Opini

Jika Masa Depan Sudah Ditakdirkan, untuk Apa Doa dan Usaha Dipanjatkan?

Di atas realitas yang membingungkan, hati dan pikiran kita seakan dihantui selalu dengan rasa takut pada ketidakpastian. Ini adalah bagian dari kondisi dilema yang begitu menyakitkan, di mana masa depan—sebuah realitas yang sama sekali tidak ada yang mengetahui dan memastikannya—telah merebut paksa kebahagiaan saat ini yang seharusnya dirayakan.

Dalam kondisi tertentu, hal demikian seringkali memunculkan pertanyaan-pertanyaan skeptis ihwal ketetapan (takdir) Tuhan. Karena tidak sedikit dari kita yang merasa, sudah berusaha sekuat mungkin, namun apalah daya takdir berkehendak lain. Begitu juga sebaliknya, banyak orang-orang yang dipandang berhasil, tanpa perlu dengan usaha yang lebih dari cukup.

Tentu saja pertanyaan sekptis ihwal takdir dalam realitas demikian, kiranya menjadi suatu hal yang wajar-wajar saja, apalagi bagi seseorang yang sedang menghadapi kondisi yang limitatif—tidak cukup kuat untuk menanggungnya lagi.

Pertanyaan-pertanyaan demikian, saya kira tergolong dalam pembahasan ilmu Teologi. Dan menurut Kiai Husein Muhammad, melaui pengantarnya yang berjudul Ruang Lingkup Ijtihad dalam buku Menuju Fiqh Baru (IRCiSoD, 2020), pembahasan teologi adalah pembahasan yang tergolong dalam ruang lingkup pembahasan ijtihad, yang dihasilkan dari kerja-kerja intelektual para ulama.

Dan sebagaimana pembahasan yang termasuk dalam ruang lingkup ijtihad, maka dalam pembahasan Teologi masih memungkinkan terjadinya pluralitas pendapat. Sehingga terkait keterbatasan kita akan hal ini, juga tidak akan membuat Tuhan marah dan menyiksa kita, selagi kita masih meyakini kemahasempurnaan-Nya (Alllah Swt)—terlepas melalui cara yang mana kita dapat mengamini kesempurnaan itu.

Memahami Kehendak Tuhan

Dalam keyakinan seseorang yang beriman, takdir/ketetapan Tuhan merupakan hal yang harus diyakini meskipun misterius (asrar al-asrar). Karena di satu sisi, Tuhan memiliki hak prerogatif-Nya dalam menjalankan kehendakn-Nya (sifat iradah) untuk menetapkan segala hal. Namun di sisi lain, Tuhan juga memberikan pesan secara naratif (khitab khabariy): bahwa kondisi manusia tidak akan pernah berubah, jika ia tidak berusaha untuk mengubah apa yang ada pada dirinya (QS Ar-Ra’d :11).

Sehingga tidak aneh, jika kita merasa ada semacam kesan paradoksal dalam memahami tema takdir/ketetapan ini. Karena seakan-akan hanya kehendak Tuhanlah yang dapat menetapkan hasil dari semuanya. Sementara tugas kita, hanyalah berusaha.

Namun tentu saja, pemahaman ini seyogyanya tidak kita pahami secara simplitis yang bisa menyampaikan kita pada kondisi pasif dalam menjalani kehidupan, tanpa adanya usaha terlebih dahulu dalam menghendaki tujuan hidup. Kita sebagai orang yang beriman, haruslah memahami kehandak Tuhan ini dengan penuh prasangka baik (husnudzhann) dan rendah hati: bahwa secara ontologis, kehendak Tuhan selalu berkelindan dengan hal-hal baik yang menjadi wujud dari kesempurnaannya.

Kehendak Tuhan Menurut Al-Ghazali

Hal demikian dapat kita pahami melalui ungkapan al-Ghazali dalam karyanya, Bidayatul-Hidayah, dalam pembahasan yang memiliki keterkaitannya dengan tema ini. Al-Ghazali dalam hal ini, mengungkapkan: “Wa Iyyaka An Taquula Inna Allaha Kariimun Rahiimun Yaghfiru ad-Dzunuba Lil-‘Ashaati, Fa Inna Hadzihi Kalimatan Uriidu Biha Bathilun Wa Shahibuha Mulaqqobun Bil-Hamaqah”.

Dengan terjemahan bebas, bahwa al-Ghazali mengingatkan kita untuk tidak memudahkan dalam mengatakan sesungguhnya Allah Maha Mulia lagi Maha Penyayang, yang selalu mengampuni dosa-dosa para pelaku maksiat. Karena bagi al-Ghazali, demikian adalah kalimat (yang benar) namun dimaksudkan untuk tujuan yang batil/salah, sehingga pengucapnya dapat dijuluki dengan hamaqah (orang yang bodoh).

Karena secara ontologis, Tuhan memang memiliki sifat kasih sayang yang selalu mengampuni dosa-dosa hambanya. Namun demikian, bukan berarti kita dapat leluasa untuk melakukan segala kemaksiatan, lalu dengan menggampangkan meminta ampun kepada-Nya—tanpa rasa penyesalan sedikitpun.

Dalam redaksi yang lain, al-Ghazali menyamakan ucapan di atas dengan ucapan seseorang yang menginginkan ‘alim (berprestasi), namun pada saat yang sama, tanpa berusaha terlebih dahulu, ia justru langsung menyerahkan semuanya kepada Tuhan sambil mengatakan: “Inna Allaha Kariimun Rahiimun Qaadirun An-Yufidha ‘Ala Qolbii Minal-‘Ulumi Maa Afadhahu ‘ala Qulubi Anbiyaa’ihi Wa Awliya’ihi Min Ghoiri Juhdin Wa-Tikrarin Wa-Ta’allumin”.

Sesungguhnya Allah Maha Mulia, Maha Penyayang, lagi Maha Kuasa. Ia dapat mencurahkan ke dalam hatiku berbagai pengetahuan, sebagaimana yang telah Dia (Allah) curahkan ke dalam hati para Nabi dan para kekasih-Nya, tanpa melalui usaha (jerih payah), pengulangan (hafalan), maupun proses belajar.

Sehingga jika kita kaitkan dalam konteks takdir/ketetapan Tuhan, tidak seyogyanya kita memahami ketetapannya secara simplitis yang justru dapat menjebak kita dalam sikap pasif. Dalam artian, langsung menyerahkannya penuh dengan kepasrahan total kepada Tuhan tanpa adanya usaha. Sikap demikian, tentu saja—sebagaimana yang dikatakan al-Ghazali—adalah sikap dari orang-orang yang lemah akalnya (bodoh).

Lebih dari Hukum Kasualitas

Dengan demikian, kita dapat memahami tentang takdir/ketetapan Tuhan, dengan pemahaman yang kontekstualis (terikat dengan kenyataan) namun tanpa terlepas dari sandaran teologisnya.

Dengan kata lain, kita harus meyakini bahwa ketetapan/Tuhan selalu terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Namun pada saat yang sama, kita juga harus meyakini bahwa Tuhan telah menetapkan bagi segala sesuatu yang diinginkan oleh kita, melalui sebab dan jalan (proses) yang dapat menyampaikannya kepada apa yang kita maksudkan.

Hal ini sebagaimana firman-Nya, kepada Sayyidah Maryam: “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu” (QS. Maryam: 25). Padahal, Allah bisa saja untuk menjatuhkan buah kurma kepada Sayyidah Maryam, tanpa perlu menggerakkan pohonnya terlebih dahulu.

Jika seorang kekasih Allah yang suci seperti Sayyidah Maryam saja tetap diperintahkan untuk melakukan menggoyang pohon (usaha) agar mendapatkan buah kurma (hasil), maka apalagi kita sebagai manusia biasa. Tentu saja, ini menegaskan bahwa tidak seogyanya kita mempertanyakan apakah Allah mampu memberi tanpa usaha (tentu Allah mampu), tetapi kita harus sadar bahwa Allah menghendaki kita untuk menempuh jalan usaha sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya.

Dengan begitu, sikap pasrah (Tawakkal) yang hendak diparaktikkan kita haruslah melakukan usaha semaksimal mungkin terlebih dahulu melalui kerja nyata dan doa, lalu baru menyerahkan hasilnya kepada Allah—alih-alih hanya diam berpangku tangan sambil mengharapkan keajaiban. (SDH)

Penulis: Muhammad Asyrofudin, Mahasiswa UIN Raden Mas Said, Surakarta

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian