Pekalongan – Komunitas Gusdurian Pekalongan menggelar forum diskusi rutin bertajuk Jagongan Pemikiran Gus Dur (JPG) di Monumen Juang Kota Pekalongan pada Selasa (11/8/2026).
Kegiatan yang digelar sebagai bagian dari peringatan hari lahir (harlah) Gus Dur ini menghadirkan sejumlah penggiat komunitas untuk mendalami serta merawat nilai-nilai pemikiran Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid.
Monumen Juang Kota Pekalongan sendiri memeiliki nilai historis yang dikaitkan dengan perlawanan kepada Jepang pada 3 Oktober 1945. Melalui suasana santai dan terbuka, forum diskusi ini membuka pintu bagi siapa saja terutama generasi muda lintas latar belakang untuk bertukar pikiran tanpa sekat. Kehadiran ruang dialog warga semacam ini dinilai krusial untuk merawat toleransi, memperkuat rajutan kebangsaan, sekaligus mencegah potensi polarisasi sosial di tingkat akar rumput.
Forum JPG rencananya akan digelar secara konsisten setiap dua pekan sekali. Menurut Presidium Komunitas Gusdurian Pekalongan, Amir Muzaki, inisiasi forum ini tidak hanya dimaksudkan sebagai ruang kaji reflektif, melainkan juga untuk memperkuat konsolidasi gerakan bersama jejaring masyarakat sipil di Kota Pekalongan.
“Kami menggagas forum ini salah satunya juga untuk konsolidasi gerakan bersama jejaring masyarakat sipil,” ujar Amir, Selasa (11/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa JPG diharapkan menjadi wadah untuk mengontekstualisasikan gagasan-gagasan Gus Dur dengan kondisi kekinian. Menurutnya, pemikiran Gus Dur tentang keberagaman, demokrasi, dan kemanusiaan masih sangat relevan untuk terus dikaji di tengah dinamika kebangsaan saat ini.
“Keberagaman menjadi topik yang masih relevan untuk terus dikaji lebih dalam. Dinamika kebijakan perlu terus dikawal agar sejalan dengan Bhinneka Tunggal Ika,” tegas Amir.
Amir berharap JPG bisa tetap istikamah dilaksanakan. Menurutnya, konsistensi ini penting bukan sekadar sebagai rutinitas belaka, melainkan sebagai upaya merawat dan meneruskan nilai, pemikiran, dan keteladanan (NPK) Gus Dur kepada generasi penerus bangsa.
Senada dengan Amir, Penggerak Inti Komunitas Gusdurian Pekalongan, Ihza Maulina, menambahkan bahwa forum ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk memahami secara utuh sembilan nilai utama yang diajarkan Gus Dur. Ia berharap JPG tidak hanya berhenti sebagai kegiatan diskusi biasa, melainkan mampu mendorong aksi nyata di masyarakat.
“Kami ingin JPG menjadi ruang pemahaman yang tidak hanya teoretis, tetapi juga aplikatif. Nilai-nilai keteladanan Gus Dur harus hidup dalam keseharian kita,” ungkap Ihza. (SDH)
Penulis: Muhamad Nurul Fajri (GUSDURian Pekalongan)