Sastra

Stempel Basah

Oleh: Hari Purnomo

SAAT sertifikat diserahkan, Ibu Ratna berbisik pada Pak Wirya, “Pak, poin di sertifikat ini cukup kan untuk masuk SMP Unggulan itu?” Pak Wirya hanya bisa mengangguk pelan.

Matahari tumbang di ufuk barat, warnanya merah merona seperti tinta stempel baru. Pak Wirya duduk di pendopo sanggarnya, tempat ia melatih anak-anak berkesenian. Sanggarnya multi fungsi, sekaligus menjadi tempat usaha Catering dan Laundry. Semua pejabat menjadi pelanggan setianya. Bisnis Laundry pak Wirya dikenal di seantero negeri Mimikri karena bisa mencuci bersih segala noda di baju pejabat.

Sorot mata dan lebat kumis licin menjadi ciri khas kesenimanan pak Wirya. Sore itu, ia menatap barisan anak- anak kecil berpakaian batik yang berdiri tegak serupa maneken di depannya.

“Pak Wirya,” suara Ibu Ratna menggema di udara pengap.

“Bejo tidak perlu belajar praktik Sembah Pangabekti. Cukup ajarkan memegang keris yang benar agar terlihat gagah saat difoto. Panitia Penerimaan SMP Unggulan hanya melihat hasil foto dan nilai sertifikat untuk menambah poin, jadi jangan lama-lama,” cetusnya.

Pak Wirya terdiam. Ia teringat kata kakeknya, memegang keris itu memegang harga diri manusia yang berintegritas.

Sekarang, harga diri harganya sama dengan selembar kertas fotokopi.

Orang-orang berdatangan membawa map plastik, fotokopi akta, harapan, kecemasan, juga wajah-wajah kusut. Mereka duduk memandangi dinding sanggar yang dipenuhi foto-foto lama. Foto Pak Wirya saat muda, pementasan wayang orang, hingga mantan murid yang sekarang menjadi orang hebat seperti camat dan pengurus dewan kesenian.

Anak-anak kecil terus berdatangan dengan rambut disisir rapi dan bedak di pipi. Mata mereka menatap kosong, bergerak mengikuti aba-aba kamera telepon genggam para orang tua.

Pak Wirya hafal tipe orang tua yang datang, membawa oleh-oleh, proposal kegiatan budaya, cerita sedih, hingga wajah penting pejabat. Semuanya berujung sama: mereka membutuhkan sertifikat.

Sertifikat menjadi lebih sakral dibanding gerakan tari. Kertas lebih penting dibanding latihan. Pak Wirya merasa dirinya bukan pelatih kesenian. Ia seperti pegawai loket. Bunyi stempel di atas kertas terdengar lebih ritmis.

Plok-Plok-Plok.

Seperti suara sandal jepit menghantam nyamuk. Dalam tidurnya ia sering mendengar bunyi stempel memukul jidatnya sendiri.

Plok-Plok-Plok.

***

Suatu malam listrik padam. Pendopo tenggelam dalam gelap. Pak Wirya duduk sendirian memandangi tumpukan sertifikat. Angin malam membawa bau got dan bunga kamboja. Ia teringat masa kecilnya, belajar menari sebab takut sekaligus hormat pada gurunya. Takut sekaligus hormat. Setiap gerakan adalah rangkaian kehidupan, dan keris adalah simbol harga diri manusia.

Pak Wirya mengusap wajahnya perlahan. Tangannya masih bau tinta stempel yang tidak hilang meski dicuci memakai deterjen laundry miliknya.

Pagi berikutnya antrean semakin panjang. Seseorang datang membawa anak kembar, MOU, nasi kotak, dan amplop coklat yang lumayan tebal.

Pendopo sanggar mulai terasa seperti kantor dinas. Orang- orang berbicara pelan sambil saling melirik. Anak-anak duduk bermain game di telepon genggamnya. Tidak ada yang melihat gamelan atau memperhatikan lukisan penari tua di dinding.

Seekor anak cicak jatuh di atas sertifikat berstempel basah dan baunya masih fresh. Anak kecil tertawa melihat cicak bergoyang sebelum ibunya menarik tangannya. Pak Wirya merasa cicak itu lebih hidup dibanding seluruh pertunjukan hari itu.

Sore hari hujan deras merembes masuk hingga tinta sertifikat meleber merah seperti darah. Pak Wirya panik menjemurnya dengan kipas angin, dibantu orang tua memakai pengering rambut. Pemandangan ganjil itu menyelamatkan sertifikat seperti bayi prematur, tanpa memedulikan anak-anak yang belum makan. Pak Wirya tertawa kecil, ketakutan sendiri. Negeri Mimikri memang sibuk merawat cap. Mereka percaya hanya pada selembar kertas.

Malamnya Pak Wirya membuka lemari tua kakeknya. Di dalam, sebilah keris kusam dibungkus kain lurik tersimpan. Ia membuka kain itu perlahan. Debu beterbangan dan bau besi tua menyeruak seperti makam baru dibongkar. Pak Wirya menatap keris itu lama dalam tatapan dingin, merasa leluhurnya tak mengerti kenapa cucunya menjadi tukang stempel. Di luar, mesin laundry berputar dengan dengung seperti mantra kutukan dari perut negeri yang lapar.

Pak Wirya terhenyak, membayangkan seluruh negeri Mimikri antre membawa map plastik bening. Presiden hingga tukang parkir meminta stempel merah supaya dianggap layak. Tidak ada yang percaya pada kemampuan diri sendiri dan proses. Semua takut gagal, takut tersingkir, takut anaknya tidak masuk sekolah unggulan, dan takut terlihat biasa.

Pak Wirya memegang keris erat dengan tangan gemetar dan dada sesak. Ia merasa pendopo berubah menjadi pabrik. Anak-anak menjadi produk siap saji. Orang tua menjadi sales marketing, dan dirinya menjadi mesin cap yang bisa makan dan buang air besar.

Lampu neon berkedip-kedip.

Seekor ngengat menabrak bohlam sampai jatuh ke meja sertifikat. Pak Wirya memandanginya lama. Sayapnya gosong sedikit, namun makhluk sekecil itu masih berusaha hidup, sedangkan manusia di negeri Mimikri sibuk mencari cap supaya dianggap hidup.

***

Suatu pagi di pendopo sanggar Pak Wirya, orang datang silih berganti menunggu giliran. Semua mata mengamati Bejo yang bergerak seperti mesin kekurangan pelumas, kaku tanpa penghayatan. Ia berhenti saat ibunya berteriak “Cekrek!”

“Bagus, Bejo! Tahan posisi. Lihat kamera, senyum sedikit”, perintah ibunya, dan, “Cekreeek!”

Bejo menurut saja, seperti robot dibungkus kain jarit yang fokus pada layar ponsel ibunya, tidak sedang menari atau memerankan ksatria. Anak-anak lain pun sama, berbaris rapi menunggu giliran.

Pak Wirya berkali-kali menghela napas, mencoba mengelabui otaknya bahwa ia tidak berbuat jahat. Ia hanya menjual jasa demi modal bisnis Catering dan Laundry-nya, tanpa menghiraukan kata hatinya.

“Pak Wirya,” Ibu Ratna mendekat, suaranya merendah halus, “saya sudah transfer uang. Pastikan di sertifikat tertulis ‘Lulus dengan Predikat Cumlaude’ untuk poin zonasi sekolah anak saya.”

Pak Wirya memandang layar ponsel Ibu Ratna. Wajah Bejo membeku dalam pose ksatria, tangan menggenggam keris. Hasil fotonya sangat bagus, kain jaritnya mahal, kerisnya angker, wajahnya berwibawa, namun tubuh anak itu tetap kosong seperti kardus.

Pendopo menjadi panas, keringat mengalir, dan bedak di pipi anak-anak mulai retak bercampur bau nasi kotak. Suara gamelan dari pengeras suara terdengar hambar, tanpa nuansa jiwa. Tiba-tiba seorang laki-laki tua masuk. Tubuhnya kurus, kemejanya lusuh, dan matanya tajam sekali. Orang-orang menoleh sambil lalu, kembali sibuk pada urusannya sendiri.

Pak Wirya lamat-lamat mengenali wajah itu, dadanya seperti dipukul alu. Itu Pak Sastro, guru lamanya yang dulu mengajarinya menari sampai lututnya bengkak. Pak Wirya mendadak gugup. Kumisnya terasa gatal. Tangannya otomatis merapikan kerah baju.

Pak Sastro duduk di lantai tanpa permisi, mengamati antrean. Kamera tetap berbunyi, CekrekCekrek. Pak Sastro memandang Bejo yang memegang keris.

“Keris sekarang ringan sekali,” katanya.

Ibu Ratna tersenyum kaku, “Ini keris anak-anak, Pak.”

Pak Sastro mengangguk, “Pantas.”

Suasana mendadak terasa dingin. Pak Sastro mendekati Bejo, mengangkat dagunya perlahan.

“Kamu tahu kenapa orang dulu membawa keris?” Bejo diam. Ibu Ratna menjawab, “Buat melestarikan budaya, Pak.” Pak Sastro tertawa kecil, pendek dan kering seperti ranting diinjak.

“Buat menjaga diri supaya tidak berubah jadi binatang,” kata Pak Sastro.

Suara mesin laundry mendengung panjang. Ibu Ratna tersenyum dipaksakan, “Sekarang zamannya sudah berubah, Pak.” Pak Sastro mengangguk.

“Ya. Sekarang manusia memang lebih suka jadi binatang.” Orang tua mulai gelisah. Pak Wirya ingin menghentikan pembicaraan, tapi lidahnya terasa berat. Pak Sastro berjalan pelan menyentuh tumpukan sertifikat di meja, mengambil satu lembar. “Cumlaude,” ia tertawa lagi.

“Menari berapa tahun anak ini?” Pak Wirya menunduk, “Dua minggu.”

Pak Sastro mengangguk pelan seperti dokter yang baru mendengar hasil rontgen pasien stadium akhir.

Di luar pendopo terdengar klakson mobil. Ibu Ratna bergerak cepat memasukkan kertas ke map plastik. Pak Sastro melihatnya tanpa berkedip.

“Kalian lucu sekali…”

Tidak ada yang menjawab.

“… menyekolahkan anak supaya pintar berbohong sejak kecil.”

Ibu Ratna menyahut, “Semua orang juga begitu.”Pak

Sastro mengangguk.

“Nah. Itu lebih lucu.” Pak Wirya merasa tengkuknya dingin, seolah seluruh pendopo menyorot dirinya. Padahal hanya ada anak-anak, orang tua, sertifikat, dan bunyi kamera.

Pak Sastro mendekati gamelan tua, memukul kendang perlahan.

Dung

Bunyi pendek menggema, terasa lebih hidup dibanding seluruh kegiatan pagi itu. Bejo menoleh, matanya bergerak untuk pertama kali. Pak Sastro memukul lagi.

DungDung

Anak-anak lain ikut melihat.

Suasana berubah seperti telaga yang mulai pasang. Pak Sastro berhenti, menunjuk Bejo.

“Kamu. Jalan ke sini.”

Sempat ragu, Bejo mendekat dengan kaki kaku seperti robot. Pak Sastro memegang bahunya.

“Pernah lihat ayam dipotong?” Bejo mengangguk.

“Nah. Orang menari tanpa rasa juga begitu. Badannya bergerak. Jiwanya sudah mati.” Ibu Ratna tertawa gugup.

“Namanya juga anak-anak, Pak.” Pak Sastro menoleh cepat.

“Justru sebab anak-anak.”

Pak Wirya memandangi wajah gurunya yang lelah dengan keriput seperti sawah kering, namun matanya tetap menyala. Ia merasa hidupnya dibuka seperti cucian kotor di laundry miliknya, tangannya gemetar. Pak Sastro mengambil stempel merah, melihatnya lama, lalu mencium baunya.

“Tinta zaman sekarang harum…”

Orang-orang saling pandang. Pak Sastro tertawa lagi. “…dulu bau perjuangan, sekarang bau parfum ruangan,” katanya sambil menaruh stempel itu kembali.

Di luar hujan turun mendadak. Orang tua buru-buru menyelamatkan map, memeluk erat sertifikat sementara anak- anak dibiarkan kehujanan.

Pak Wirya memandang dengan dada sesak. Sebelum pergi menembus hujan lebat hingga tubuh kurusnya kabur, Pak Sastro berhenti sebentar.

“Kesenian tidak pernah mati…”

Orang-orang diam.

“…yang mati rasa malu yang menyertainya.”

Pak Sastro pergi menembus hujan yang semakin lebat.

Tubuh kurusnya semkain jauh. Semakin kecil dan kabur. Terdengar suara kamera lagi, Cekrek. Cekrek. Tak lama, satu persatu, mereka pergi.

Sepi ganjil menyelimuti pendopo. Pak Wirya melangkah ke ruang dalam sementara lampu neon berdengung seperti lebah gelisah. Di atas meja tua, bertumpuk kertas putih menunggu. Pak Wirya memegang stempel kayu ber-karet aus. Plok. Satu sertifikat untuk anak yang tidak tahu beda pelog dan slendro.

Plok

Satu untuk anak yang menangis ingin bermain bola.

Plok

Satu untuk Bejo.

Plok

Satu tanda validasi untuk dirinya, pensiunan yang menjadi juru stempel bagi ambisi orang lain.

Nama demi nama lewat tanpa wajah, semua seperti fotokopi yang diperbesar. Sertifikat menjadi barang produksi dan kesenian berubah menjadi cap legalitas.

Lampu neon berdengung makin keras bagai ribuan nyamuk. Pak Wirya mengusap matanya yang kabur melihat tinta merah bergerak seperti cacing. Wajah Pak Sastro muncul di kepalanya.

“Kesenian tidak pernah mati.”

Pak Wirya menunduk, tangannya gemetar.

Plok

Cap berikutnya meleset. Tinta merah membekas setengah miring, membuat tulisan ‘Cumlaude’ tampak seperti luka sobek.

Pak Wirya terdiam sesak melihat pantulan wajahnya pada kaca lemari tua. Mata cekung dan dahi bergaris seperti jalan kampung yang retak. Ia tampak seperti pegawai kelurahan yang lupa jalan pulang. Di luar hujan mereda, membawa bau tanah basah yang membuat ruangan terasa dingin.

Di negeri Mimikri, tinta stempel jauh lebih sakti dibanding peluh latihan. Orang-orang mencari bukti cetak, bukan makna. Sedangkan kesenian tetap hidup seperti ngengat menabrak lampu, luka, terbakar, jatuh, bangkit lagi.

Tinta merah basah di bawah neon pucat tampak seperti darah dan nanah dari luka kesenian yang ia jaga berpuluh- puluh tahun. Sesekali ia coba mennghibur diri. Mengelabuhi otaknya sendiri.

Geliat kesenian dan kebudayaan sedang bersemi. Di negeri Mimikri, keduanya tumuh dalam laci birokrasi, terjepit di antara nilai rapor dan persyaratan zonasi.

***

Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian