Peristiwa

Cangkrukan Pemikiran Gus Dur: Membaca Agama, Komunisme, dan Modernitas dalam Gerak Sejarah

Yogyakarta – Gagasan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengenai titik temu antara keyakinan beragama, modernisasi, dan ideologi besar dunia kembali diulas secara mendalam. Melalui forum diskusi berkala “Cangkrukan Pemikiran Gus Dur” yang digelar oleh Komunitas GUSDURian Jogja, puluhan orang muda hadir di Griya Gusdurian, Yogyakarta, Jumat (5/6/2026) malam. Diskusi ini menandai dimulainya seri tema besar bulan ini, yaitu “Gus Dur dan Marxisme”.

Pada seri perdana ini, forum secara khusus membedah esai klasik Gus Dur berjudul “Komunisme, Agama, dan Modernisasi” yang pertama kali dipublikasikan di Harian Proaksi pada 13 Januari 2005. Acara yang berlangsung pukul 19.30 hingga 21.30 WIB ini dihadiri sekitar 40 peserta dari kalangan mahasiswa berbagai kampus, komunitas orang muda, dan pegiat literasi di Yogyakarta. Dipandu oleh Pandu selaku moderator, diskusi menghadirkan Dimas dan Rikka Iffati Farihah sebagai pemantik.

Keterbukaan Nalar Menghadapi Zaman

Dalam paparannya, Dimas menjelaskan bahwa esai tersebut memperlihatkan bagaimana dinamika sejarah memengaruhi kebijakan masa kini. Gus Dur mencontohkan peralihan sikap di Tiongkok, dari era Mao Zedong yang antiagama menuju era Deng Xiaoping yang lebih pragmatis dengan memberikan bantuan peribadatan bagi lima agama demi kepentingan bersama.

Menurut Dimas, di tengah era modern yang materialistik dan kapitalistik, masyarakat hari ini dituntut memiliki kesiapan untuk membaca persoalan dari berbagai sudut pandang tanpa sekat yang kaku.

“Kita dihadapkan dengan berbagai macam persoalan dan kita dituntut untuk membacanya dalam berbagai macam masalah juga. Antara komunisme, antara agama, antara modernisasi, dan lain sebagainya, itu pada dasarnya tidak bisa dipisah-pisahkan,” ujar Dimas.

Mengikis Prasangka Melalui Berpikir Kritis

Sementara itu, Rikka Iffati Farihah menyoroti tulisan tersebut dari perspektif psikologi kognitif. Penulis buku Menyasati Sesat Pikiran ini menilai esai Gus Dur mampu memantik pembacanya untuk bertualang ke berbagai bacaan lain secara kritis. Keterbukaan Gus Dur dalam berelasi dan mendalami ideologi lain merupakan bentuk latihan nalar untuk mengikis prasangka bawaan manusia yang cenderung kaku terhadap kelompok yang berbeda.

Rikka menegaskan bahwa toleransi dan empati tidak bisa muncul secara instan, melainkan sebuah proses berpikir yang harus terus diupayakan secara sadar.

“Menjadi orang baik itu jauh lebih sulit dan lebih kompleks. Toleransi, empati itu membutuhkan kemampuan untuk memahami orang lain,” jelas Rikka.

Ia menambahkan bahwa nalar kritis menjadi satu-satunya instrumen untuk melawan bias kognitif tersebut.

“Hanya ada satu cara untuk berpikir dengan benar, yaitu menggunakan critical thinking. Critical thinking itu harus selalu dengan kesadaran dan dengan upaya. Sementara kalau orang berprasangka itu tidak pakai upaya, otomatis,” tegas Rikka.

Melihat Sejarah Secara Dinamis

Melengkapi diskusi, salah satu peserta, Farid mendudukkan tulisan Gus Dur dalam koridor gerak sejarah. Ia mengkritik cara pandang kaku yang kerap menganggap masyarakat hanya sebagai objek pasif dari sebuah ideologi yang saklek. Lewat contoh-contoh yang ditulis Gus Dur mengenai pergeseran peta politik di Tiongkok hingga benturan modernitas di Eropa, Farid mengajak peserta melihat bahwa ideologi tidak pernah bergerak di ruang hampa.

“Sejarah itu jauh lebih dinamis daripada yang kita pikirkan. Hubungan antara agama, ideologi, dan modernitas itu dapat berubah sesuai konteks sosial dan politik ataupun kebudayaan yang melingkupinya,” papar Farid.

Farid menekankan bahwa esai ini pada hakikatnya mengajak pembaca untuk melihat bagaimana ideologi beradaptasi dan berkembang secara unik di tiap belahan dunia.

“Perkembangan sejarah itu tidak pernah berjalan secara tunggal dan seragam. Tulisan ini itu jangan hanya dipandang soal oh ini akan bahas agama, akan bahas komunisme, akan bahas modernitas gitu. Tapi bagaimana ketiga hal tersebut dikemas dalam gerak sejarah,” tambah Farid. (SDH)

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian