Sastra

Orang-Orang Senewen


Oleh: Fajrul Alfien

SEPERTI tetumbuhan yang tahu persis kapan harus berbunga, berbuah, dan berguguran daunnya. Demikian pula Muslim, petani desa yang sejak belia menggarap sepetak sawah peninggalan orang tuanya. Bagi Muslim, sawah adalah dunia kecil. Tak hanya padi yang hidup di sana, rerumputan dan berbagai macam binatang menapak di tanah yang sama dan mencari penghidupan bersama.

Di kehidupannya yang biasa-biasa saja itu, Muslim adalah kepala keluarga dengan dua orang anak, Umar dan Fatimah. Istrinya, Solehah, telah berpulang saat Umar berusia 18 dan Fatimah menginjak usia 14. Selepas SMA, Umar pergi merantau dan bekerja sebagai penjaga kebun di proyek milik pemerintah. Persis, rumah sederhana milik Muslim hanya dihuni dirinya dan putri bungsunya.

Saban pagi, rumah itu seperti tak berpenghuni. Muslim selalu berangkat ke sawah sebelum fajar terbit, sementara Fatimah mulai mengayuh sepedanya sejak pukul enam pagi menuju sekolah. Muslim baru akan pulang menjelang petang, persis seperti kawanan bangau yang balik menjelang hari redup. Setelahnya, Muslim bergegas pergi ke musala dan tak beranjak dari sana hingga selesai Isya.

Bagi sebagian besar warga dusun, Muslim bukanlah bapak-bapak yang suka duduk dan ngopi di warung, bukan pula tipe orang yang mengikuti hiruk-pikuk perkembangan kehidupan orang-orang di desanya. Satu-satunya tempat bagi Muslim mengobrol dan berkelakar selain di sawah adalah musala Al-Mukmin. Selain sebagai tempat salat, di tempat persujudan sederhana itu juga rutin dilaksanakan ngaji kuping tiap malam selasa dan manaqiban tiap malam jumat, dan Muslim tak pernah lalai.

Sejak kecil, rasa penasaran Fatimah terhadap hal apa pun sangat tinggi, di kelasnya pun ia dikenal sebagai siswi yang senang bertanya. Tak seperti siswa-siswi lainnya, sepulang sekolah, Fatimah tak lekas bermain atau beristirahat. Ia mengayuh sepeda ke warung sayuran, berbelanja bahan masakan, lalu khusyuk di dapur menyiapkan hidangan. Selepas membungkusnya di dalam rantang, Fatimah akan pergi mengantar makanan itu ke sawah waktu yang tepat saat perut Muslim sedang lapar-laparnya.

Sepeninggal Solehah, Fatimah menggantikan peran ibunya, termasuk memasak dan menemani ayahnya makan siang di gubuk sawah miliknya. Gubuk sawah milik Muslim cukup sederhana, hanya berupa rangkaian kayu dan bambu dengan atap asbes. Cukup bagi dirinya untuk berteduh dari panas dan hujan. Saat waktu salat tiba, gubuk kecil itu juga menjadi tempatnya bersujud.

***

Sebelum fajar terbit dengan sempurna, Muslim telah menggendong cangkulnya menuju sawah. Dari kejauhan dia melihat sesuatu yang janggal, dia berhenti sejenak untuk mengamati sesuatu itu dari jauh. Karena pandangannya tak cukup mampu menangkap objek dengan jelas, ia mempercepat langkah kakinya. Sesampainya di gubuk, ia melihat patok-patok bambu yang ujungnya dicat merah banyak tertancap di sawah, termasuk di sawah miliknya.

Setelah mengamati semua patok yang tertancap di sawahnya, ternyata pada masing-masing patok terdapat sebuah logo tertempel persis di bagian ujung bambu yang bercat merah itu.

“Suuul! Cepat jalannya! Ini sawahmu kenapa?!” teriak Muslim memanggil Samsul yang tengah berjalan menuju ke arahnya. Sawah milik keduanya bertetangga, hanya dipisahkan oleh pematang. Sawah sebelah timur yang dekat tanggul sungai milik Surya, sawah sebelah barat yang dekat dengan jalan dusun milik Samsul. Sementara itu, sawah milik Muslim berada di antara sawah Surya dan Samsul. Ketiganya berkawan sejak anak-anak, petani adalah profesi warisan dari orang- orang tua mereka.

“Siapa yang memasang patok ini jeh?” tanya Samsul dengan nada kesal. Muslim hanya menggeleng sambil menunjukkan ekspresi wajah yang sama bingungnya dengan Samsul.

“Logo ini seperti logo milik pemerintah, tapi kenapa mereka memasang patok di sawah kita?” tanya Samsul menambah kebingungan. Keduanya baru mendapat pencerahan dari Surya yang datang paling akhir.

“Kemarin saat waktu jumatan, ada tiga mobil bak dengan sekitar delapan orang membawa patok-patok ini. Ketika ditanya oleh istriku, mereka hanya menjawab bahwa mereka hanya diminta memasang patok saja jeh, tak tahu persis apa tujuannya,” tutur Surya dengan mimik yang juga senewen.

Pemasangan patok di sawah langsung menjadi buah bibir warga Pabean. Tak ada satu warga pun yang tahu persis siapa mereka dan apa tujuan mereka memasang patok-patok itu di sawah milik warga. Informasi dari luar dusun pun sangat terbatas, sebab jarang sekali orang dari Pabean keluar ke jalan besar selain anak-anak mereka yang bersekolah.

Pabean memang cukup berjarak dari desa induknya, terpisah oleh hamparan sawah yang luas. Jika ingin menuju jalan besar, mereka harus melewati toang—jalanan sepi tanpa rumah atau bangunan, sepanjang sekitar tujuh kilometer. Jika dilihat dari jalan besar, Pabean hanya tampak seperti rimbun pohon tanpa kehidupan manusia di dalamnya. Sebenarnya, selain karena jaraknya cukup jauh, mereka juga merasa tak memiliki kepentingan karena semua kebutuhan dasar tersedia di dusun terpencil itu.

Satu-satunya pintu informasi dari luar yang masuk ke Pabean biasanya lewat Mang Taslim dan Yu Tarsih. Ketua RT dan istrinya itu saban hari harus bolak-balik ke jalan besar untuk memasar berbagai macam keperluan dapur rumah tangga, sebab hanya milik mereka satu-satunya warung besar yang ada di Pabean.

Tak ada satu pun warga Pabean yang memiliki televisi. Kehidupan orang-orang tua telah habis di sawah dan ladang, anak-anak mereka lebih suka bermain ungkupan, bon-bonan, pata kucing, atau bak-bakan di sungai. Begitu sampai di rumah, mereka hanya sempat mengisi perut sebelum terlelap dalam kelelahan. Semua hal lebih sering disampaikan dari mulut ke mulut, seperti di warung, gubuk sawah, atau musala tempat orang berkumpul.

Setelah dua hari berlalu, semua warga yang sawahnya dipatoki mendapat undangan dari balai desa. Undangan tersebut berisi permintaan dari aparat desa agar warga dapat mengikuti musyawarah dengan orang-orang dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, tentara, dan polisi.

Sebelum masuk ke aula, semua tamu undangan diminta untuk menuliskan tanda tangan di daftar hadir yang telah disediakan panitia. “Ini setelah tanda tangan dapat amplop ngga jeh, Kang?” tanya samsul kepada panitia yang berbadan tegap dan berambut cepak.

“Bapak dan ibu yang kami hormati, kami memahami betul bahwa sawah bagi Bapak dan Ibu sekalian bukan sekadar lahan tempat menanam padi, melainkan juga tempat bagi bapak dan ibu menaruh harapan dan masa depan keluarga. Di hari yang baik ini, kami akan menyampaikan kabar dari pemerintah pusat. Kami perlu menyampaikan dengan jelas bahwa lahan yang selama ini bapak dan ibu kelola sebagai sawah akan dialihfungsikan untuk kepentingan bangsa dan negara.”

“Kami berharap bapak dan ibu dapat memahami bahwa kebijakan ini dipilih karena mempertimbagkan maslahat yang lebih luas. Kami memahami bahwa ini tidak mudah, tetapi keputusan ini harus tetap dijalankan,” ujarnya tanpa membuka dialog. Begitu orang kabupaten selesai menutup pidatonya, semua warga langsung diminta bubar meninggalkan aula balai desa.

“Ini apasih maksudnya wong-wong itu, aku ngga paham busung. Mereka nih pengen memberi bantuan atau apa?” ucap Surya.

“Dahhh, jangan banyak cingcong dulu. Ayok segera balik, keburu hujan. Kita kanda di musala saja nanti malam,” ujar Samsul.

Selepas ngaji kuping kitab Sulamuntaufik, Ustad Subhun membuka percakapan mengenai pematokan sawah dan hasil musyawarah di balai desa siang tadi. Di luar hujan lebat, beberapa kali suara gemuruh dari langit terdengar, kilatan cahaya petir memantul di genangan air. Semua jamaah di musala tampak seperti terisolasi di tempat terpencil, seluruh pandangan ke luar tampak gelap dan kosong. “Sepertinya akan ada hal besar yang terjadi di dusun kita. Semuanya dimulai dari sawah dan ladang kita.” Kang Subhun membuka percakapan.

Kepripun maksudnya, Kang?” tanya salah seorang perempuan paruh baya. “Apakah ini ada sangkut pautnya dengan pemasangan patok di sawah, Kang?” tanya jamaah yang lain. “Tadi siang saya juga memiliki firasat yang kurang enak di hati,” timpal Muslim.

“Sebulan yang lalu, saya ikut menghadiri silaturahmi akbar alumni pondok. Di sana, saya bertemu beberapa kawan lama yang juga menggarap sawah di desanya. Mereka bercerita bahwa lahan sawah mereka digunakan oleh pemerintah untuk membangun kebun jagung dan pabrik pengolahannya. Hal itu sempat menjadi polemik di sana. Namun, warga sekitar tak bisa berbuat apa-apa karena katanya semua tanah yang digarap oleh petani di sana adalah tanah milik negara.

“Beberapa orang yang memiliki sertifikat pun oleh aparat dianggap sebagai sertifikat yang sudah tidak berlaku. Warga di sana juga sama seperti kita, rata-rata ya menggarap sawah peninggalan ayah, kakek, dan buyut mereka. Awalnya, mereka menolak dan melawan proyek itu, tetapi pada akhirnya mereka tak mampu berbuat apa-apa karena aparat tentara dan polisi ikut bergerak turun ke bawah, mendatangkan berkompi-kompi pasukan dan memaksa satu persatu warga agar patuh.”

“Lah, terus nasib batur-batur sampean priwe, Kang?” tanya Samsul memotong cerita.

“Ada beberapa warga yang mendapat kekerasan fisik karena melawan terlalu keras. Awalnya mereka juga dijanjikan ganti rugi dan dijanjikan akan dilibatkan dalam pekerjaan itu. Namun, sampai tiga bulan sejak sawah mereka diambil alih, tak pernah ada informasi apa pun dari pihak pemerintah. Waktu itu, mereka masih mampu bertahan hidup karena punya tabungan gabah, tak tahu sekarang bagaimana nasibnya. Proyek itu sudah mulai dilaksanakan.”

Lhadalah, tek kira kita ini mau dapat bantuan. Loh kok malah begini kejadiannya?”tanya Surya dengan wajah senewen.

“Lah iya, meskipun ngga bersurat, lahan kita itu kan sudah digarap dan dimiliki oleh buyut-buyut kita jauh sebelum Indonesia ada. Pemerentah kan seharusnya membantu masyarakatnya agar tanah itu sah menjadi milik kita, bukan malah merampasnya. Lah kalau begitu apa bedanya pemerentah kita dengan Belanda?” ucap salah seorang jamaah dengan nada kesal.

“Lalu, bagaimana dengan hal yang menimpa kita ini, Kang? Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Muslim.

“Lah iya, kalau semua lahan milik wong Pabean dicaplok, kita semua mau hidup dari mana?” tambah seorang ibu-ibu dengan nada agak tinggi.

“Masalah ini memang cukup sulit, karena kita berhadapan dengan pemerintah. Namun, satu hal yang harus kita jaga bersama-sama, kita harus selalu bersatu dan jangan mau diadu domba oleh siapa pun. Kita harus sama-sama dengan tegas mempertahankan sawah kita dengan cara yang tidak melanggar hukum, kita akan mengusahakan itu bersama- sama.” Ustad Subhun mulai menjelaskan.

“Sawah bagi kita ini kan bukan cuma lahan garapan, melainkan tanah yang menghidupi keluarga kita sejak zaman dahulu dan bahkan mungkin akan terus begitu sampai anak cucu kita besok. Jika kita sudah tidak memiliki sawah, akan makan apa anak cucu kita nanti?” Muslim menyela penjelasan Ustad Subhun dengan nada emosional.

“Nah, betul apa yang dikatakan Wa Muslim. Sawah kita itu tak bisa dibandingkan dengan uang atau pun emas. Sawah kita jauh lebih berharga dari itu semua. Emas dan uang akan habis digunakan, tetapi sawah akan tetap menumbuhkan tanaman selama kita mau menjaga dan merawatnya. Saya harap, ketika pertemuan dengan orang pusat nanti, kita semua hadir, kita bersama-sama dan bersatu mempertahankan hak kita. Bismillah, nggih?!” lanjut Kang Subhun.

