Produk Pengetahuan

Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi di Pasuruan Soroti Kolonialisme Modern dan Isu Papua

PASURUAN – Gamaduta Pecalukan menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi pada Rabu, (6/5/2026) di Kedai Lalie Djiwo, Pasuruan. Kegiatan yang mengusung tema “Kolonialisme di Zaman Kita” tersebut dihadiri berbagai komunitas lingkungan, aktivis sosial, mahasiswa, hingga GUSDURian Pasuruan.

Acara berlangsung sejak pukul 14.00 WIB dengan rangkaian kegiatan yang cukup beragam. Kegiatan diawali dengan pembukaan dan penampilan musik dari komunitas Treecoustic dan Enjoy Tretes. Setelah jeda magrib, acara dilanjutkan dengan pertunjukan teater oleh komunitas Tarzan Hutan yang menggambarkan kerusakan alam dan ketidakadilan sosial akibat eksploitasi lingkungan.

Memasuki malam hari, peserta bersama-sama menyaksikan film dokumenter Pesta Babi yang mengangkat realitas kehidupan masyarakat Papua di tengah eksploitasi alam, konflik sosial, hingga berbagai bentuk kolonialisme modern yang dinilai masih terjadi hingga saat ini.

Film tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat adat Papua hidup berdampingan dengan alam dan menjadikan hutan, tanah, serta lingkungan sebagai sumber kehidupan utama. Di sisi lain, film juga memperlihatkan dampak masuknya industri besar dan eksploitasi sumber daya alam yang mengubah kehidupan masyarakat adat secara drastis.

Diskusi berlangsung hangat dan penuh refleksi. Salah satu peserta yang hadir, pemuda asal Papua bernama Ama, turut menyampaikan pandangannya mengenai kehidupan masyarakat Papua yang menurutnya sangat berbeda dengan kehidupan masyarakat perkotaan.

“Kita hidup berdampingan dengan alam, maka alam akan menjaga kita. Alam adalah ibu bagi kami. Mari beraksi, kita beraksi melawan dengan cerdas dan benar,” ungkap Ama di hadapan peserta diskusi.

Ia juga menyampaikan bahwa berbagai konflik yang terjadi di Papua tidak dapat dilepaskan dari adanya penindasan terhadap masyarakat setempat.

Selain itu, berbagai peserta lain juga menyampaikan pandangan dan keresahan mereka terhadap kondisi sosial dan politik saat ini. Salah satunya datang dari Cici, Koordinator GUSDURian Pasuruan yang menyoroti persoalan oligarki dan penguasaan ruang hidup masyarakat.

“Bagaimana kita bisa bertahan hidup kalau tempat hidup kita sudah dirampas oleh oligarki? Kalau begitu jangan sebut lagi negara demokrasi dari rakyat untuk rakyat, ganti saja dari oligarki untuk oligarki,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa kondisi politik saat ini membuat banyak anak muda mulai kehilangan kepercayaan terhadap panggung politik nasional karena dinilai semakin jauh dari kepentingan rakyat.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir sejumlah narasumber, di antaranya Pradipta Indra Ariono dari WALHI Jawa Timur, Prigi Arisandi, Priya Kusuma, dan Hadi Sucipto.

Melalui kegiatan ini, panitia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin peduli terhadap isu lingkungan, kemanusiaan, serta pentingnya menjaga ruang hidup masyarakat adat dan kelestarian alam. (SDH)

Penulis: Khoridatul Bahiyyah

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian