Oleh: Poppy Trisnayanti
DENGAN kaki sedikit gemetaran, anak lelaki sembilan tahun itu mendekati empat sebayanya yang sedang berjongkok dekat parit. Kedua saku celananya basah dan semakin dekat dengan keempat sebayanya itu ia makin tersenyum lebar.
“Ssst…. Yohan…. Yohan….” bisik keempat sebayanya itu sambil saling menyikut pelan. Rasa curiga itu seperti merambat pelan.
Yohan pun membungkuk sedikit, merogoh kedua saku celananya dengan gemetar yang ternyata karena kedinginan. Empat es lilin dikeluarkannya dari saku. Ukuran plastik kira- kira sepanjang telapak tangannya dengan karet merah mengikat di ujung.
Tanpa ucapan terima kasih, keempat sebayanya itu langsung meraih es lilin. Buru-buru mereka membukanya sambil menyodorkan gundu-gundu yang bertebaran di jalanan kampung pada Yohan. Dengan wajah berbinar, Yohan mulai menyentil beberapa buah gundu.
Satu dari empat anak lelaki yang sudah menerima es lilin itu nampak terdiam kemudian dan memandang Yohan. Ia tidak pernah mengerti kenapa Yohan bermata sipit dan berkulit terang, pun Nenek dan Mamanya. Pula ia tidak mengerti kenapa dirinya berkulit coklat, pun Emak dan teman-teman yang biasa bermain gundu dengannya.
Namun sambil menggigit es lilin di gigi bagian samping, anak lelaki itu mulai mengikuti Yohan, menyentil beberapa buah gundu, bertukar senyum beberapa kali hingga teriakan Mama Yohan membuyarkan acara bermain mereka sore itu. Ia belum sempat memperkenalkan diri sebagai Aliman, ya… namanya Aliman. Ini bukan kali pertama Yohan datang membawa es lilin namun mereka belum pernah benar-benar saling sebut nama.
Teriakan Mama Yohan jelas seperti perintah untuk lelaki kecil itu segera balik badan dan pulang. Saku celana tempatnya menyimpan es lilin pun belum kering benar. Dilihat Aliman dan ketiga temannya, pintu samping rumah Yohan kelihatan terbuka, Mamanya menunjuk-nunjuk saku bajunya dengan kemarahan yang berpendar terus di wajah.
“Besok lagi ya, siapa pun namamu!” teriak Aliman disusul lambaian tangan Yohan yang buru-buru.
***
Rumah Yohan tentu beda dari rumah Aliman dan sebagian warga kampung lain. Jika sebagian besar rumah warga kampung hanya punya satu pintu dan lagi tanpa pagar, maka rumah Yohan beda.
Rumah itu punya pagar dengan jarak antara besi satu dengan lainnya yang terlihat rapat. Meski demikian, anak-anak di kampung senang sekali sengaja memanjat pagar itu, mengintip Mama Y ohan yang sedang menyiram tanaman disertai teriakan dan selang air yang mengarah pada mereka. Jika sudah begitu, anak-anak itu bakal lari tunggang langgang sambil tertawa-tawa.
Siraman air dan teriakan Mama Yohan, nyatanya tidak membikin anak-anak itu kapok. Di hari-hari yang lain, mereka tetap melakukan hal serupa, memanjat pagar, mengintip Mama Y ohan menyiram tanaman. Hanya di waktu-waktu yang demikian saja mereka bisa melihat wajah Mama Yohan sedikit jelas.
Hal ini tentu beda dengan Emak Aliman yang dalam seminggu setidaknya sekali berpapasan dengan Mama Yohan saat mencegat pedagang sayur. Biasanya, pedagang sayur akan dicegatnya lewat pintu samping. Sapaan basa-basi Emak pun hanya dibalas lirikan tajam Mama Y ohan. Setelah selesai belanja, buru-buru Mama Yohan masuk rumah kembali lewat pintu samping sambil menutup gorden dan mengintip sedikit ke arah luar.
Kata Emak, keluarga Yohan tidak perlu mencegat pedagang sayur saban hari atau bahkan pergi ke pasar juga saban hari seperti mereka. Karena masih kata Emak, Mama Yohan punya lemari pendingin yang bisa membuat makanan awet berminggu-minggu. Maka lemari pendingin itu pula yang dipahami Aliman tentu mampu membikin es lilin yang biasa dibagikan Yohan padanya dan teman-teman.
***
“Ssst…. Yohan…. Yohan….” Bisik anak-anak yang sedang bermain gundu. Kali ini ada enam orang dan rasa curiga itu tetap merambat pelan.
Yohan datang lagi. Tentu dengan dua saku celananya yang basah dan kaki gemetar tanda kedinginan. Lagi-lagi ia membawa es lilin yang dibagikan pada berapa pun anak-anak di kampung yang tengah bermain gundu.
Dan ketika anak-anak lain menerima es lilinnya saja lantas mengabaikan Yohan, tentu saja Aliman lagi yang mengajaknya bermain gundu hingga puas mereka tertawa-tawa. Entah bagaimana mereka sudah bertukar nama dan Aliman menganggap Yohan jago sekali bermain gundu, pun tidak pernah curang hingga sebetulnya tanpa anak lelaki berambut lurus itu membawa es lilin pun, Aliman berani menjamin dirinya akan tetap mau bermain bersamanya.
Lemari pendingin sendiri tidak umum dimiliki warga kampung. Jika sesekali hendak bikin minuman dingin, anak- anak disuruh emak-emak mereka pergi ke pabrik es berjarak dua kilo dekat kali. Kabarnya, air untuk es dipompa langsung dari kali dan belum ada keluhan sakit perut hingga hari ini. Jadi kehadiran Y ohan, betul-betul ditunggu anak-anak yang bermain gundu di sore hari untuk bisa sering-sering minum es.
Meski jika ketahuan Emak menerima es lilin dari Yohan, Aliman pasti bakal mendapati dirinya menelan kalimat-kalimat yang menyentak dan dipaksa membuang es lilin yang baru ia buka plastiknya. Aliman tidak mengerti, sungguh-sungguh tidak mengerti.
Selepas bermain gundu dan setelah azan Ashar pun, Yohan tidak terlihat berlari terbirit-birit buat segera kembali ke rumah, mandi dan pergi mengaji ke mushola. Pernah Aliman coba bertanya pada Emak kenapa Yohan berbeda, namun Emak hanya menjawab, keluarga lelaki kecil itu bukan orang benar.
***
Bisik-bisik di kampung mengatakan, kakek buyut dari keluarga Yohan ditangkap tentara saat 1965. Tentu itu masa yang jauh sebelum mereka pindah di kampung itu. Bisik-bisik itu tidak pernah bisa ditanyakan langsung pada keluarga Y ohan karena bagaimana pun kampung itu punya hajat, termasuk perayaan Tujuh Belas Agustus, Mama dan Nenek Y ohan hanya mengintip lewat gorden di pintu belakang. Sesekali mata Nenek Yohan terlihat ketakutan saat arak-arakan karnaval memerankan pria-pria dewasa berbaju loreng.
Tapi selain anggapan keluarga Yohan dikatakan tidak benar sekaligus aneh, tidak ada kata-kata lain yang menjelaskan bagaimana Mama dan Nenek Yohan terlihat selalu menatap curiga pada siapa saja yang melintas di depan pagar rumah. Hingga permintaan sumbangan Tujuh Belas Agustus pun oleh Pak RT selalu dikecualikan bagi keluarga Yohan.
Pernah juga terlihat beberapa orang keluar masuk rumah keluarga Yohan. Mereka berkulit terang dan sama bermata sipit, entah kerabat atau teman. Dan dengan demikian, keluarga Y ohan makin dianggap orang-orang kelewat sombong, bahkan kelewat pilih-pilih etnis ketika berkawan.
Anggapan-anggapan ini juga, yang membuat anak-anak di kampung hanya mau mendekat saat Yohan membawa es lilin. Jadi ketika dalam beberapa sore Yohan sedang gagal membawa es lilin karena lemari pendingin sedang diawasi Mamanya, hanya Aliman yang mau berjongkok sambil mengajaknya menyentil-nyentil gundu hingga adzan ashar tiba.
Sore itu pun nyaris sama. Sekali lagi Yohan gagal membawa es lilin. Kedua kantung celananya tidak terlihat basah dan lagi-lagi hanya Aliman yang langsung berjongkok mendekatinya, menawarkan gundu-gundu yang dirinya bawa. Empat sebayanya yang lain terlihat mengamati mereka berdua.
Bagaimana Yohan dan Aliman bergerak, juga bagaimana gundu-gundu itu bisa buyar dengan sekali sentil dengan jari- jari Yohan, lama-lama membikin empat sebayanya itu saling sikut dan berkata, “Sssst…. Yohan…. Yohan….” Bisikan yang biasanya hanya mereka lontarkan saat kecurigaan merambat pelan. Namun kini, bisikan itu terlontar ketika para sebayanya itu baru menyadari betapa lihai Yohan bermain gundu.
Lama-lama, dua di antara mereka menawarkan gundu dengan menggesernya ke tempat Yohan berjongkok. Mereka pula coba-coba meniru cara Y ohan menyentil gundu.
Kegagalan mereka meniru gerakan jari-jari Yohan justru membuat mereka saling tertawa. Para sebayanya itu mulai bertanya-tanya mengapa bapak ibu mereka bilang Yohan dan keluarganya bukan orang benar. Karena justru bagi mereka, anak lelaki berwajah bulat itu justru adalah si ahli bermain gundu, hanya itu.
Kelak di hari-hari yang lain, entah dengan membawa es lilin maupun tidak, dimana pun Yohan berjongkok, di situ pula para sebayanya turut. Mereka sama-sama menyentil gundu sambil tertawa-tawa. Hingga adzan ashar tiba lantas Aliman berteriak, ”Besok lagi ya, Han!”
Jika sudah demikian, Y ohan mengiyakan saja sambil melambai, berteriak balik, lantas berlari masuk rumahnya.
***
“Ssst…. Yohan…. Yohan….” bisik tujuh sebayanya, kali ini dengan riang.
Yohan sekali lagi gagal membawa es lilin. Ia bilang, sore itu mamanya berjaga terus di dekat kulkas. Masih menurut Yohan, mamanya bilang dalam es lilin ada satu bahan yang hanya keluarga atau tamu tertentu saja yang boleh minum sedang anak-anak di kampung utamanya yang pergi ke mushola tidak boleh. Yohan tidak mengerti, sungguh-sungguh tidak mengerti mengapa teman-temannya tidak boleh turut minum.
Meski demikian, tanpa es lilin, Aliman, Yohan dan tujuh sebaya mereka langsung saja berbaur. Mereka saling menunjukkan motif gundu yang unik bagi satu sama lain. Mereka pula, kembali menyentil gundu bersama dan berencana selesai bermain seperti biasa sampai saat adzan ashar tiba.
Namun hari itu beda, adzan ashar belum tiba sedang Mama Y ohan terlihat berkacak pinggang di depan pintu samping. Kali ini tanpa tatapan marah atau teriakan, hanya raut ketakutan yang ada. Yohan pun buru-buru masuk lewat pintu samping dan terdengar suara mobil dari pagar depan. Aliman bersama ketujuh sebayanya memberesi gundu sambil berteriak, “Besok lagi ya, Han!”
Yohan yang biasanya melambai atau berteriak balik, hanya menunduk hingga punggungnya hilang dari balik pintu. Di hari-hari berikutnya, Yohan tidak pernah datang lagi baik sendiri maupun bersama es lilinnya. Aliman setia memandangi rumah Yohan yang pintu sampingnya tidak pernah terbuka lagi hingga hari-hari berikutnya.
Anak-anak di kampung mulai berbisik-bisik soal pagar rumah Yohan yang bertulis PKI. Kata itu ditulis entah oleh siapa dengan cat semprot. Bagi mereka, entah apa arti tulisan PKI namun yang jelas, para emak melarang mendekati rumah itu tiap waktu.
Sedang bagi Aliman, Yohan adalah Yohan. Ia tidak mengerti arti PKI atau apapun itu. Bagi dirinya, Yohan adalah teman yang selalu ia tunggu dengan atau tanpa membawa es lilin.
Ya, selalu.
***
Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.