Author:Muhammad Asyrofudin

Panggung Sandiwara Istana di Balik Muktamar NU

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang kembali membuka kotak pandora tentang bagaimana relasi antara negara dan organisasi keagamaan raksasa tidak pernah benar-benar steril dari syahwat kekuasaan. Perhelatan akbar ini menghadirkan benturan menarik antara klaim normatif dari pemimpin di panggung utama dan spekulasi publik atas…

07 Sep 2026 10:00 WIB·by Muhammad Asyrofudin· In Opini

Lebih dari Terjemahan, Pendakwah Harus Kuasai Aspek Kebahasaan Teks

“Al-Qur’an yang diekspresikan dalam bahasa Arab tidak mudah diterjemahkan dan ditampung ke dalam bahasa Indonesia yang lebih sempit cakupannya. Sesungguhnya yang dinamakan terjemahan Al-Qur’an merupakan bentuk tafsir terpendek yang seringkali memunculkan kedangkalan dan penyimpangan makna.” (Komaruddin Hidayat, Theology of Hope, 2024). Demikianlah adanya, apa yang…

28 Jun 2026 15:07 WIB·by Muhammad Asyrofudin· In Opini

Menggagas Teologi Progresif: Reorientasi Cara Pandang Antroposentris dan Triumfalistik dalam Berakidah

“Cara seseorang berhubungan dengan Tuhan, sangat mempengaruhi bagaimana kita berhubungan dengan manusia, alam sekitar, dan bagaimana seseorang mengelola kehidupannya secara umum” (Ulil Abshar Abdalla, 2020). Begitulah kiranya, keadaan kita saat ini memiliki keterkaitannya yang sangat erat dengan cara kita memahami ilmu teologi. Jujur saja, setelah…

23 Jun 2026 15:14 WIB·by Muhammad Asyrofudin· In Opini

Kita Dan Keragaman yang Tidak Perlu Diseragamkan

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidaklah lahir secara mendadak. Ia digali dari heterogenitas tradisi, budaya, dan nilai-nilai agama yang telah lama tertanam kuat dalam kehidupan masyarakat—jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk. Nilai-nilai luhur tersebut kemudian disarikan dan dirumuskan secara formal melalui rangkaian sidang…

08 Jun 2026 12:47 WIB·by Muhammad Asyrofudin· In Opini

Gus Dur dan Istilah Mitra Sejajar yang Melampaui Kesetaraan Gender 

Berbicara ihwal kesetaraan (egalitarianisme), kiranya tidak akan pernah lepas dalam pembicaraan negara demokrasi—termasuk juga di Indonesia. Karena sebagaimana yang diutarakan Gus Dur—sapaan akrab Presiden Abdurrahman Wahid, bahwa terlaksananya demokrasi dapat diukur melalui tiga hal, yaitu: kebebasan (liberty), kesetaraan (egaliter), dan supremasi hukum (supremacy of law).…

11 May 2026 14:46 WIB·by Muhammad Asyrofudin· In Opini