-mereka yang tertindas. Greg Barton, seorang Barat yang tekun mengkaji Gus Dur juga mengatakan, bahwa Gus Dur menjadikan agama sebagai kritik sosial, alih-alih menjadi tameng kekuasaan. Gus Dur tak ingin bahwa agama hanya berhenti pada identitas dan simbol. Agama harus menjadi pembebas serta pelindung bagi mereka yang papa, yang lapar, yang terpinggirkan, dan yang tertindas.
Hal itu yang membuat segelintir orang yang bergiat di Taman Baca Mahanani, Kediri, tergetar.
Gus Dur dalam Lakon Teater
Beberapa bulan menjelang helatan Haul ke-16 Gus Dur, teman-teman pegiat literasi di Taman Baca Mahanani, Kediri, urun rembug bersama. Selain mengonsep acara untuk 30 Desember 2025, teman-teman juga memikirkan akan mempersembahkan apa saat acara Haul Gus Dur tersebut. Pasalnya acara Haul Gus Dur di Taman Baca Mahanani merupakan salah satu acara tahunan yang istimewa. Para pemuka lintas agama, penghayat kepercayaan, mahasiswa, orang biasa, hingga anak-anak tak pernah absen tiap tahun khidmat mengikuti acara tersebut.
Syahdan, tersebutlah Faddinka Addin Qoyyima. Sebagai pegiat teater, ia menuliskan naskah teater berjudul Sepetak Tanah yang akan dipentaskan oleh teman-teman dari Taman Baca Mahanani–kebetulan beberapa pegiat di Taman Baca Mahanani merupakan pegiat teater di kampusnya dulu. Selain menulis naskah, Addin juga sekaligus menjadi sutradara untuk pementasan lakon tersebut.
Awalnya Addin kerap wira-wiri menanyakan ke beberapa orang, “Apakah naskah ini sudah Gus Dur banget?” Addin sebagai Gen Z sedikit meragukan interpretasinya terkait Gus Dur, sebab ia lahir tak lama menjelang Gus Dur berpulang.
Setelah ia berkonsultasi terkait isi naskah, ia pun dengan percaya diri mengajak teman-teman berkumpul untuk membedah naskah. Sungguh, bagi saya pribadi, itu naskah yang baik. Addin melihat Gus Dur sebagai orang yang mengayomi, melihat, berpihak, dan selalu hadir bagi wong cilik. Ketika melihat orang-orang terpinggirkan dan minoritas, ia, termasuk teman-teman di Mahanani, teringat Gus Dur. Begitu seterusnya.
Singkat cerita, naskah garapan Addin yang berjudul Sepetak Tanah itu mengisahkan pergulatan sehari-hari Mak Tum & Ningsih (anaknya) sebagai pemilik warung yang berdiri di atas tanah milik Pak Tim. Sang pemilik tanah, Pak Tim, digambarkan sebagai pak tua yang hidupnya miskin, sengsara, dan akrab dengan kekurangan. Begitu pun Mak Tum, ia hanya memiliki warung kecil itu untuk menyambungkan hidup.

Warung kecil itu merupakan tempat beristirahat orang-orang di desa, tempat istirahat bagi anak punk, pelaku kepercayaan, pastor, hingga waria. Penonton pada awalnya dibuat bertanya-tanya, sebab pentas dibuka dengan Alvin yang memerankan diri sebagai mafia tanah. Pentas dibuka dengan mafia tanah yang mengukur area warung, memotret area sekitar warung (panggung pementasan), lalu disusul masuknya Fajar yang menjadi Pak Tim, pak tua pemilik tanah yang renta.
Panggung mulai terasa panas saat tokoh agama/ustad, Pak Sidi, memasuki panggung dengan gaya berwibawa namun angkuh. Dengan keangkuhannya, ia menyampaikan bahwa tanah ini dibeli secara murah lalu digunakannya untuk membangun musala. Padahal di wilayah itu sudah banyak berdiri masjid dan musala.
Hal itu membuat pemilik warung serta pengunjung warung itu meradang. Misalnya saja penganut kepercayaan lokal, ia mengeramatkan pohon besar di dekat warung itu. Ia tentu saja tak terima pohon yang ia sakralkan akan ditebang begitu saja. Lalu ada juga pak tua yang lain, yang sehari-harinya mencari rumput di sekitar warung itu. Dengan rencana pembangunan itu, ia tentu kalut, sebab tempat ia mencari rumput untuk ternaknya yang tak seberapa itu harus berkurang lagi dan lagi.
Ada juga anak punk dan dua orang waria yang sehari-hari beristirahat di sana. Mereka tentu meradang, sebab hanya di warung itu yang mau menerima mereka apa adanya, tanpa menghakimi dan tanpa merendahkan kehidupan mereka. Tak lupa, tentu saja ada Mak Tum & Ningsih sebagai pemilik warung yang bingung. Antara sedih atau marah, antara hari esok yang terancam tanpa penghidupan atau iming-iming kemuliaan dari Pak Sidi bahwa dengan dibangunnya musala, kehidupan di sini bisa lebih baik.
Seorang aktor yang memeragakan menjadi pastor juga tak tinggal diam. Ia merasa terpukul ketika mengetahui bahwa sepetak tanah itu akan dijadikan musala. Sedangkan di sisi lain, banyak fenomena pembangunan rumah ibadah yang dipersulit izinnya, bahkan ditolak oleh pemeluk agama mayoritas. Kompleksitas pun menjelma dari tubuh-tubuh aktor. Penonton juga larut dalam gelak tawa, marah, serta geregeten saat menikmati pentas tersebut, sebab hal tersebut ternyata tak jauh dari kehidupan sehari-hari.
Pentas itu mencapai klimaks ketika kekacauan dan adu mulut antara pemilik warung, pengunjung, dan Pak Sidi terjadi. Saat kekacauan memuncak, masuklah Pak Tum, pemilik tanah, dan Gus Dur. Kehadiran Gus Dur membuat kekacauan menjadi reda dan dengan penuh kasih, Gus Dur menyalami semua pengunjung warung yang terdiri dari berbagai jenis manusia.
Dalam lakon ini, peran Gus Dur hadir menjadi penengah dan penyampai aspirasi wong cilik. Gus Dur, dalam lakon, mengingatkan kembali bahwa untuk apa membangun musala jika harus mengorbankan banyak hal, termasuk alam? Untuk apa membangun musala, jika sudah banyak musala dan masjid berdiri tapi hanya digunakan untuk salat saja? Lantas di mana tempat orang-orang sini (yang terdiri dari minoritas, wong cilik, punk, dan waria) bisa beristirahat dan saling berinteraksi sosial dengan aman dan nyaman?
Pak Sidi pun tersadar, para aktor juga menjadi lega. Apakah pentas selesai? Belum. Pentas ditutup dengan masuknya mafia tanah dari perwakilan pemerintah yang menaiki panggung sambil tertawa jahat. Bagaimanapun, tanah itu sudah ia proses dan ia akan mendapatkan banyak keuntungan dari mengurusi (mengelabui) sertifikat tanah milik pak tua yang miskin itu.

Gus Dur Hidup dalam Berbagai Arena
“Selamat, ya, tampilannya bagus banget dan membuat kita jadi rindu Gus Dur.”
Itulah kalimat yang disampaikan salah seorang yang hadir dalam helatan Haul Gus Dur di Taman Baca Mahanani. Menariknya, kalimat itu disampaikan dengan senyum serta mata yang berkaca-kaca di balik keriput wajahnya. Saya jadi tersentuh pula sebab mengetahui bahwa agama yang dianutnya tidak sama dengan agama yang dianut Gus Dur.
Dari hal tersebut saya pun menginsafi: bahwa Gus Dur selalu hadir melalui lintas zaman, lintas generasi, lintas arena. Bahkan dari panggung teater sekalipun, ia mampu membuat banyak orang merasa tersentuh, tersadar, dan dengan hening mengingatkan pada kita, bahwa ego terhadap agama tak seharusnya mengorbankan yang-liyan. Bahwa agama seharusnya hadir menjadi pelindung dan pembebas–sebagaimana Gus Dur menggambarkan gurunya, Gus Miek, yang hidup di gebyar dunia malam dan memberi obat jiwa pada mereka yang terpinggirkan.
Dalam teater “Sepetak Tanah”, tiga belas aktor itu juga berikhtiar untuk mencecapi keterpinggiran. Para aktor serta penonton berupaya untuk mengetahui bagaimana keterasingan dan kesengsaraan telah lama menubuh dalam tubuh banyak orang di Indonesia. Maka dari sinilah Gus Dur hadir. Ia terus hidup bukan melalui sosok, simbol, dan identitas, melainkan dengan nilai.
Maka seperti itu pula sepatut-layaknya agama hadir. Ia harus hadir sebagai nilai, pelindung, serta pembebas manusia. Bukan berhenti pada simbol dan identitas, apalagi tameng kekuasaan.









