Santri TBS Kudus Belajar Pengelolaan Media Bersama GUSDURian

Sebanyak 19 santri Tim Jurnalistik Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah atau biasa disebut MTs TBS Kudus berkunjung di Griya Gusdurian, Yogyakarta untuk belajar bagaimana mengelola media yang efektif. Acara ini diadakan pada Jumat, 30 Januari 2026

Pembina Jurnalistik MTs TBS Ade Achmad Ismail menyebut bahwa kegiatan ini diadakan untuk membekali para santri dengan berbagai pengalaman pengelola media, khususnya di komunitas. Selain itu, acara bertajuk “TBS Journalism Tour” diselenggarakan untuk memberi pengalaman kepada santri bertemu dengan komunitas pengelola media.

Kunjungan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kembali semangat para santri dalam melakukan kerja-kerja literasi di madrasahnya.

Salah satu santri bernama Akbar sangat antusias mengikuti agenda ini. “Saya semangat mengikuti kegiatan hari ini karena media TBS sudah satu tahun vakum,” ujar Akbar

Kegiatan ini difasilitasi oleh Adin Fahima, Staf Media di Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian. Di awal sesi ia menggali isi pikiran para santri TBS tentang apa yang mereka ketahui tentang Gus Dur dan apa yang membuat mereka ingin jadi jurnalis. 

Sebagian santri menyebut mengenal Gus Dur sebagai seorang kiai, dan presiden ke-4 Republik Indonesia. Selain itu ada yang menuliskan Gus Dur sebagai sosok yang pemberani. 

Adin menekankan bahwa Gus Dur bisa menjadi hebat juga karena banyak membaca dan menulis. “Gus Dur bisa menjadi orang hebat bukan hanya karena faktor keturunan atau nasab saja, tapi juga dari kemauan Gus Dur untuk membaca buku yang tidak ada habisnya, serta kemauannya untuk menyebarkan pikirannya melalui tulisan-tulisan yang ia buat,” ucap Adin.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan sesi materi pengelolaan media yang dibawakan oleh Sarjoko Koordinator Divisi Riset dan Publikasi Seknas Jaringan GUSDURian. Sarjoko menjelaskan pentingnya membentuk tim yang solid dan serta istiqomah dalam kegiatan bermedia. 

“Kita tidak mungkin sendirian ketika menjalankan media. Bentuk tim dan istiqomah adalah kunci,” ujar Sarjoko. Ia kemudian memantik para santri dengan pertanyaan, “Ayat Al-Qur’an yang turun pertama kali apa teman-teman?”. Para santri kompak menjawab, “Iqro’”. Sarjoko menjelaskan pentingnya membaca agar memiliki senjata dalam menulis dan supaya tulisan yang dihasilkan juga bisa menjadi bahan bacaan orang lain. 

Kegiatan ini ditutup dengan foto bersama dan juga permainan ular tangga yang difasilitasi oleh Komunitas GUSDURian Yogyakarta. (SS)

Komandan Media Sosial Jaringan GUSDURian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *