Peristiwa

Haul Ke-1 KH Imam Aziz, LHS: Kebersahajaan Adalah Barang Mewah

YOGYAKARTA – Peringatan Haul Ke-1 KH M. Imam Aziz bertajuk ”Sunyi, Menggerakkan” digelar secara khidmat di Kompleks Makam KH M. Imam Aziz, Pondok Pesantren Bumi Cendekia, Yogyakarta, Minggu (19/7/2026). Rangkaian acara yang memadukan tradisi keagamaan, kegiatan sosial, serta refleksi kebudayaan dan pemikiran ini menjadi ruang permenungan bersama untuk meneladani nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan konsistensi perjuangan almarhum dalam advokasi kemanusiaan serta rekonsiliasi sosial.

Salah satu agenda utama yang berlangsung pada pukul 14.00-17.00 WIB dalam peringatan haul ini adalah peluncuran dua buku, yakni Bergantung pada Ranting dan buku bunga rampai karya 33 penulis berjudul Kiai Pejuang Sunyi. Peluncuran buku dirangkai dengan diskusi publik yang menghadirkan empat narasumber, yaitu Sri Wiyanti Eddyono, Achmad Munjid, Budiawan, dan Fina Itriyati, dengan dipandu moderator Tri Noviana. Diskusi tersebut membedah rekam jejak pemikiran almarhum yang konsisten mengusung isu advokasi hak asasi manusia, rekonsiliasi pascakonflik, serta kemandirian masyarakat.

Suasana kian khidmat di penghujung sesi diskusi saat mantan Menteri Agama Republik Indonesia (periode 2014-2019), Lukman Hakim Saifuddin (LHS), menyampaikan kesaksian sekaligus refleksi penghormatan di dekat makam almarhum. Menurut LHS, tradisi berdiskusi dan menimba kearifan tepat di samping pusara memiliki makna spiritual dan filosofis yang sangat dalam.

”Saya baru kali ini menghadiri diskusi di samping pusara. Ini luar biasa dan maknanya sangat dalam bagi saya. Seperti yang disampaikan Mas Munjid, inilah salah satu tradisi dari para pendahulu kita untuk belajar dari sosok yang di-hauli,” ujar LHS saat menyampaikan penuturan reflektifnya.

LHS merangkum karakter almarhum ke dalam beberapa nilai utama, seperti keikhlasan, kesederhanaan, konsistensi, dan kesabaran. Namun, jika harus diperas menjadi satu nilai yang paling menonjol dalam konteks zaman saat ini, nilai tersebut adalah kebersahajaan.

”Kalau harus merangkum sosok beliau, saya memilih kata keikhlasan, kesederhanaan, dan konsistensi. Jika diperas lagi, saya memilih kata kebersahajaan. Di situlah kemewahan Mas Imam dalam konteks kekinian,” kata LHS.

Lebih lanjut, LHS menggarisbawahi bahwa almarhum merupakan sosok teladan yang telah selesai dengan ego pribadinya sehingga seluruh energi hidupnya dicurahkan untuk kepentingan orang lain.

”Beliau adalah sosok yang apa adanya dan sebenarnya sudah selesai dengan dirinya sendiri. Orientasi hidupnya adalah memberi, bukan untuk mendapatkan atau menuntut sesuatu,” tegas LHS.

Selain diskusi dan peluncuran buku, rangkaian Haul Ke-1 KH M. Imam Aziz di PP Bumi Cendekia ini juga diisi dengan peluncuran perpustakaan serta berbagai kegiatan kerakyatan. Sejak pagi, para peziarah dan warga sekitar mengikuti khataman Al-Qur’an dan manaqib, pasar rakyat, bakti sosial, serta bazar UMKM. Peringatan ditutup dengan majelis istighosah dan tadarus budaya yang menegaskan kembali semangat pemikiran almarhum yang tak pernah lelah menggerakkan perubahan dari ruang-ruang sunyi. (SDH)

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian