“Bukan aku yang lemah, tapi dunia yang takut pada suara perempuan.”
Kutipan itu merupakan teriakan Asih, aktor perempuan, dalam pementasan Teater Pitulikur dengan lakon bertajuk “Iswara”. Kalimat tersebut menjadi titik klimaksnya pementasan malam itu. Tepuk tangan silih berganti tiada henti, kekaguman terpancar dari sorot mata penonton.
Pementasan dari Teater Pitulikur ini sungguh menarik. Pertama, mulai dari naskah, sutradara, hingga aktornya bukanlah aktor profesional. Melainkan para santri dari Asrama 27, Al-Furqon, Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang. Naskah ini ditulis oleh Ilham Akbar Maulana Gani, seorang siswa SMA. Lalu disutradarai pula oleh Nadya Lutfina Nur Hasanah yang juga seorang siswi SMA.
Hal itu cukup mengesankan banyak penonton kala itu. Bagaimana tidak, santri-santri yang menjadi aktor tersebut terhitung masih pelajar di tingkat SMA dan SMP. Di tengah kesibukan mereka belajar dan mengaji, mereka mampu menampilkan pementasan yang indah tersebut.
Kedua, tak ada adegan aktor laki-laki maupun perempuan dalam satu babak. Hal ini ditegaskan oleh Mustain Dzul Azmi atau Gus Azmi sebagai ciri khas dari teater pesantren yang memperhatikan batasan interaksi antara lawan jenis. Apakah dengan demikian kesan pada penampilannya jadi berkurang? Justru tidak. Pementasan menjadi semakin menarik dan unik, karena tiap babak diisi oleh aktor secara bergantian, antara laki-laki dan perempuan. Alur cerita pun bersambung dengan baik, tanpa kesan memaksakan atau hanya figuran belaka.
Ketiga, tema yang dibawakan sangat berani, kritis, dan menyentuh keseharian kita dalam kehidupan sehari-hari. Menariknya lagi, suara kritis itu tidak dibawa oleh aktivis atau mahasiswa, melainkan oleh para santri yang, kita tahu, tentu memiliki keterbatasan-keterbatasan dengan dunia luar pesantren. Tulisan ini akan mengulas isi cerita dari lakon yang berjudul “Iswara” tersebut.
Perempuan dalam Belenggu
Cerita bermula dari Asih, seorang perempuan muda brilian, anak kepala desa yang ingin mencalonkan diri lagi pada pemilihan kepala desa berikutnya. Sebagai anak kepala desa, tentu ia punya privilese untuk belajar lebih banyak dan tanpa perlu bersusah payah membantu menopang ekonomi keluarga.
Privilese itu ia gunakan dengan baik. Asih membuka sekolah untuk anak-anak perempuan di desanya. Ia ingin anak perempuan di desanya menjadi orang terdidik, berani, dan tidak hanya menjadi orang yang patuh—seperti yang dipesankan ibunya, bahwa perempuan itu kodratnya hanya masak, macak, manak. Asih menolak pemikiran demikian, karena menurutnya, perempuan berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin, berpendidikan, dan berkontribusi pada peradaban.
Sayangnya, gayung tak bersambut dan kenyataan menamparnya habis-habisan. Ayahnya, Romo Adi, tak ingin perempuan menjadi orang yang berpendidikan. Sekali lagi, tugas perempuan adalah bagian domestik. Masak, macak, manak. Keadaan demikian pun telah menubuh dalam masyarakat desa tersebut.
Hal itu ditunjukkan saat Asih mengajak anak-anak desa belajar, lalu dua orang ibu-ibu menghardiknya. Bahkan Ibu Asih sendiri juga tak sejalan dengan keinginan Asih. Sang Ibu justru menekan Asih agar menjadi perempuan yang sesuai kodrat. Padahal yang dinamakan kodrat dalam hal ini merupakan konstruksi kultural yang sudah ditanam dengan lensa laki-laki yang maskulin dan misoginis.
Pementasan tersebut semakin dramatis serta mencapai klimaks ketika Romo Adi, ayah dari Asih, memarahi Asih dan melarangnya melanjutkan kegiatannya untuk mengajar anak-anak di desa. Asih dibungkam dan dipasung secara simbolik melalui aktingnya yang menangis dan berteriak dengan kedua tangannya terikat kain di kanan kirinya.
Kultur Feodal dan Relasi Kuasa yang Timpang
Setiap kultur yang melanggengkan sistem feodalistik selalu mengindikasikan ketimpangan relasi kuasa. Dalam pementasan tersebut, penulis naskah, sutradara, serta aktor dengan ciamik menampilkan gambaran tersebut. Kultur feodal yang dibawakan merupakan khas masyarakat Jawa era kolonial, di mana seorang kepala desa yang berlagak seperti raja lalu setiap ucapannya harus selalu dilaksanakan oleh bawahannya.
Kendati hari ini kita sudah memasuki zaman yang gemerlap dengan kemajuan, hal semacam itu diam-diam masih berkelindan dalam alam pikiran masyarakat kita. Apa yang dikatakan oleh kepala desa, pemimpin, pejabat, seakan-akan selalu benar dan harus segera diwujudkan. Setiap ada kritikan atau ketidaksetujuan oleh masyarakat, maka pemimpin tersebut mengandalkan aparaturnya untuk menyingkirkan mereka yang menentangnya. Bahkan menggunakan senjata sekali pun.
Perlawanan yang muncul pun selalu berangkat dari mereka-mereka yang rentan. Mereka yang terpinggirkan, serta mereka-mereka yang kehidupannya melulu tak menentu. Sejarah telah mencatat, bagaimana pecahnya Revolusi Prancis yang berangkat dari keresahan yang tumpah di warung kopi; perlawanan para santri, petani, dan wong cilik pada Perang Jawa; perlawanan petani di Banten tahun 1888; tak lupa perlawanan Sedulur Sikep dari Suku Samin.

Pada lakon “Iswara” perlawanan pun muncul dari warung kopi. Penjual kopi menularkan keresahannya mengenai keadaan desa yang begitu-begitu saja, bahkan cenderung mundur, kepada pengunjungnya. Keresahan semakin menjadi-jadi saat adegan dua orang petani saling mencurahkan keadaan mereka yang semakin tak jelas.
Dalam lakon tersebut, suatu dilema dihadirkan melalui tokoh Aji. Ia merupakan orang kepercayaan Romo Adi yang kesal dengan atasannya, namun tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan, menariknya, saat Aji diperintah untuk membuat proposal oleh Romo Adi, proposal itu ditolak mentah-mentah. Penolakan itu pun berangkat dari kecacatan berpikir Romo Adi, sebab proposal tersebut dibuat oleh istri Aji, seorang perempuan. Padahal, menurut Aji, istrinya itu cukup pintar, telaten, dan tekun.
Singkat cerita, Aji pun bergabung dengan penjual kopi dan para petani yang sudah muak dengan keadaan di desanya semenjak dipimpin Romo Adi. Mereka melawan dengan mendatangi Romo Adi yang sedang gencar berkampanye. Sayangnya perlawanan itu harus takluk di hadapan moncong senjata yang dibawa oleh pengawal Romo Adi.
Upaya para wong cilik yang rentan ini untuk berdaulat atas kehidupannya harus tunduk pada kesewenang-wenangan dan relasi kuasa yang amat timpang. Romo Adi memiliki senjata, sedangkan mereka punya nyali. Sayangnya, di hadapan senjata dan kekuasaan, nyali saja tak cukup. Walhasil perlawanan mereka berakhir dengan tragis.
Harapan Masa Depan yang Layak Mekar pada Santri
Pementasan Teater Pitulikur dengan lakon “Iswara” mau tak mau membuka satu tabir yang kerap tersembunyi di balik kata takzim: keberanian. Lakon “Iswara” tak hanya membongkar anggapan bahwa santri itu seharusnya patuh dan nrima dalam keadaan apapun. Pementasan itu berhasil menunjukkan kenyataan bahwa santri cukup peka dengan kesadaran kelas dan ketimpangan yang terjadi pada kehidupan masyarakat hari ini.
Konsep dari tawadhu’ atau rendah hati yang kerap disalahpahami lalu dijadikan legitimasi untuk melakukan penindasan pun direkonstruksi dengan baik. Teater Pitulikur mencuatkan kesadaran bahwa kendati santri menduduki kelas tertentu dalam lapisan masyarakat, ia harus selalu berpihak pada yang lemah, papa, dan terpinggirkan.
Melalui media teater, kesadaran yang dipupuk oleh para santri tersebut memunculkan pemahaman bahwa kesetaraan dan keadilan harus diupayakan, meski kita tahu, bahwa kekalahan adalah makanan sehari-hari yang harus kita telan.
Saya pun membayangkan, siapa tahu di hari esok, perubahan dan angin segar revolusi sayup-sayup berangkat dari para santri. Biar sejarah yang mencatat kelak.









