GKI dan GUSDURian Jember Hangatkan Persaudaraan Lewat Buka Puasa Bersama

Jember — Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jember saat komunitas GUSDURian Jember menghadiri acara buka puasa bersama yang digelar pada Sabtu (7/3). Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang mempererat persaudaraan di tengah keberagaman.

Momen buka puasa bersama tersebut terasa semakin istimewa karena berlangsung di tengah dua tradisi spiritual yang berjalan beriringan. Umat Islam tengah menjalani bulan Ramadhan, sementara umat Kristiani memasuki masa puasa Pra-Paskah. Pertemuan ini diinisiasi oleh Komisi Pemuda Remaja (KPR) GKI Jember sebagai upaya membangun ruang dialog, persahabatan, sekaligus memperkuat nilai kebangsaan di tengah perbedaan keyakinan.

Kegiatan diawali dengan penampilan musik dari teman-teman GUSDURian yang mencairkan suasana dan menghadirkan nuansa akrab sejak awal acara. Setelah itu, Penatua Soni dari GKI Jember menyampaikan sambutan yang penuh kehangatan. Ia menyambut baik kehadiran GUSDURian dan menegaskan pentingnya menjaga relasi lintas iman yang telah terjalin.

Menurutnya, persaudaraan antarumat beragama merupakan bagian penting dalam merawat kehidupan bersama sebagai bangsa Indonesia. “Kita satu tanah air, Indonesia. Karena itu kita perlu terus saling menghargai dan menjaga persaudaraan antaragama,” ujarnya.

Sambutan tersebut kemudian disambut oleh penggerak GUSDURian Jember, Fatia Inast Tsuroya. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas undangan dan sambutan hangat dari GKI Jember. Ia juga mengapresiasi keterbukaan gereja yang selama ini sering memberi ruang bagi komunitas GUSDURian untuk berkegiatan.

Lebih jauh, Inast berharap hubungan baik yang telah terjalin dapat terus dirawat dan semakin kuat di masa mendatang. “Walaupun kami tidak seiman, tetapi kita bersaudara dalam kemanusiaan,” katanya.

Setelah sesi sambutan, acara dilanjutkan dengan berbagi pengetahuan mengenai makna puasa dalam tradisi Islam. Koordinator GUSDURian Jember, Mahmud Zain, menjelaskan bahwa puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga merupakan latihan spiritual untuk mengendalikan diri, menahan amarah, serta menumbuhkan empati terhadap kondisi sosial masyarakat yang masih banyak mengalami kesulitan, termasuk kelaparan.

Ia juga menjelaskan bahwa puasa Ramadhan dijalankan selama 29 hingga 30 hari, hingga hilal terlihat sebagai tanda berakhirnya bulan puasa.

Penjelasan tersebut kemudian dilengkapi dengan pemaparan dari Penatua Yonathan mengenai makna puasa dalam tradisi Kristen. Ia menerangkan bahwa puasa merupakan disiplin spiritual yang dilakukan secara sukarela dengan berpantang makan atau minum sebagai bentuk kerendahan hati, pertobatan, serta upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam tradisi Kristen, praktik puasa ini dijalankan selama 40 hari menjelang perayaan Paskah.

Setelah sesi berbagi pemahaman lintas iman, suasana acara semakin hangat melalui berbagai permainan interaktif yang dipandu oleh KPR GKI Jember. Peserta diajak mengikuti beragam permainan, mulai dari tebak nama hewan, membentuk kelompok, menyusun urutan tinggi badan atau ukuran sepatu, hingga permainan merangkai kata. Gelak tawa dan canda pun mewarnai ruangan, mencairkan suasana sekaligus mempererat keakraban di antara peserta.

Kebersamaan tersebut kemudian berlanjut ketika azan Maghrib berkumandang. Para peserta bersama-sama menikmati hidangan buka puasa yang telah disiapkan oleh pihak GKI Jember. Setelah itu, peserta Muslim melaksanakan salat Maghrib berjamaah.

Sebagai penutup, peserta diajak melakukan safari singkat ke ruang ibadah gereja. Dalam sesi ini, tim KPR GKI Jember menjelaskan berbagai filosofi serta simbol-simbol dalam tradisi Kristen, sehingga para peserta dapat saling belajar dan memahami keyakinan satu sama lain.

Melalui kegiatan ini, GKI Jember dan GUSDURian Jember berharap persaudaraan lintas iman tidak hanya berhenti pada pertemuan seremonial, tetapi terus tumbuh menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah perbedaan keyakinan, nilai kemanusiaan dan persaudaraan tetap dapat menjadi jembatan yang mempersatukan.

Penggerak Komunitas GUSDURian Jember, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *