Peristiwa

Mubes Warga NU Seblak Adalah Ruang untuk Kegelisahan Bersama

Jombang – Halaman Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Seblak menjadi ruang tamu warga Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah. Musyawarah Besar Warga NU 2026 dibuka dengan lantunan Surah Ali Imran ayat 103, ajakan untuk berpegang teguh pada “tali Allah”, dan untuk mengingat bahwa persaudaraan adalah nikmat yang pernah nyaris hilang sebelum akhirnya dipersatukan.

Meski ada sedikit kendala teknis pada saat pemutaran instrumen lagu ”Indonesia Raya”, hadirin tetap menyanyikannya tanpa musik pengiring, disambung dengan ”Yalal Wathon”. Ketua Panitia Ning Ema Rahmawati memberikan sambutan kepada hadirin, sekaligus meletakkan fondasi penting keseluruhan forum bahwa Mubes ini bukan bagian dari Muktamar dan memang sengaja diniatkan bukan sebagai forum struktural.

“Musyawarah Besar Warga Nahdlatul Ulama merupakan wadah untuk menyampaikan kegelisahan bersama,” tutur Ning Ema.

Pasalnya, pengakuan bahwa ada kegelisahan yang perlu disampaikan sesungguhnya adalah bukti bahwa dimensi-dimensi struktural yang ada belum sepenuhnya mampu menjadi ruang aspirasi. Tentunya, musyawarah ini hendak memastikan bahwa suara dari akar rumput memiliki hak untuk didengar, kemudian diperjuangkan secara bersama-sama, sehingga yang ada di jajaran struktural pun bisa turut menopang.

Menarik untuk menelisik lebih dalam diksi sambutan Ning Ema, bahwa siapa pun yang hadir dalam forum ini duduk bersama sebagai sesama jemaah NU, dari pagi hingga sore, untuk memperbincangkan bagaimana baiknya NU itu. Sikap egaliter perlu dibangun sejak kalimat pembuka bahwa “siapa pun yang hadir, entah seorang kiai sepuh atau santri, punya kedudukan yang sama untuk bicara dan didengarkan.”

Sambutan ini setidaknya menyiratkan kesan bahwa seyogianya merawat organisasi Nahdlatul Ulama menjadi tugas bersama, tidak terbatas pada struktur. Hal ini dimulai dari keberanian untuk jujur mengakui adanya kegelisahan dan keteguhan untuk memperjuangkan bersama-sama. Memastikan bahwa tak ada suara yang tertinggal adalah satu langkah penting untuk mendorong rasa integritas tersebut.

Rangkaian Forum Kelompok Mubes Warga NU

Usai sesi pleno pada pagi hari, Mubes Warga NU 2026 dilanjutkan dengan kerja kelompok yang terbagi dalam empat forum pembahasan hingga sore hari. Forum Mbah Wahab berfokus mendalami isu kemandirian NU, demokrasi, dan kemaslahatan jamaah di bawah panduan fasilitator Suraji serta notulis Ubaidillah Fatawi. Sementara itu, isu sensitif seputar politik uang, integritas, serta demokrasi internal NU dibedah dalam Forum Mbah Bisri yang difasilitator Marzuki Wahid bersama notulis Ayu.

Di komisi lain, Forum Mbah Wahid yang dipandu Ahmad Hakim Jayli dan notulis Firda Ainun merumuskan penguatan kewargaan NU, mengubah orientasi dari sekadar jamaah pasif menjadi gerakan warga yang berdaya. Adapun isu keperempuanan dan keadilan gender menjadi bahan diskusi mendalam di Forum Mbah Khoiriyah bersama fasilitator Nur Rofiah dan Iklilah serta notulis Ubai Rauf.

Seluruh rumusan dari keempat forum kelompok tersebut kemudian dirangkum dengan panduan dari masing-masing fasilitator. Hasil kesepakatan akhir tersebut selanjutnya disampaikan secara resmi kepada publik lewat sesi konferensi pers di kompleks Pesantren Seblak, Jombang. (SDH)

Hana Rusmalia

Penggerak GUSDURian Jogja