Sastra

Kala Retak


Oleh: Bilqis Fitria Salsabiela

BEGINI salah begitu salah, diam salah sedikit atau banyak berbicara juga salah, mengapa semua menjadi serba salah?” jerit Kanya dalam hati mengeluhkan pekerjaan dan lingkungan kerjanya yang sangat rumit itu.

Mungkin ia pernah melakukan kesalahan, tapi mengapa selalu nampak ia yang berakhir dengan terus-menerus disalahkan.

Ini bukan sekedar sulitnya menjadi perempuan bekerja di tempat yang mayoritas pria, apalagi dengan stigma perempuan terlalu mengandalkan emosi daripada akal pikirannya sehingga posisi perempuan tidak setara.

Namun ketika sistem puluhan tahun diatur oleh orang dalam demi menguntungkan kepentingan pribadi dan golongannya, lenyaplah prinsip kesetaraan itu.

Yang bukan bagian dari mereka hanya bisa melakukan manuver untuk bertahan. Tak ada yang benar-benar disebut rekan atau teman karena siapapun siap menggunakan manuver untuk menjatuhkan orang lain.

Kekurangan diulik, seperti kehidupan pribadi Kanya sebagai perempuan lajang usia 30-an yang belum menikah, lantas diramaikan dengan acara jodoh-menjodohkan tanpa persetujuannya seolah ia tak keberatan, padahal nyata-nyata ia tidak mau karena memiliki pilihannya sendiri. Meski ia menolak, acara jodoh-menjodohkan itu tak pernah redup.

Setiap hari pekerjaan dipenuhi drama kantor dengan bumbunya. Kanya sudah jenuh, jika bimbang atau marah, ia akan meluangkan waktu berbincang dengan Pak Oka membicarakan karakter rekan kerja, budaya kerja, atau keluarga.

Pak Oka, Pak Edward dan Pak John adalah senior dengan gap usia dua puluh tahunan yang karakternya membuat orang susah berkoordinasi atau sekadar berkomunikasi.

Banyak orang terjebak kategorisasi senior dan junior, namun tidak dengan Kanya yang bisa dekat dengan siapa saja, dari mulai CEO sampai office boy. Banyak golongan tua yang konservatif pelit mentransfer ilmunya, sedangkan golongan muda memilih bekerja secara instan sehingga tidak mau totalitas.

Kanya hadir mengurangi gap dan memecahkan hambatan kerjanya tanpa banyak drama. Bukan karena ia jebolan jurusan komunikasi, melainkan sejak kecil diajari ayahnya untuk tidak membeda-bedakan orang lain dan membangun persamaan dari perbedaan latar belakang, suku, ras, atau agama.

Tiga seniornya berasal dari suku dan agama yang berbeda. Bahkan untuk orang seiman pun seringkali tidak mudah karena setiap orang punya pikiran dan kepentingan sendiri. Perang ego masih besar dan kerap menciptakan drama kantor yang pelik.

Kanya senang berinteraksi, namun ia tak selalu menang melawan manuver sistem dan orang-orangnya.

Sayangnya, orang muda seperti Kanya jarang ada. Kebanyakan mereka terkungkung kotak asal daerah atau universitas bergengsi yang menjelma sebagai orang dalam untuk mengendalikan sistem secara penuh. Sistem yang terjadi dibuat oleh orang dalam untuk mengendalikan orang-orang di dalamnya.

Kondisi ini membuat orang tertentu mendapatkan peluang luas karena memiliki backing-an lebih tinggi, sedangkan sebagian besar lainnya mengalami diskriminasi dan dipaksa patuh pada sistem yang tak adil hanya untuk bertahan.

Realitasnya, sebagian orang terus bekerja bak mesin, tapi ada sebagian kecil melakukan selebrasi padahal belum ada output nyata. Pesta, pamer kekayaan, serta panjat sosial bukan saja dari kalangan elit, namun tak sedikitnya golongan pekerja biasa yang mendapat keistimewaan jika sampai dipanggil sebagai ‘mbakyu’-nya pejabat tertentu.

Kiprah para Mbakyu ini sudah melewati batasan kewenangan kerja, bak ‘Leviathan’ yang berbuat sesukanya tanpa sangsi. Banyak orang pusing karena perusahaan tetap merugi dengan keuangan tidak stabil. Acara makan-makan dan berfoya-foya masih rutin dilakukan, sebuah gaya hidup yang semakin jauh dari kesederhanaan sedangkan kondisi nyatanya di ujung pailit.

***

Jam istirahat tiba dengan keriuhan masing-masing. Kanya menikmati makan siang sendiri sambil menguping pembicaraan kosmetik, pakaian, hingga politik kantor dan dramanya. “Naiklah dengan bijak, bukan menginjak,” suara pekerja yang sakit hati karena ketidakadilan yang harus ditelan pahit-pahit.

Mereka mengomentari pejabat yang dikatrol oleh backing-nya, sedangkan yang bekerja keras dari nol terpaksa gigit jari dan berjalan di tempat selama bertahun-tahun. Kanya memahami perasaan para pekerja itu. Ia sendiri tak betah dengan medan kerja sekeras ini. Ia pusing dengan tingkah orang-orang yang mulai mengobok-obok kehidupan pribadinya hanya karena lajang di usia yang dicap sebagai kategori ‘telat untuk menikah’.

Orang-orang senang menjodohkannya atas dasar ‘cari teman’ atau ‘membantu teman’ yang belum memperoleh pasangan. Semula dianggap candaan, lama-lama ia terganggu dan muak setiap harinya.

“Mau ke mana, Mbak?” tanya salah satu rekan kerjanya. “Rapat,” jawab Kanya singkat. Saat ada rapat tim yang kebetulan ketuanya masih single, rekan kerja menggoda dengan berseloroh, ‘Rapat-rapatan’ atau saling merapatkan diri.

Kanya sudah sangat bosan karena perjodohan ini mengganggu konsentrasi dan mempengaruhi kesehatan mentalnya. Namun sebagai orang baru, ia tak bisa tegas memperlihatkan ekspresi marah.

Kanya sampai mengirim chat sahabatnya, Putro, dengan ajakan menikah demi menyelamatkan kesehatan mentalnya. Namun, tak direspon oleh Putro karena mereka jarang komunikasi lewat WhatsApp atau telepon sejak Kanya pindah kota. Kanya kesal dan nyaris melempar ponsel. Meski ia menunjukkan isi chat pada rekan kerja sebagai penegasan sudah tidak bisa dijodohkan, perjodohan kantor tetap ramai dilakukan.

Ia menumpahkan kekesalan pada Karina. Karina menyarankan agar diam dan tenang agar mereka beralih ke hal lain.

Kanya memprotes emosional, “Diam bagaimana? Jodoh itu takdir mubram yang ditetapkan Allah SWT di lauh mahfuz. Individu hanya diwajibkan menerima sunatullah serta ketetapan qada dan qadar dengan ikhlas.”

Karina membalas tenang, “Ini adalah takdir muallaq yang berasal dari ikhtiar dan kegigihanmu menghadapinya. Mereka tidak tahu usahamu.”

Kanya tetap gelisah melawan mayoritas.

“Aku pernah menyampaikan keberatan, tapi mereka bilang aku membuat border besar, padahal nyata-nyata aku menolak. Apalagi ada yang membawa-bawa hadis menjodohkan orang sama dengan membangun satu blok istana di surga seolah menjadi legalitas. Menurutmu apakah ada ayat atau hadis seperti itu?”

Karina menyarankan, “Bagaimana kalau kita tanyakan kepada Pak Ustadz untuk mendapatkan jawaban secara lebih jelas dan bimbingannya pasti bisa mengusir kegundahanmu.”

Kebetulan saat itu ada kajian. Di sela-sela jemaah yang bertanya, Kanya pun mendapat kesempatan untuk bertanya mengenai kebenaran ayat atau hadis tersebut dan bagaimana hukumnya menurut Islam tentang menjodohkan orang karena usia, kebiasaan masyarakat ataupun terbelit hutang.

Lantas dijawab oleh Pak Ustadz untuk bagian pertanyaan terakhir saja karena mungkin beliau lupa sebab ada banyak pertanyaan yang digabungkan dalam satu sesi tanya jawab tersebut.

“Dikisahkan Aisyah ra, bahwa Rasulullah pernah didatangi seorang anak gadis yang dipaksa menikah dengan calon yang tidak disukainya dan Nabi mengembalikan urusan ini kepada anak itu bahwa islam menempatkan perempuan untuk dapat memilih pasangannya sendiri sesuai keinginan dan kebutuhannya karena ia sendiri yang kelak menjalani kehidupan pernikahannya, namun memang dalam mazhab Syafi’i yang banyak dianut di Indonesia, wali mujbir memiliki otoritas untuk menjodohkan anak gadisnya, namun dengan syarat telah mengakomodir semua keinginan dan kebutuhan putrinya, bukan dengan memaksa demi kepentingannya sendiri, misal, karena hutang atau sebab paksaan lainnya.” Jawab Pak Ustadz dengan lugas.

Sesi tanya jawab rehat. Kanya belum puas karena pertanyaan pertama terlewat.

“Mungkin terlewat karena cukup banyak pertanyaan di sesi ini. Tapi kita sudah dapat inti jawaban menurut hukum Islamnya, tapi, solah sahih atau tidaknya kurang relevan untuk kamu,” bisik Karina ke telinga Kanya.

“Maksudmu?” tanya Kanya dengan kebingungan.

Karina memberi penjelasan, “Pak Ustadz sebagai pembimbing rohani menjawab pertanyaan setelah meminta petunjuk Allah SWT melalui sanad guru yang tersambung ke atas hingga Nabi sebagai pemilik Nur Muhammad.”

“Aku masih tidak mengerti,” tanya Kanya masih kebingungan.

“Kanya, untuk pertanyaan pertama itu Pak Ustadz bisa saja khilaf karena saking banyak pertanyaan, tapi hal terpenting disini adalah kamu sendiri yang berhak memutuskan karena nanti kamu yang menjalaninya dan yang berhak menjodohkanmu itu adalah wali mujbir dengan sudah mempertimbangkan keinginan dan kebutuhanmu, sedangkan orang lain tidak memiliki hak, kecuali atas seizinmu dulu. Jadi, mereka menggunakan ayat atau hadist hanya sekedar untuk melegitimasi saja sehingga seakan-akan hal itu benar untuk dilakukan. Apalagi kebanyakan masyarakat kita menilai bahwa menikah adalah sebagai status seakan telat nikah itu salah.” Kata Karina kepada Kanya.

Kanya kini paham, perjodohan massal ini hanyalah kelumrahan semu yang amat ia beratkan. Di tengah kebimbangannya tentang status wali mujbir, sebab ayah dan kakeknya telah tiada, seorang jemaah tiba-tiba menyuarakan lintasan pikirannya.

“Jika wali mujbir tiada, perempuan bisa menunjuk kerabat laki-laki sebagai ghoiri mujbir yang tetap mengakomodasi keinginannya, seperti kakak atau paman, atau memilih ulil amr,” jelas Pak Ustadz.

Bagi Kanya, jawaban itu menegaskan bahwa perjodohannya tidak berkah. Pertama, ia merasa keberatan. Kedua, para makcomblang di sekitarnya kebanyakan perempuan yang tak memenuhi syarat hubungan darah sebagai ghoiri mujbir.

Kanya lalu membujuk Karina untuk bertanya mengenai cara menyikapi perjodohan yang datang bertubi-tubi.

“Dalam Islam tidak boleh ada paksaan,” ujar Pak Ustadz. “Nilai fikih sering kali kalah oleh nilai sosial masyarakat. Namun jika ingin selamat, ikutilah fikih yang sesuai maqosid syar’i. Ikuti nilai sosial hanya jika tak bertentangan dengan fikih, bukan sekadar mengikuti mayoritas.”

Karina mengangguk menyenggol Kanya, “Dengar itu. Mustahil menghentikan kebiasaan masyarakat kita. Jadi, tetaplah berpegang pada fikih dan abaikan tekanan sosial mereka, namun tetaplah berakhlak baik.”

Karina menyarankan agar Kanya bersabar demi menghindari friksi. Namun, Kanya merasa pertahanannya sudah jebol. Semakin ia bertoleransi dan memisahkan perasaan dari pekerjaan, aksi mereka justru kian menjadi-jadi. Kini, di tengah keputusasaan yang mendera, Kanya tahu ia membutuhkan wejangan segar dari Pak Oka untuk memulihkan kembali semangatnya yang patah.

Sehabis makan siang, Kanya mencari Pak Oka. Seorang staf muda berseloroh, “Mungkin Pak Oka sedang salat.”

Kanya langsung menegur, “Kamu jangan seperti itu,” lalu berlalu.

Sebagai orang baru, ia menghindari konfrontasi kecil. Namun, candaan itu tidak pada tempatnya karena Pak Oka bukan muslim. Isu sensitif seperti ini harus dihentikan sebelum menjadi bumerang.

Langkahnya kemudian diadang dua senior yang langsung menggoda dengan sebutan ‘cantik’. Salah satunya, yang sudah bercucu, berkelakar ingin menjadikannya istri muda dan mengklaim peluangnya sudah 50% tinggal menunggu persetujuannya.

Kanya menangkis ketus, “50%-nya kena tsunami jadi tinggal 0%, sudah tidak ada harapan!”

Ia berseloroh sambil melenggang pergi diiringi tawa berderai kedua bapak itu. Kanya terpaksa menanggapi dengan canda demi menjaga suasana kerja tetap cair, walau sebenarnya ia tidak sedang bercanda.

Pintu ruangan Pak Oka ternyata tertutup rapat. Kanya kecewa. Ia teringat wejangan Pak Oka tempo hari tentang cara menghadapi drama kantor dan cat calling yang amat dibencinya ini. Karena yang dicari tak kunjung muncul, Kanya pun berbalik arah.

Sebelum sampai di ruangannya, seorang rekan kerja mencegat dan memberi peringatan. “Kanya, hati-hati dengan para senior! Pak John hanya memanfaatkanmu, Pak Edward suka mempermainkan situasi, dan Pak Oka yang terlihat baik itu sebenarnya tidak sebaik itu. Mereka mendapat banyak manfaat dari kehadiranmu, sedangkan kamu hanya bisa gigit jari.”

Alih-alih mengutuk ketidakadilan itu, Kanya memilih pasrah dan menganggapnya sebagai ketetapan takdir .

Kanya terdiam seribu bahasa, tak mampu menyangkal ucapan rekannya.

Di kantor ini, batas benar dan salah terasa kabur. Pak John selalu ingin tampak menonjol di atas keringatnya, sementara Pak Edward kerap menyerangnya di balik topeng perdamaian. Apakah aku hanya bisa diam saat terlampau sering dirugikan?” gugat Kanya dalam hati.

Lamunannya buyar oleh dering ponsel. Sebuah rekanan membatalkan kesepakatan kerja sama secara sepihak. Kecewa atas wanprestasi tersebut, Kanya berusaha menahan emosinya meski sesekali tangisnya runtuh.

“Jangan terlalu melankolis!” cibir atasannya singkat. Seketika, Kanya membulatkan tekad. Kanya tiba-tiba berkata, “Saya ingin resign karena …” Ia menggantungkan perkataannya untuk mencari alasan yang tepat, meskipun otaknya terlampau penat.

“… Karena saya ingin berkeluarga.”

Walaupun alasannya tidak tepat, yang terpenting bagi Kanya saat itu adalah pengunduran dirinya disetujui. Berkali- kali ia mengajukan resign, hasilnya selalu berujung penolakan atau sekadar dimutasi dari satu bagian ke bagian lain. Ia hanya ingat ucapan salah satu atasannya dulu, jika Kanya mengundurkan diri karena alasan menikah, permohonannya pasti langsung dikabulkan.

Keesokan harinya, di tempat kajian, Kanya meluapkan segenap amarahnya kepada Karina. Makiannya bahkan mulai melintasi batas hingga menyeret sentimen agama.

“Jangan membenci agama manapun entah itu agama kita sendiri ataupun agama lain sebab setiap agama pasti mengajarkan kebaikan dan kebenaran, jika ada deviasi itu hanya karena pemeluknya saja bukan agamanya. potong Karina menenangkan.

Kanya menarik napas, menyadari kekhilafannya. Ia keliru melempar prasangka, baik pada seniornya yang berbeda keyakinan, maupun pada rekanan bisnis seagama yang berpenampilan islami namun ingkar janji.

“Ingat kajian terdahulu, Kanya. Pak Ustadz meminta kita berdakwah. Ketika kita diam, kita sama dengan menjadi iblis yang bisu,” ujar Karina mengingatkan.

“Namun jika dakwah lisan dan tulisanku selalu diserang, apa lagi yang bisa kuperbuat? Bertahan dicaci, atau meninggalkan semuanya sebagai bentuk khauf?” tanya Kanya getir.

Karina lalu mengulas kembali jawaban Pak Ustadz. “Pandai-pandai berstrategi dan tirulah Nabi, mundur dari Mekah ke Madinah, dan setelah siap, rebutlah kembali. Jangan meniru iblis, maka jangan mati!”

Wejangan itu terasa begitu relevan di telinga Kanya. “Mungkin ini saatnya aku mundur. Aku akan kembali ke kampung untuk bertani dan memasak, menutup pintu masa lalu agar luka batin ini sembuh. Aku ingin memaafkan diriku dan mereka, tetap utuh meski sudah pecah berkeping-keping.”

“Kamu hanya retak, Kanya, bukan pecah,” ralat Karina lembut.

“Kamu hanya butuh waktu untuk menyembuhkan diri.”

Kanya tersenyum. “Iya, hanya retak yang besar. Jika kelak di usia 40-an aku belum menikah, aku tetap menolak dijodohkan. Pilihan hidupku kini telah dibimbing oleh Mursyid sebagai orang tua rohani agar tidak tersesat.”

“Betul. Dan jika kita tak bisa lagi berdakwah dengan lisan, tunjukkanlah lewat akhlak,” pungkas Karina menutup percakapan.

“Memaafkan meski tak lagi bisa bersama, seperti kisah Nabi terhadap Wahsyi. Dengan begitu, tidak ada lagi dendam yang membara di dalam diri.”

***

Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian