Opini

Kita Lupa Membaca Alam

Ayat yang turun pertama kepada Nabi Muhammad SAW yaitu, Iqra’. Membaca. Beliau didatangi oleh Malaikat Jibril kemudian disuruh untuk membaca. Sang Nabi berkeringat dan takut saat itu. Apa yang harus dibaca? Hingga saat ini, manusia khususnya umat Muslim percaya bahwa bukan hanya asma Allah yang disuruh baca, tapi manusia dan juga alam. 

Melihat kondisi alam saat ini mungkin kita perlu kembali pada seruan awal kepada Baginda Nabi Muhammad SAW itu. Kita kurang membaca. Membaca tingkah laku alam yang tiap hari semakin merana ini. Maaf, saya mengambil contoh membaca dari sisi agama Islam, karena ini yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari saya, yakni aktivitas membaca yang terinspirasi dari fenomena agung yang dialami sang nabi. 

Beberapa kali saya berkendara di jalan dengan motor, suhu siang hari semakin panas rasanya. Tidak hanya saya, beberapa teman juga mengeluhkan suhu panas yang akhir-akhir ini terasa begitu menyengat, bahkan dari balik kemeja atau baju yang kita kenakan. 

Pada bulan Mei hingga Juni 2026, suhu bumi semakin hangat. Bahkan, menurut NASA dan Layanan Perubahan Iklim Copernicus Eropa, melansir dari Yale Climate Connection menilai bahwa bulan Mei 2026 sebagai bulan terhangat kedua setelah Mei 2024. Suhu rata-rata global untuk Januari hingga Mei 2026 adalah tertinggi keempat dalam catatan.

Namun, fenomena ini tidak terjadi secara seragam. Suhu siang hari memang lebih hangat atau lebih panas dari biasanya. Di Gorontalo Utara, tepatnya di Kecamatan Biau, dilanda bencana banjir pada Mei 2026 lalu. Hujan mengguyur beberapa hari dengan volume yang besar, dan menyebabkan banjir. Sehingga iklim suhu panas bukan jadi patokan, kadang juga cuaca berubah drastis menjadi hujan lebat berdurasi lama. 

Kita sudah seharusnya mulai membaca tingkah alam. Harus sadar akan kondisi alam. Masyarakat Gorontalo punya Adat Panggoba. Mengutip dari Akal Lokal (2026), Panggoba dalam bahasa Gorontalo artinya orang yang menguasai ilmu perbintangan dan mampu membaca tanda-tanda alam. Panggoba merupakan teknik pembacaan kondisi alam untuk berbagai kepentingan: pertanian, nelayan, atau ritual lainnya. 

Kecerdasan lokal sering kali dianggap remeh, terutama oleh budaya masyarakat barat. Jessica Hernandez dalam bukunya Fresh Banana Leaves (2022) membantah anggapan masyarakat Barat, yang memandang bahwa pengetahuan masyarakat adat, seperti Panggoba, hanyalah cerita atau bukti anekdotal yang kurang ilmiah. Istilah yang dikemukakannya adalah sains adat, yang menurutnya adalah ilmu empiris yang telah diuji, dijalani, dan diwariskan dari generasi ke generasi selama ribuan tahun. 

Kebijakan Seolah-olah

Pemerintah, di mana pun itu selalu tampil di tengah masyarakat sebagai juru selamat. Melahirkan kebijakan yang seolah-olah baik, namun minim substansi. Seperti kebijakan pemerintah daerah yang ada di Gorontalo. Khususnya dari segi lingkungan. Salah satunya yaitu, Pemerintah Kota Gorontalo yang getol dalam membersihkan kotanya dari sampah, salah satu upayanya dengan mengerahkan kendaraan operasional pengangkut sampah, salah satunya gerobak motor listrik di berbagai kelurahan.

Kemudian di hari lingkungan hidup sedunia yang dirayakan baru-baru ini, 2026. Pemerintah Kota Gorontalo kembali melakukan gerakan tanam pohon dengan melibatkan unsur Aparatur Sipil Negara, yang dibarengi dengan seremoni apel pagi. Dalam kegiatan itu, para pemangku kepentingan instansi terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup beserta instansi lainnya melakukan penanaman pohon. Hal ini mereka jadikan fondasi sebagai sikap peduli terhadap lingkungan. Kebijakan-kebijakan ini sebenarnya baik, jika anak TK dan SD saja yang melaksanakannya. 

Sebagai pemerintah yang memiliki kewenangan jabatan dalam melahirkan suatu kebijakan, bukan tarafnya lagi melakukan kegiatan penanaman atau pelarangan buang sampah sembarangan, bahkan mengerahkan armada pemungut sampah. Selain buang-buang anggaran, ini juga kurang mengena akar masalah lingkungan yang sering terjadi di tengah masyarakat, seperti bencana banjir, kekeringan, tanah longsor, dan bencana lainnya yang kerap mengambil dalih masalah itu disebabkan oleh lingkungan, atau cuaca yang buruk. 

Pemerintah abai terhadap kondisi hutan yang menjadi penyangga air hujan dengan volume yang tinggi. Gorontalo sering dilanda banjir. Seperti yang saya paparkan bahwa, Kecamatan Biau, pada Mei 2026 ini dilanda bencana banjir. Banjir ini hampir setiap tahun terjadi di Gorontalo, seperti yang dituliskan dalam Jurnal Akhir Tahun Institute for Human and Ecological Studies (InHides) Gorontalo Tahun 2025. 

