Sosok

Satu Abad KH Ali Yafie: Inspirasi Fikih Ekologi di BuKUPI

Menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks, sosok KH Ali Yafie (1926-2023) hadir kembali sebagai rujukan intelektual yang melampaui sekat tradisi dan modernitas. Dalam Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia #4 yang digelar secara daring pada Selasa (5/5/2026), figur yang pernah memimpin PBNU dan MUI ini dibedah bukan sekadar sebagai ahli hukum Islam klasik, melainkan sebagai “penjaga kewarasan” yang meletakkan dasar bagi fikih sosial dan ekologi di Indonesia.

Diskusi yang diselenggarakan dalam rangka Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan (BuKUPI) ini menyoroti bagaimana KH Ali Yafie berhasil menavigasi benturan epistemologi pada abad ke-20. Di satu sisi, ia menghadapi arus modernisme yang kerap mengabaikan tradisi demi sains, sementara di sisi lain ia menyaksikan kejumudan berpikir yang terjebak pada literatur lama. KH Ali Yafie muncul sebagai sintesis, ia menguasai kedalaman kitab kuning namun sangat fasih membedah krisis sosial, politik, hingga sains modern.

Fikih yang Menjemput Isu Nyata

Nyai Indo Santalia, sebagai pencerita kisah KH Ali Yafie, menekankan bahwa sang kiai memiliki kemampuan unik dalam membawa fikih keluar dari ruang-ruang diskusi tertutup menuju realitas sosial yang nyata. Peran KH Ali Yafie dalam lembaga keagamaan seperti LKKNU dan keterlibatannya sebagai penasihat ekonomi menunjukkan bahwa baginya, agama adalah instrumen untuk menjawab persoalan kemanusiaan.

Rekam jejaknya sangat luas, ia merintis pengawasan syariat pada perbankan Islam pertama di Indonesia. KH Ali Yafie meyakini bahwa fikih harus adaptif agar agama selalu menemukan kesesuaian dengan dinamika sosial. Ketertarikannya pada berbagai literatur membentuk karakter pemikirannya yang inklusif dan holistik dalam memandang problematika bangsa.

Salah satu kontribusi KH Ali Yafie yang visioner adalah gagasannya mengenai hukum Islam untuk lingkungan hidup. Jauh sebelum isu perubahan iklim menjadi perbincangan global yang masif, ia telah merumuskan kerangka ekologi Islam yang kuat melalui karyanya, Merintis Fiqih Lingkungan Hidup (2006). Ia memperluas cakupan fikih muamalah yang biasanya hanya mengatur hubungan antarmanusia menjadi interaksi yang bertanggung jawab antara manusia dengan alam raya.

“Beliau merumuskan kewajiban menjaga lingkungan sebagai amanat hukum Islam yang mengikat bukan sekedar imbauan moral,” tegas Nyai Indo Santalia dalam diskusi tersebut.

Pandangan ini memberikan dimensi yuridis pada pelestarian alam. Menjaga lingkungan bukan lagi sekadar pilihan etis, melainkan kewajiban agama yang setara dengan perintah sosial lainnya. KH Ali Yafie melihat bahwa kerusakan alam merupakan dampak nyata dari perilaku manusia yang didorong oleh obsesi pertumbuhan ekonomi yang tidak terkendali, sehingga fikih harus hadir sebagai alat kontrol.

Satu Abad Keteladanan

Peringatan 100 tahun KH Ali Yafie pada tahun 2026 ini menjadi momentum krusial bagi bangsa Indonesia untuk merenungkan kembali arah peradaban. KH Ali Yafie mengajarkan bahwa kemandirian berpikir dan pengabdian sosial tidak dapat dipisahkan dari akar sejarah. Integritasnya sebagai ulama, akademisi, dan negarawan membuktikan bahwa agama bisa menjadi solusi dinamis bagi krisis global, termasuk krisis lingkungan yang tengah mengancam wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Nusantara.

Sebagai penutup, warisan intelektual sang kiai memberikan pesan optimisme bagi masa depan umat. Kedalaman tradisi justru menjadi bekal paling kuat untuk merespons percepatan globalisasi tanpa harus kehilangan identitas. Hal ini ditegaskan oleh Nyai Indo Santalia bahwa sosok KH Ali Yafie membuktikan fungsi agama sebagai pemecah masalah, bukan sekadar simbol.

“Beliau adalah intelektual brilian yang menjadikan agama bukan sekedar ritual beku melainkan solusi kehidupan yang dinamis dan rasional,” tutur Nyai Indo Santalia.

KH Ali Yafie telah berpulang, namun pemikirannya tetap menjadi cahaya yang menuntun masyarakat untuk tetap waras di tengah masa-masa yang paling menantang sekalipun. Peringatan satu abad kelahirannya tahun ini menjadi pengingat bahwa puncak dari segala kesalehan adalah ketika kehadiran seorang hamba memberikan manfaat nyata bagi manusia dan semesta di sekelilingnya.

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian