Peristiwa

GUSDURian Mojokutho Sentil Pemerintah: Ekonomi Lesu, Birokrasi Masih Ribet

KEDIRI – Saat di sela-sela Perayaan HUT RI ke-81, GUSDURian Mojokutho Pare Kediri persoalkan nasionalisme pemerintah. Lesunya ekonomi dan ribetnya birokrasi masif terjadi di akad rumput, hal itu dinilai jauh panggang dari api cita-cita kemerdekaan.

Koordinator Jaringan GUSDURian Mojokutho Pare Kediri, Anugerah Yunianto menyampaikan, seremoni hingga slogan peringatan kemerdekaan setiap Agustus berhenti di mulut. Padahal manifestasi nasionalisme ada dalam laku, sikap dan tutur.

“Meski pemerintah memilih jalan seperti itu, silahkan saja. Walau begitu, kami tetap hormat kepada NKRI dengan mencintai segala cara tentang negara kesatuan ini jalani,” papar Anugerah Yunianto, Rabu (19/8/2026) menjelang malam.

Pria yang akrab disapa Antok Mbeler ini menyebut, nasionalisme versi pemerintah belum dirasakan masyarakat. Menilik ekonomi, perputaran perdagangan dan aktivitas bisnis belum sepenuhnya baik, mulai dari semrawutnya pajak dan aturan birokrasi berbelit.

Menurut Antok, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa nasionalisme tidak boleh berhenti sebagai jargon. Pemerintah dan masyarakat, kata dia, harus memiliki peran masing-masing dalam memperbaiki kondisi bangsa.

“Pemerintah telah menunjukkan perkembangan dalam kerja-kerja sosial. Tapi, persoalan birokrasi harus terus dibenahi agar pelayanan publik maupun gerakan kemanusiaan tidak terhambat prosedur yang rumit. Ini yang terpenting,” jelas dia.

Ia menegaskan, pemerintah bukan satu-satunya yang bertanggungjawab atas berbagai persoalan, melainkan komunitas dan kelompok masyarakat harus tetap mengambil bagian melalui tindakan nyata, bahkan kolaboratif apabila diperlukan.

Lebih lanjut, Antok menilai, masyarakat di tingkat bawah pada dasarnya tidak membutuhkan banyak slogan. Yang mereka lihat adalah hasil dari kebijakan dan tindakan yang secara langsung memberi manfaat.

Berangkat dari hal tersebut, GUSDURian Mojokutho Pare mendorong adanya sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, komunitas, lembaga sosial, dan masyarakat. Kerjasama tersebut penting guna mempercepat penyelesaian persoalan yang dihadapi warga.

“Prinsipnya adalah kemanusiaan. Apabila mempermudah nilai-nilai kemanusiaan, mempermudah rakyatnya, dan mempermudah menuju kesejahteraan bersama, sudah barang pasti harmoni kedamaian dan kemanfaatan terjadi,” pungkas Antok Mbeler.

Sebagai informasi, Semarak HUT RI ini dilaksanakan di Rumah Lansia GUSDURian Mojokutho Pare Kediri. Di sana, Komunitas seperti Akar Kasih Indonesia dan GUSDURian menghelat Lomba Mancing dan Lomba Anak-anak dengan peserta dari Kampung Kongan.

Rumah Lansia sendiri telah bergerak di bidang pendampingan sosial sejak sekitar 2008. Gerakan itu bermula dari pendampingan terhadap anak-anak yang membutuhkan perhatian sebelum kemudian berkembang hingga menyasar kelompok lansia. (SDH)

Muhammad Agung Prayoga

Jurnalis. Penggerak Komunitas GUSDURian Jepara, Jawa Tengah.