Pembukaan lahan hutan oleh aktivitas ekstraktif penambangan, hutan tanaman energi, yang secara masif menghabiskan berbagai jenis pohon yang menjadi penyangga air hujan. Kemudian perihal tanaman monokultur untuk kepentingan energi yang memakan luas hutan yang tidak sedikit. Hal ini yang menjadi perhatian Farid Gaban, Dandhy Laksono dan lainnya yang dituangkan dalam buku Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru. Bahwa kebijakan pemerintah sering kali mengabaikan kondisi ekologis, antropologi suatu daerah dalam rangka melancarkan proyek ‘strategis’ mereka. Selain akibat pembotakan hutan, masalah banjir di perkotaan juga, secara sederhana menurut keyakinan saya, disebabkan oleh penataan kota yang kurang sandaran kondisi geografis dan ekologis lokal, sering kali hanya meniru kota lain yang sukses. Sukses dalam hal ini mendapatkan gelar Adipura, yang seolah-olah gelar itu sakral.

Hernandez (2022), yang saya sebut sebelumnya, juga mengkritik proyek-proyek lingkungan yang bergaya sains Barat, yang kerap mengusir masyarakat adat dari tanah leluhur mereka atas nama pelestarian alam. Seperti yang pernah diungkapkan oleh presiden kita, “toh sawit juga pohon, ada daunnya”. Ini yang coba dikritik oleh Hernandez dalam buku itu. 

Begitupun perihal sampah. Jika anda pernah menonton dokumenter Dandhy Laksono yang sebelum-sebelumnya anda akan menemukan salah satu diantaranya: Pulau Plastik. Dokumenter ini menyoroti persoalan sampah yang kompleks melalui sudut pandang aktivis yang getol menyuarakan persoalan ini. 

Dalam film itu, salah satu sudut pandang yang diambil adalah aktivis lingkungan yang merupakan peneliti di Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton), Prigi Arisandi. Prigi menemukan dalam feses manusia mengandung mikroplastik yang berbahaya bagi kesehatan. Hal ini, jika melihat secara sederhana, disebabkan oleh budaya konsumtif masyarakat terhadap plastik. Namun, benarkah sesimpel itu? Kita perlu merenunginya kembali. Lihat di warung-warung, di toko-toko swalayan, di mall, barang-barang yang dijajakan serba terbungkus plastik. Bahkan, Dandhy Laksono menyoroti soal air minum dalam kemasan, yang sering kali kita anggap remeh, padahal di negara-negara maju masyarakatnya dapat minum air bersih langsung dari keran. 

Perihal kebijakan lingkungan hidup ini pemerintah membuat kebijakan yang seolah-olah tepat. Seperti menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, meminimalkan penggunaan plastik, yang sesungguhnya hanya menyentuh masalah permukaannya saja. Secara radikal tidak berdampak signifikan. 

Trias Hubungan Manusia

Sebagai manusia kita sering kali lupa. Lupa tentang hubungan kita terhadap alam. Kita kemungkinan besar fokus memperbaiki hubungan dengan sang pencipta, hingga lupa bahwa kita juga punya hubungan dengan alam dan manusia lainnya. Namun di sini saya ingin fokus kepada hubungan manusia dengan alam, karena jika ini dijaga dengan baik, hubungan terhadap sesama manusia juga bisa baik. 

Seperti yang saya kemukakan di awal, sebagai manusia kita lupa untuk membaca alam ini. Alam yang sudah menderita akibat tangan-tangan kita ini. Jika anda pernah menonton dokumenter Before the Flood, yang dibintangi Leonardo DiCaprio itu, menunjukan kerusakan alam yang secara holistik telah terjadi sejak dulu, yang menyebabkan naiknya suhu bumi dan bencana ekologis yang kita rasakan saat ini. Atau dokumenter David Attenborough, A Life on Our Planet, yang menunjukan dampak dari tangan manusia yang merusak, salah satunya dampak yang diakibatkan oleh ledakan senjata buatan manusia di Chernobyl, yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh manusia, tapi juga alam. 

Sehingganya kita perlu memperbaiki hubungan kita dengan alam juga. Dalam berbagai agama juga mengajarkan ini. Hubungan horizontal kita terhadap alam harus dijaga dengan baik. Sehingga menjaga alam tidak hanya sekedar slogan, tapi terinternalisasi pada diri kita, sesuai kapasitas kita masing-masing, apakah sebagai masyarakat, pemangku jabatan yang mengambil keputusan dan melahirkan kebijakan, atau sebagai manusia yang menjalankan ajaran-ajaran agama. 

Kita harus belajar kembali membaca alam dan menciptakan kesadaran eksistensi kita yang adalah bagian dari alam dari masyarakat lokal. Yang menurut Hernandez, mereka tidak melihat alam sebagai ‘sumber daya’ untuk dieksploitasi, melainkan sebagai kerabat. Pengetahuan mereka dibangun di atas prinsip timbal balik; manusia merawat alam, dan alam akan merawat manusia. (SDH)

Fadhil Hadju

Penggerak Komunitas GUSDURian Gorontalo.