Jombang – Komunitas Gusdurian Subang memfasilitasi kelas belajar interaktif bertajuk Amal Mangrove pada perhelatan Festival Jagat di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lantai dua Gedung Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafiiyah Seblak ini dikemas melalui ragam permainan edukatif untuk menanamkan kesadaran ekologis kepada para peserta didik sejak dini.
Selama sekitar dua jam, lebih dari 40 peserta didik yang terbagi dalam beberapa kelompok diajak mengeksplorasi pentingnya ekosistem pesisir. Pengetahuan tersebut disampaikan melalui empat permainan yang telah dimodifikasi, yaitu permainan memori (memory games), engklek, ular tangga, dan susun gambar (puzzle).
Fasilitator Komunitas Gusdurian Subang, Ahmad Syifa Sidik, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis permainan dipilih agar penyampaian materi ekologi terasa lebih ramah anak.
“Tujuan utamanya adalah edukasi. Di Subang, sasaran kegiatan kami memang anak-anak sekolah dasar. Karena itu, kami merancang permainan interaktif seperti puzzle dan ular tangga agar mereka dapat memahami fungsi hutan bakau tanpa merasa jenuh,” kata Ahmad.
Antusiasme peserta tampak tinggi sepanjang sesi berlangsung. Ahmad menyoroti permainan susun gambar (puzzle) menjadi yang paling diminati sekaligus menguras pikiran. Gambar visual pada puzzle sengaja dirancang untuk memperlihatkan kondisi lingkungan pesisir serta dampak dari kerusakannya.
“Suasana mainnya sangat ramai dan anak-anak antusias, terutama pada bagian puzzle yang mengasah otak. Di lembaran puzzle ada ilustrasi dampaknya. Jadi, kami mengedukasi anak-anak tentang apa yang terjadi jika bakau rusak dan bagaimana jika tetap lestari,” ujar Ahmad.
Keterlibatan Komunitas Gusdurian Subang dalam Festival Jagat membawa perspektif penting mengenai perlindungan ekologi pesisir kawasan utara Jawa yang rentan terhadap erosi dan ancaman krisis iklim. Pengetahuan mendasar mengenai ekosistem bakau dinilai krusial mengingat peran mangrove sebagai benteng alami pesisir, penahan abrasi, sekaligus penyerap karbon yang efektif dalam menjaga keseimbangan alam.
Festival Jagat menjadi ruang perjumpaan bagi jejaring komunitas dari berbagai wilayah untuk saling berbagi model edukasi lingkungan yang aplikatif. Kehadiran modul belajar berbasis permainan yang diusung para penggerak daerah memperlihatkan bahwa isu lingkungan yang rumit dapat ditransformasikan menjadi narasi ramah anak, sehingga nilai-nilai toleransi dan kepedulian pada semesta dapat tertanam secara alamiah.
Melalui pendekatan interaktif ini, kegiatan Amal Mangrove diharapkan tidak sekadar menjadi hiburan sesaat, melainkan menjadi bekal kesadaran bagi anak-anak untuk menjaga lingkungan di daerah masing-masing. (SDH)