“Bismillah. Allahu Akbar. Shollu ala muhammad!” Terdengar jawaban dari jamaah yang saling bersahutan dengan lantang.

Hamparan padi di sawah terlihat sudah semakin merunduk ketika rombongan petani Pabean berjalan melewati toang. Tinggal menghitung hari saja bagi mereka semua untuk melaksanakan panen raya sebelum datang bulan puasa. Karena mendapat undangan dari balai desa, mereka terpaksa meninggalkan sawah dan memberikan karpet merah bagi burung gundul kaji untuk melahap padi sepuas-puasnya. “Kang, anakku wadon minta kuliah jeh, Kang. Hasil panenku kali ini akan kutabung sepenunya untuk biaya itu. Apakah bisa anak petani seperti Fatimah itu sekolah tinggi-tinggi begitu ya, Kang?” Muslim membuka percakapan dengan Ustad Subhun yang berjalan di sampingnya.

“Lahh, bagus itu, Wa Muslim. Tidak pernah ada selama ini anak-anak Pabean yang punya keinginan untuk bersekolah sampai setinggi itu. Bocah lanang kepengennya langsung kerja, bocah wadon kepengennya langsung nikah. Apalagi Fatimah itu kan perempuan, itu keinginan yang bagus, Wa,” jawab Kang Subhun dengan nada optimis.

“Makanya aku sedang khawatir, Kang. Jika sawah kita benar-benar akan diambil oleh pemerintah, bagaimana saya bisa menabung dan membiayai Fatimah? Tolong ya, Kang. Aku akan terus berada di samping Kang Subhun untuk menolak rencana pemerintah itu!” ucap Muslim dengan mimik resah.

“Itulah mengapa kita perlu mendorong mimpi Fatimah, Wa. Jika dusun kita punya sarjana yang berpengetahuan luas tentang dunia ini, tentu perjuangan kita akan lebih mudah. Sementara ini, mari kita upayakan semaksimal mungkin agar pemerintah mau mencari lahan lain, tidak mengganggu atau merampas tanah para petani.” Pungkas Kang Subhun.

Halaman balai desa tampak sangat sesak oleh kendaraan aparat dan pejabat. Ada pula satu mobil pemadam kebakaran terparkir di depan aula. Polisi dan tentara berpakaian lengkap telah siap siaga di posisi mereka masing-masing. Ada dua mobil pengangkut prajurit, itu artinya ada puluhan tentara di balai desa. Ketika rombongan petani sampai di balai desa, semua aparat memasang wajah dingin dan menatap tajam rombongan Kang Subhun. Mereka datang ke balai desa dengan berjalan kaki. Kang Subhun membawa cangkul, Samsul membawa arit, Surya membawa botol-botol berisi pupuk alami, Muslim membawa empat ikat padi yang telah menguning, warga lain ada yang membawa gabah, beras, bibit padi, dan segala hal yang berhubungan dengan pertanian.

“Berhenti! Tinggalkan barang-barang itu di luar! Jangan ada yang membawa apa pun ke dalam!” sergah seorang aparat berbadan tegap dengan nada tinggi.

“Lah sampean belum makan tah, Kang? Kok ya langsung sewot,” ucap Surya sambil terkikih.

“Lahh iya, padahal semua yang kita bawa ini adalah hadiah untuk orang-orang dari pusat! Jadi ya ga perlu meninggikan suara begitu, Kang.” Samsul menambahkan nada santai.

Dengan izin dari orang kementerian, semua tamu undangan diperbolehkan membawa semua ‘oleh-oleh’ yang mereka bawa. Ketika acara dimulai, perwakilan dari kementerian langsung menyampaikan maksud dan tujuan mereka mengundang para petani. Isi dari ceramahnya tak beda jauh dengan apa yang disampaikan pada pertemuan sebelumnya. Ketika sampai pada penyampaian “pemerintah memahami apa yang petani rasakan”, seorang petani langsung menyela dengan suara yang agak lantang.

“Kalau Bapak paham, kenapa tetap diambil? Kenapa mematok tanpa izin?” Suara itu terdengar agak berat.

“Kan bumi ini, negara ini kan luas. Kenapa pemerintah tidak menggunakan lahan-lahan yang nganggur saja? Kenapa kalian malah mencaplok tanah garapan kami?” Seorang perempuan tua berdiri dengan mata memerah.

“Tanah milik orang-orang kaya di Jakarta itu kan beratus- ratus hektar, beribu-ribu hektar, berjuta-juta hektar! Mengapa tak kalian gunakan saja tanah mereka? Mengapa kalian lebih suka merampas kehidupan kami wong cilik! Yang Bapak-bapak lakukan ini zalim!” Muslim tersentak ketika mendengar ucapan ini, sebab ia sangat kenal dengan suaranya.

Ketika Muslim menengok ke arah sumber suara, benar saja, itu Fatimah, “Duh, Gusti. Fatimah, sudah-sudah, Nok.” Muslim langsung berdiri dan merangkul anak wadonnya itu. “Sejak kapan kau ada di sini, Nok?” bisik Muslim dengan kekhawatiran menggunung. Seluruh petani bertepuk tangan melihat situasi ganjil antara bapak dan anak itu.

“Mohon tenang, Bapak dan Ibu. Kita beri kesempatan kepada Pak Subi untuk melanjutkan,” sela kepala desa, mencoba meredam.

“Kami tidak menutup mata terhadap pengorbanan yang bapak dan ibu lakukan. Namun, bapak dan ibu perlu memahami bahwa ini adalah untuk kemaslahatan yang lebih besar. Kami harap kita semua dapat bersikap bijak. Keputusan ini sudah final dan tidak dapat dibatalkan.” Kalimat Pak Subi terhenti karena melihat seorang lelaki yang duduk paling depan berdiri.

“Bapak tidak perlu lagi berpanjang lebar, kami sudah paham maksud kalian sejak pertama kali kalian memasang patok tanpa permisi. Tak seperti orang-orang di Jakarta, masing-masing dari kami hanya memiliki paling banyak dua petak sawah. Sawah itu adalah peninggalan nenek moyang kami, dan kami berhak atas tanah itu. Petani di desa kami telah ada sejak Indonesia sendiri belum ada, sejak buyutnya bapak belum ada, sejak bapaknya presiden belum lahir, bahkan sejak kakeknya kepala desa belum lahir!” ucap Ustad Subhun dengan suara tenang diikuti gemuruh riuh suara hadirin.

Mendengar suara riuh dari dalam aula, seluruh aparat langsung merangsek masuk. Namun, tiba-tiba Kang Subhun melantunkan selawat yang sontak langsung diikuti oleh para petani, “Solatullah salamullah, ‘ala taha rasulillah….”. Para petani langsung meninggalkan aula balai desa bersama-sama sambil melantunkan selawat badar dan selawat asyghil. Sebelum keluar pintu, mereka menaruh pacul, arit, dan seluruh ‘oleh- oleh’ mereka di depan meja aula.

“Sampaikan kepada presiden ya, Pak Subi!” ucap Samsul kepada orang dari kementerian itu. Semua aparat dan orang- orang dari pemerintahan hanya diam, tak berbuat apa-apa, sebab rombongan petani berjalan meninggalkan balai desa dengan santai sambil tetap bersama-sama melantunkan selawat. Puluhan aparat berpakain lengkap dan pemadam kebakaran yang telah siap siaga terlihat seperti kebingungan, tak satu pun dari rombongan petani itu meluapkan amarah kendati hati mereka terbakar habis oleh kesewenang-wenangan penguasa.

Saat warga Pabean tengah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing, dalam kegelapan malam yang lengang, terlihat tiga mobil yang berisi sekitar lima belas orang masuk ke arah Pabean. Mobil itu melaju dari besar dan berhenti di tengah- tengah toang. Salah seorang yang turun dari motor terlihat langsung memberikan komando dalam senyap, sebelum merangsek ke pematang sawah, orang-orang itu memberi sikap hormat kepada sang pemberi komando.

Setelah hampir dua jam membabad tanpa henti, salah seorang di antara mereka tiba-tiba tersungkur ke lumpur, wajahnya terlihat sangat pucat, detak jantungnya tidak normal, dan akhirnya tidak sadarkan diri. Karena kejadian itu, seluruh pasukan ditarik mundur dan mereka semua kembali ke jalan besar, meninggalkan kerusakan yang tak pernah dapat dimaafkan.

Setelah malam itu, sebagian besar sawah di Pabean rusak porak-poranda, gubuk-gubuknya habis terbakar, rumah Ustad Subhun mendapat teror bangkai kepala tikus, rumah Fatimah dikirim bangkai kepala ayam, lantai musala dicoret-coret dengan tulisan ”JAMAAH SESAT, MUSUH NEGARA!”

***

Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian